Ngentot Kakak Ipar : Cerita Dewasa

Cerita Dewasa kali ini bukan merupakan cerita seks sedarah namun cukup menarik karena dilakukan oleh adik ipar yang kurang ajar. Uhmmm menurut saya sih sebuah kewajaran, soale kakaknya yang punya istri kok malah melalaikan kewajiban. Ya maka terjadilah cerita mesum itu.

Tubuhnya menegang. “Dede..” ucapnya dengan getaran kenikmatan. Aahh Kurasakan penisku didekap kuat liang Dina. “Ooouuhh,” desah nikmat Dina. Kulihat Dina mulai melemas pasrah. Melihat ini gairahku meningkat seakan tubuhnya santapanku. Nafsuku membuat milikku keluar masuk dengan cepat. Ahh, puncakku disaat penisku masih di dalam liang Dina. Aku tak dapat menahan semburanku karena nikmatnya tubuh Dina. “Ooouuhh..” desah Dina mengiringi setiap semburanku. Milikku kubiarkan tertancap terus.

Sebut namaku Dede, semasa kuliah aku tinggal bersama kakakku Deni dan istrinya Dina. Aku diajak tinggal bersama mereka, karena kampusku dekat dengan rumah mereka, daripada aku kost. Usiaku dengan Kak Deni selisih 5 tahun dan Dina 2 tahun lebih tua dariku.

Karena Kak Deni bertugas di kapal, ia sering jarang di rumah. Sering kulihat Dina kelihatan kesepian karena ditinggal kakakku. Kuhibur dia dan akhirnya kami sering bercanda. Lama-lama Terkesan kalau Dina lebih dekat ke aku dibanding Kak Deni. Karena Kak Deni jarang pulang akhirnya kami sering keluar jalan-jalan. Dan terkadang kami nonton bioskop berdua untuk menghilangkan rasa sepi Dina. Sering Dina dikira pacarku, tentu aku jadi bangga jalan dengannya. Seluk beluk di dirinya membuat mata terpikat dan tak lepas melirik. Keesokan harinya sepulang kuliah kulihat rumah sepi. Sesaat aku bingung ada apa dan kemana Dina. Sesaat kulihat di celah pintu kamarnya ada cahaya TV. Segera kucek apa ia ada di kamar. Kubuka pintunya, sesaat kuterdiam, terlihat di TV kamarnya adegan yang merangsang, sekilas kulihat Dina sedang terlentang dan ia kaget akan kehadiranku. “Maaf Mbak!” sahutku dengan tidak enak.

Lalu kututup pintu kamar dan keluar. Sekilas teringat yang sekilas kulihat tadi. Dina sedang asyik memainkan buah dadanya yang besar dan daerahnya yang indah dengan sebagian kulit yang tak tertutup sehingga memamerkan beberapa bagian tubuhnya. Sesaat beberapa lama di dalam kamar. Rasanya kuingin menonton yang Dina tonton tadi. Lalu kusetel CD simpanan di kamarku. Tampaknya birahiku muncul melihat adegan-adegan itu, sesaat terlintas yang dilakukan Dina di kamarnya. Tubuhnya merangsang pikiranku untuk berkhayal. Akhirnya seiring adegan film aku berkhayal bercinta. Kukeluarkan penisku dan kumainkan. Sesaat aku kaget, Dina masuk ke kamarku. Rupanya aku lupa mengunci pintu. Ia terlihat terdiam melihat milikku. Wajahnya tegang dan bingung. Sesaat kami sama-sama terdiam dan bingung.

“Ma.. maaf, ganggu ya,” tanya Dina dengan matanya yang menatap milikku.
“Eh.. enggak Mbak, a.. ada apa Mbak,” sahutku dengan tanganku yang masih memegang milikku.
“Nggak, tadi ada apa kamu kekamar?” tanya Dina dengan bingung karena kejadian ini.
“Oh itu, sangkain aku rumah kosong, aku nyari Mbak,” sahutku sambil kumasukkan milikku lagi.
“Kamu nonton apa?” tanya Dina lalu melihat film yang kusetel.
“I.. itu.. sama yang tadi,” sahutku dengan isyarat yang ditonton Dina di kamarnya.
Dina terdiam sesaat sambil melihat film.
“Maaf Mbak, boleh pinjem yang tadi nggak?” tanyaku dengan malu.
“Boleh, kenapa enggak?” jawab Dina.
“Mau minjem Mbak.. apa mau nonton di sini?” tawarku kepada Dina.
“Sekalian aja deh, biar rame,” jawabnya.

Adegan demi adegan difilm kami lewati, dan beberapa kali kami mengganti film. Kami juga berbincang dan mengobrol tentang yang berhubungan di film. Mungkin karena kami sering berdua dan bicara dari hati ke hati akhirnya kami merasakan ada kesamaan dan kecocokan. Kami tidak canggung lagi. Rasanya kami sama-sama menyukai tapi kami sadari Dina milik kakakku. Kami akhirnya biasa duduk berduaan dengan dekat. Sering dan banyak film kami tonton bersama. Kami akhirnya mulai sering melirik dan bertatapan mata. Sesaat saat film berputar tanpa kami sadari, tatapan mata kami membuat bibir kami bersentuhan. Tampaknya gairah kami sama dan tak bisa dibendung dan kami tergerak mengikuti iringan gairah dan birahi. Aku pikir ciuman tak apalah, akhirnya bibir dan lidah kami saling bersaing. Nafsu membuat kami terus berebutan air liur.

Beberapa lama kami nikmati kejadian ini, kemudian kami tersadar dan berhenti. Kami hanya bisa diam dalam pelukan. Mata kami tak sanggup bertatapan. Rasanya bingung. Cukup lama kami berpelukan sampai akhirnya kami duduk biasa lagi. Kehangatan tubuh dan sikap Dina memancing birahiku. Beberapa lama kami tak bisa mengeluarkan kata-kata. Perlahan kubuai rambut panjang Dina. Tampaknya ia menyukainya. Perlahan tanganku mengelus pundaknya. Sesaat kami bertatapan lagi. Wajahnya dewasa dan cantik, kurasakan wajah yang mengharapkan sentuhan dan kehangatan. Kurasakan isyarat dari Dina untuk berciuman lagi. Tanpa basa-basi kulahap bibirnya, ahh nikmat rasanya. Bibirnya terasa lembut di bibirku. Lalu dada kami saling berhadapan. Sekilas kulihat buah dadanya yang besar. Lalu kupeluk Dina dengan maksud ingin menyentuh dan merasakan miliknya.

Sesaat kurasakan miliknya di dadaku, besar, empuk dan besar. Perlahan tanganku mengelus-elus pahanya yang lembut dan halus. Sebagai penjajakan kuelus selangkangannya, tampaknya ia menikmatinya. Kurasakan tanganku ia elus sebagai tanda ia menyukainya. Tanpa menunggu aku segera meraba-raba daerah sensitifnya. Sesaat tanganku ia raih dan ia giring ke dadanya. Ahh, akhirnya kurasakan buah dada yang besar di dekapan tanganku. Sesaat kurasakan milikku didekap tangan Dina, ahh rasanya aku menikmatinya. Perlahan tangannya memainkan, nikmat rasanya. Perlahan kulepaskan tangan Dina dari milikku. Kubuka sebagian celanaku sehingga milikku menghunus tegap. Kuraih tangannya dan kuarahkan ke milikku. Sesaat tangannya mendekap milikku, ia mainkan lalu beberapa lama kemudian wajahnya menuju ke milikku dan ia hisap. Ah, lembutnya mulut Dina. Rupanya ia suka menghisap milikku. milikku keluar masuk di mulutnya secara perlahan seiring tangannya yang mengayun-ayun milikku.

Perlahan kuangkat kaosnya sehingga terlihat buah dada yang tertutup bra. Kuraih kaitannya dan kulepas. Perlahan tanganku menyusup di branya lalu meraba dan meremas buah dadanya yang besar, halus dan lembut. Kurasakan putingnya yang kenyal mengeras, dadanya pun mengeras. Lalu tanganku menuju celana pendeknya dan kubuka bersama celana dalamnya. Ahh, indah tubuhnya bila tanpa pakaian dan sangat merangsang. Pinggangnya yang ramping dan pinggul yang lumayan, kulitnya putih bersih dan mulus. Kuelus-elus bokongnya yang halus dan lembut. Pahanya kuraba lalu bulunya dan tonjolan sensitifnya. Seiring hisapannya kumainkan bibir vagina yang sudah basah perlahan jariku masuk ke liang vaginanya. Kurasakan lembut di jemariku, nikmat rasanya.”Dede.. oouuhh..” ucapnya seiring jariku yang tertancap di liangnya. Sesaat kemudian kurasakan gerakan mulut dan nafasnya tambah cepat. Kurasakan air liur Dina membasahi milikku.

Cukup lama mulutnya bermain sampai ku tak tahan menahan maniku. “Mmmhh..” ucap Dina seiring semburanku di dalam mulutnya. Kurasakan mulutnya tetap menghisap milikku, lalu maniku dan terus sampai beberapa lama. Kemudian bibirnya selesai bermain. “Udah De?” sahutnya dengan isyarat apakah aku puas. Aku tersenyum melihat wajah cantiknya yang memucat dan merangsang. Rasanya milikku belum puas masuk di mulutnya. Kemudian ia terbaring dengan jariku yang masih masuk di liangnya. “Mbak yang ini belom,” sahutku dengan isyarat jariku yang keluar masuk di liangnya.”Emang kenapa?” tanyanya dengan isyarat wajah yang menanyakan apa keinginanku. Kemudian kubuat posisi bersetubuh. Kaki Dina mengangkang lebar dan terangkat seakan siap bermain. Bibir vagina yang agak merah terlihat jelas olehku. Milikku yang terhunus akhirnya menyentuh bibir vaginanya yang lembut yang sudah basah. Perlahan kumasukkan dan akhirnya hilang tertelan di liang Dina yang lembut.

“Mmhh..” desah Dina dengan dagunya yang perlahan terangkat dan telapak kakinya memeluk pinggulku. Milikku keluar-masuk diliangnya dan dada Dina membusung seakan tidak kuat merasakan kenikmatan sentuhanku. “Ooouuhh.. oouuhh..” berulang desahan itu Dina keluarkan. Beberapa lama kurasakan nikmatnya tubuh Dina. Perlahan kurasakan pinggul Dina bergerak sehingga mempercepat gesekan penis dan liangnya. Sessat ia dekap tubuhku. Tubuhnya menegang. “Dede..” ucapnya dengan getaran kenikmatan. Aahh Kurasakan penisku didekap kuat liang Dina. “Ooouuhh,” desah nikmat Dina. Kulihat Dina mulai melemas pasrah. Melihat ini gairahku meningkat seakan tubuhnya santapanku. Nafsuku membuat milikku keluar masuk dengan cepat. Ahh, puncakku disaat penisku masih di dalam liang Dina. Aku tak dapat menahan semburanku karena nikmatnya tubuh Dina. “Ooouuhh..” desah Dina mengiringi setiap semburanku. Milikku kubiarkan tertancap terus. Tampaknya Dina tak menolaknya. Tubuhku belum puas menikmati tubuhnya. Terkadang tanganku menikmati dada dan putingnya. Dan beberapa kali kami berciuman lagi. Aku tak peduli walaupun bibirnya bekas milik dan maniku karena benar-benar nikmat.

Sampai tenaga kami pulih, kurasakan dekapan liang Dina yang agak mengering basah lagi. Lalu kami bermain lagi. Ini terus kami lakukan sampai kami tak kuat dan tidur kelelahan. Esoknya kami tersadar dan kami mandi bersama. Tampaknya kami menyukai kejadian kemarin. Rasa bersalah hilang karena Kami rasakan kecocokan, dan kami teruskan hubungan ini. Karena kakakku jarang di rumah kami sering berdua, tidur bersama dan mandi bersama dengan sentuhan-sentuhan yang nikmat. Ini menjadi rahasia kami berdua seterusnya. sampai aku memiliki istri dan sama-sama mempunyai anak kami terus berhubungan.

Wednesday, February 18th, 2009

Cerita Dewasa : Nafsu Terpendam Angela

Cerita Dewasa ini masih saja membayang di benakku. Saat membaca cerita mesum ini untuk pertama kali di sebuah kafe yang memiliki hotspot, langsung saja kontol ku ngaceng. Selain membayangkan petualangan yang didapatkan oleh “aktor” dalam artikel ini, kebetulan ada seoarng wanita cantik dengan tahi lalat di dekat bibirnya. Wajah gadis ayu itu begitu menggoda, ditambah dengan kondisiku saat ini yang sedang di pengaruhi oleh alkohol dari Bir Bintang, dan wajahnya yang sensual, nafsuku kian tak tertahan. ohhhhhh aku harus ngecrot dimana sekarang.

Baiklah, gak usah berpanjang2, semoga Cerita Panas ini mampu membangkitkan gairah kalian, kalau tidak, cobalah untuk menciptakan situasi seperti pada keadaan saya sekarang, dipengauhi alkohol Bir BIntang dan ada wanita cantik untuk dipandang. Dijamin mak nyosss dan pasti ngaceng deh tu kontol.

Aku punya seorang teman baik. Dia punya 2 orand adik perempuan. Yang paling kecil berumur 22 tahun. Namanya Angela, tingginya sekitar 170 cm, dengan badan yang langsing, sepasang kaki yang panjang, dan dada yang tidak terlalu besar. Wajahnya bagaikan bidadari dalam mimpi semua pria. Aku tidak menyangka dia akan menjadi secantik ini. Suatu hari aku ke rumah temanku utk berangkat ke kantor bersama. Ketika itu aku melihat Angela sedang sarapan di ruang makan sendirian.
“Hi..” sapa ku.
“Ko Adi sedang mandi, mungkin sebentar lagi selesai.” Kata nya.
Kemudian dia bangkit dan merapikan piring dan sendoknya dan langsung pamit untuk pergi ke kampus. Ketika Angella berdiri, aku bisa melihat seluruh tubuhnya. Dia memakai baju kemeja putih lengan pendek, rok coklat selutut, kemudian penis ku rasanya ingin meletus saat itu juga. Tidak ku sangka dia memakai pantyhose berbahan transparan (ultra sheer) ditambah lagi sepatu talinya yg berwarna hitam membuat kakinya lebih indah dan seksi sekali. Terjadi peperangan batin yang sangat hebat di dalam diriku. Di satu pihak, hasrat penis ku yang sangat berkobar-kobar untuk bercinta dengan kakinya kemudian menyetubuhinya berkali-kali. Di pihak lain, otak ku mengatakan itu tidak baik, dan tidak mungkin aku melakukannya di saat ini. Sayang dia sudah punya pacar kalau tidak, pasti akan ku jadikan miliku.

Ketika Angella sudah menghilang dari belakang pintu, dengan cepat aku naik ke lantai 2 dan mencoba untuk memasuki kamarnya. Beruntung sekali karena tidak dikunci. Aku segera menghampiri lemari pakaiannya dan mencari harta karun fantasi sex ku. Tetapi aku mengalami kekecewaan karena dia hanya punya 3 pasang pantyhose, sehingga aku tidak mungkin mengambilnya. Untuk mengobati kekecewaanku, aku mencari keranjang cucian yang ada di kamar mandinya. Aku cari celana dalamnya. Aku menemukannya di antara pakaian tidurnya. Dengan cepat aku mengambil celana dalamnya yang terbuat dari bahan satin yang halus dan menempelkannya di hidung dan menarik nafas dalam-dalam. Pikiranku langsung melayang dan penisku semakin mengeras dan panjang. Celana dalamnya masih menyimpan aroma yg khas dari vagina seorang wanita. Tapi aku buru-buru menyimpannya ke dalam kantong celanaku dan meninggalkan kamarnya. Aku kembali ke lantai 1 dan masuk ke kamar mandi. Aku buka resleting celanaku dan membebaskan penisku dari kurungan celana dalamku dan segera aku balutkan celana dalam Angela ke batang penisku dan langsung masturbasi sambil membayangkan bercinta dengan seorang bidadari perawan yang cantik yang mengenakan pantyhose dengan sepatu tali yang seksi. Kubayangkan penisku masuk dan keluar, memompa vaginanya dengan cepat dan keras. Hanya dalam hitungan beberapa detik kemudian, aku mengalami ejakulasi yang hebat. Dengan sisa-sisa tenaga aku arahkan penisku ke jambannya, dan 3 semprotan panjang mengawali puncak orgasme ku dan diakhiri dengan beberapa tetes sperma ku. Nafasku memburu dan berkeringat.
“Indra! Kamu lagi di WC ya?” terdengar teriakan dari Adi.
“Iya, bentar, gue lagi kencing nih.” Dengan cepat aku keluarkan tissueku dan membersihkan kepala penisku yang tersayang, kemudian ku tarik flush yang ada di jamban dan hilanglah bukti dari hasrat ku yang membara. Ku simpan kembali harta karun ku dan keluar dari WC dan bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Sepanjang hari aku selalu teringat akan Angela, setiap kali aku ke WC aku selalu mengeluarkan celana dalam Angela dan menghirupnya dalam-dalam. Ternyata aroma wangi dari vagina Angela sangat memikat dan merangsang. Malamnya aku kembali bermasturbasi sambil membayangkan Angela, adik dari teman baikku yang sekarang menjadi objek fantasi sexual ku.

Tidak kusangka keberuntungan berpihak kepadaku. Tidak lama kemudian Adi keluar dari kantor karena mendapatkan tawaran yg lebih bagus. Angela, bidadari objek fantasi sex ku, yang mengambil alih pekerjaannya. Indahnya lagi, Adi memintaku untuk mengantarnya pulang karena tidak ada yang menjemput.
Hari pertama Angela masuk kerja merupakan surga dan neraka bagiku. Angela mengenakan terusan dengan model smart suit setinggi lutut yang berwarna coklat pastel muda dan ultra sheer pantyhose dan sepatu tali putih dengan hak sedang. Aku selalu mencari cara dan alasan untuk selalu berdekatan dengannya dan melahap kakinya yang menggiurkan dengan mataku.

Memang aku mempunyai fetish terhadap pantyhose sejak masih kecil. Semua ini karena adik terkecil dari ibu ku. Secara tidak sengaja aku menyentuh kakinya yang sedang dibalut oleh stocking dan aku telah jatuh cinta terhadap perasaan itu sampai sekarang. Sekarang umurku 26 tahun. Aku mengoleksi berbagai macam pantyhose dan stocking, namun sayang hanya sedikit yang berkualitas bagus.

Siang itu, aku bermasturbasi di WC kantor.
Sorenya, aku dan Angela sedang dalam perjalanan pulang. Kami ngobrol tentang pekerjaan. Jalanan lumayan padat sehingga tidak bisa cepat-cepat dan sering berhenti. Aku memberanikan diri untuk bertanya.
“Angela, boleh aku bertanya sesuatu?”
“Apa?” jawabnya dengan ringan sambil melihatku.
“Tapi jangan marah atau tersinggung ya.”
Angela mengangguk kecil.
“Apakah kamu suka pakai pantyhose?”
“Koq kamu tahu aku pake pantyhose?”
“Cuma nebak-nebak aja.”
“Aku baru mulai pake sih, belum lama.”
“Apa kamu suka?”
“Iya, rasanya gimana gitu.”
“Keliatannya halus.”
“Iya, rasanya halus juga.”
Aku menelan ludah dan mengumpulkan segenap keberanian untuk bertanya, “Apakah aku boleh megang? Maksudku aku cuma pengen tahu gimana rasanya.” Padahal aku sudah punya beberapa koleksi dan sudah tahu.
Tanpa ragu-ragu Angela menjawab, “Boleh.”
Dengan perlahan-lahan kutaruh jari-jari tangan kiri ku di atas lutut kanannya. Ku elus-elus lututnya pelan-pelan. Seluruh badanku dipenuhi oleh sensasi erotis yang ditimbulkan oleh kelembutan pantyhose dan kaki Angela.
“Gimana rasanya?” tanya angela.
“Bener-bener halus.” aku senyum kecil sambil memandang wajahnya yang cantik. penisku sudah dalam keadaan siaga satu dan dari luar terlihat sedikit menonjol.
Untung mobilku mempunyai transmisi automatic sehingga aku tidak perlu mengganti-ganti gigi dan melepaskan tangan kiriku dari lututnya. Karena jalanan sangat macet, Tidak lama kemudian Angela tertidur. Kuberanikan diriku untuk menjelajah lebih dalam lagi ke pahanya.
Angela tidak memberikan reaksi penolakan atau keberatan atas tindakan ku, atau mungkin dia tidak merasakannya karena sedang tertidur. Aku tidak perduli, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Pelan-pelan tangan kiriku makin ke atas dan telah sampai di tengah-tengah pahanya. Ku belai pahanya yang lembut dan halus. Kulihat wajahnya, Angela tertidur dengan sangat tenang. Saat ini, roknya sudah tersingkap setengah paha. Untung roknya tidak terlalu ketat, jika tidak, aku akan mengalami kesulitan untuk menjelajah lebih dalam. Kuteruskan aksi ku sampai pada paha bagian atas. Akhirnya aku sampai pada pusat segala kenikmatan sexual. Jari tengah ku menelusuri celah yang terbentuk dari ke dua pangkal pahanya. Jari tengah ku merasakan kehangatan dan kelembaban. Jari tengah ku dengan perlahan menemukan garis cekungan yang terbentuk dari celah vaginanya. Tiba-tiba terasa basah dan licin. Penis ku bertambah keras dan kencang, ternyata Angela secara sadar atau pun tidak, terangsang dengan belaian tanganku yang nakal. Aku tidak tahu apakah dia sadar ataukah masih tertidur. Saat ini arus lalu lintas mulai lancar, aku langsung masuk ke pintu tol. Dengan cepat aku mengeluarkan uang pas dari asbak mobil dan dengan cepat pula memberikannya kepada petugas tol dan aku langsung tancap gas. Setelah beberapa puluh meter, aku pelankan laju mobilku dan jari tengahku mulai memberikan tekanan-tekanan ringan pada selangkangannya. Bahan pantyhose yang halus bercampur dengan cairan manis yang di hasilkan oleh Angela membuat darahku makin mendidih dan sangat horny. Ku alihkan pandanganku dari jalan dan dengan cepat mengamati Angela. Rok nya sudah tersingkap sampai atas. Pahanya yang mulus terbungkus oleh pantyhose yang sexy. Wajahnya masih tidak menunjukan reaksi penolakan ataupun reaksi lainnya. Ku percepat gerakan jariku dengan tujuan membuatnya semakin terangsang dan orgasme. Kemudian ku selipkan jari manisku dan bersama-sama dengan jari tengahku, dan ku mainkan vaginanya. Setelah beberapa saat, ku putuskan untuk fokus pada klitorisnya. Gerakan jariku kupercepat namun tetap lembut dan tidak kasar. Samar-samar aku mendengar desahan halus yang berasal dari nafas Angela. Expresinya sedikit berubah. Kelihatannya Angela sangat menikmatinya. Cairan halus dan licin itu semakin membasahi celana dalam dan pantyhose Angela. Demikian pula dengan penis ku, sudah membasahi celana dalam ku. Setelah beberapa menit pikiranku melayangkan imaginasi nikmatnya bersetubuh dengan adik teman baikku yang masih perawan ini, tiba-tiba aku dikagetkan dengan sebuah mobil truck besar yang langsung memotong tepat didepanku. Dengan reflek ku injak rem untuk menghindari tabrakan, dan tangan kiriku sempat terhenti sejenak karena kekagetan itu. Aku dikejutkan lagi oleh tangan Angela yang menekan tangan kiri ku dengan kencang ke selangkangannya. Aku langsung melanjutkkan memberikan rangsangan kepada klitorisnya dengan cepat dan sedikit lebih kuat. Pinggangnya mulai bergerak, aku bisa merasakan kontraksi otot pada selangkangannya. Kemudian terdengar desahan kenikmatan yang tertahan di dalam vaginanya. Angelaku yang manis mengalami orgasme pertamanya. Setelah orgasmenya reda, ia membuka matanya dan menatapku dengan senyuman yang puas dan manis.
“Ko Indra nakal…” itulah kalimat pertama yang keluar dari mulutnya yang sexy.
“Bagaimana rasanya?” tanya ku.
Tangan kirinya tetap menahan tangan kiriku di vaginanya, tangan kanannya membelai sayang pipiku. Tangannya yang halus dan lembut membuatku semakin terangsang.
“Enak sekali… aku tidak tahu akan begitu enak… Apa itu orgasme?”
“Itu belum seberapa, apa mau yang lebih enak lagi?” dengan berani aku menanyakan.
“Sex langsung?”
“Iya” jawabku.
“Apakah benar akan lebih enak dari ini?”
“Tentu saja.”
Angela melihat jam pada dashboard.
“Apakah masih sempat? sudah terlalu malam nanti aku di cariin sama orang-orang rumah.”
“Bilang aja lagi ada acara ulang tahun teman.”
“Ide yang bagus.”
“Trus pacarnya gimana?”
“Biarin aja, aku jga tidak begitu suka.”
Kesempatan emas yang tidak boleh kulewatkan. Tetap saja aku tidak menyangka akan semudah ini, dan Angela yang begitu berani. Apakah dia sudah pernah melakukannya?

Ku parkir mobilku disebuah hotel yang terletak di tengah keramaian kota. Langsung saja aku memesan sebuah kamar yang VIP dengan ranjang yang besar. Segera setelah pintu kamar ditutup, aku duduk di atas kasur yang empuk dan menarik tangan Angela dan menyuruhnya duduk di atas pangkuanku. Posisi badannya menghadap ke kanan.
“Apa Angela yakin mau melakukan ini dengan ku?”
“Kalau memang orgasme terasa seindah dan senikmat itu, aku rela melakukannya.”
“Apa setelah ini Angela akan melakukannya dengan orang lain juga?”
“Ya tidak lah Ko Indra ku sayang. Aku bukan pelacur seperti itu. Aku hanya ingin melakukannya dengan Ko Indra.”
“Benarkah?”
Dia merangkul leher ku dan kusambut dengan ciuman yang basah di bibirnya.
Angela memejamkan matanya, ku julurkan lidahku ke dalam mulutnya. Dengan sedikit kaku dan kikuk bidadariku menyambut tarian lidahku. Tidak lama kemudian Irama cumbuan kami semakin meningkat dan cepat dan panas penuh dengan nafsu. Tangan kiriku menelusuri semua bagian dari punggungnya dan tangan kananku menelusuri paha dan betisnya yang terbalut oleh pantyhose.
Cumbuan kami bertambah liar, kutelusuri lehernya sambil menarikan lidahku. Terdengar desahan nikmat bercampur geli dari bibirnya. Angela membelai rambut dan punggungku.
“Oh… ko Indra…”
Saat ini tangan kiriku berhasil meraih payudara kirinya dari belakang. Ku pijat-pijat dengan lembut dan ku remas-remas.
Tangan kananku dengan cepat melepaskan kancing-kancing bajunya. Angela pun mengikuti tindakanku dan melepaskan kancing bajuku, dan celanaku.
Kusuruh Angela berdiri. Aku pun ikut berdiri dan langsung saja celana panjangku jatuh ke bawah. Ku tarik tangan kiri Angela dan meletakannya di penisku yang masih terbungkus celana dalam.
“Keras sekali dan basah… ngompol ya?” ejek Angela.
“Angela juga basah.” Ku elus-elus selangkangannya.
Kemudian dia tersipu malu.
Ku buka BH nya dan didepan mataku adalah sepasang payudara yang berukuran sedang dan ranum. Bajunya sengaja tidak kulepaskan, karena dia terlihat sangat cocok dan cantik dengan baju itu. Ku lihat celana dalam berwarna kulit menutupi vaginanya. Kuturunkan pantyhosenya sedikit dan kurobek celana dalamnya dan menariknya keluar. Kubetulkan kembali pantyhosenya, dan ku hirup aroma dari cairan vaginanya dan kujilat. Angela melihat dengan tatapan sedikit terkejut. Ku tempelkan celana dalamnya ke hidung Angela.
“Bagaimana aromanya?”
Seakan-akan tidak percaya, ia menghirupnya beberapa kali.
“Aromanya seakan-akan menggetarkan seluruh tubuhku…” jawabnya.
Tiba-tiba saja aku merasakan tangan kirinya dengan penuh nafsu meremas-remas penisku. Kuturunkan celana dalam ku dan penisku berdiri dengan keras dan panjang. Mulutnya sedikit terbuka melihat penisku yang berukuran sedang namun keras seperti batu. Jarinya yang mungil menyentuh ujung kepala penisku. Tidak terbayangkan nikmatnya sentuhan Angela pada penis ku. perlahan-lahan ia mulai memegang dan mengelus-elus seluruh batang penisku, akibatnya penisku benar-benar basah.

Aku suruh Angela tidur di atas ranjang. Ku jelajahi seluruh bagian dari kakinya yang panjang dan seksi. Aku habiskan lebih dari 30 menit hanya mengelus-elus dan memijat-mijat kecil seluruh bagian kakinya. Setiap kali aku melihat kaki dan sepatu talinya, rasanya ingin ku kulum. Akhirnya ku angkat kaki kanannya dan ku serbu dengan kuluman dan ciuman pada jari-jari kakinya tanpa melepas sepatunya. Setelah puas ku lanjutkan dengan mengulum vaginanya. Tanpa melepas pantyhosenya, aku mainkan tarian erotis dengan lidahku. Angela terus mendesah nikmat tanpa henti. Setelah beberapa saat, aku merasakan otot-otot pinggulnya mulai menegang. Angela mengalami orgasme kecil. Ku buat sebuah lubang kecil dengan bantuan gigi dan jari ku. Lidah ku langsung menerobos masuk dan menyerbu klitoris Angela. Nafas Angela semakin memburu dan dari bibirnya terus mengalir alunan desahan kenikmtan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Ko… Indra… enak banget…”
Ku arahkan pandanganku sedikit ke atas, bidadariku terlihat sangat menikmati oral yang ku berikan. Ku dorong lidahku lebih dalam lagi ke dalam vaginanya. Cairan cinta Angela terus mengalir tanpa henti. Aku ingin angela merasakan nikmatnya bercinta, dan betapa mengagumkannya multi orgasme. Ku masukan jari tengah ku ke dalam vaginanya. Jariku masuk dengan mulus tanpa menemui hambatan apa pun. Ku coba untuk mencari titik G spot yang menjadi puncak kenikmatan sexual Angela. Desahan yang keluar dari mulutnya semakin kencang. Ada beberapa tempat yang mencurigakan, akhirnya aku berexperimen satu per satu. Memang makan waktu, tetapi setelah beberapa kali mencoba, akhirnya kutemukan. Aku tidak begitu yakin, tetapi semakin lama aku memberikan rangsangan pada titik tersebut, semakin kuat Angela menggeliat dan akhirnya orgasme. Kurasakan otot-otot vaginanya menjepit jariku dengan kuat. Setelah orgasmenya reda, aku memposisikan diriku di atas badan Angela. Ku kulum bibir dan lidahnya.
“Sayang… aku akan memberikan kenikmatan yang tiada bandingannya, apa kamu sudah siap?”
Angela melihatku dengan nafsu yang membara dan menganggukan kepalanya.
Ku berikan senyum manisku dan memposisikan penis ku di depan pantyhose yang sudah ku robek sedikit. Pelan-pelan ku masukan penis ku. Dinding vaginanya yang ketat dan kencang menyambut kedatangan penisku dengan hangat. Ketika kepala penisku tenggelam di dalam vaginanya, Angela memejamkan matanya dan mulutnya terbuka. Ku dorong lagi perlahan-lahan sampai seluruh batang penisku berada di dalam vaginanya. Hangat, basahdan kencang, itulah yang kurasakan ketika meluncur masuk. Pelan-pelan ku tarik sedikit dan masuk lagi. Setelah beberapa tarikan Angela membuka matanya dan menatapku dengan penuh kepatuhan. Dia sudah mulai terbiasa dengan penisku, kupercepat gerakan memompa ku dalam posisi misionaris. Angela mendesah nikmat. Makin lama makin cepat, kembali Angela hilang dalam orgasmenya yang kuat dan panjang. Titik G spot yang kutemukan berada disebelah bawah dinding vaginanya. Sulit untuk merangsangnya dalam posisi misionaris. Kusuruh Angela membalikan badannya. Darah keperawanannya membekas di atas ranjang hotel. Begitu pula dengan penis ku, tertempel darah segar dari Angela.
Kuarahkan Angela membentuk posisi doggy style. Aku sendiri juga sudah tidak dapat bertahan lama lagi. Aku ingin menyelesaikannya dengan memberikan multiple orgasme. Ku posisikan penisku ke daerah G spot Angela. Saat itu pula angela mendesah dengan kencang, karena vaginanya sudah terlalu sensitif. Ku pompa Angela dari belakang, pertama-tama pelan kemudian semakin cepat dan cepat. Tidak sampai 5 menit, badan Angela kembali berkontraksi. Kontraksinya jauh lebih kuat dari sebelumnya. Kurasakan otot-otot vaginanya meremas-remas penisku. Benar-benar sensasi yang tidak ada bandingannya. Aku dapat merasakan cairan madu Angela terus mengalir keluar membasahi paha kami. Badan Angela berkontraksi dan menggeliat dengan hebat bagaikan gempa bumi. Orgasme yang ia rasakan tak kunjung habis. Ku pelankan gerakanku, dan membiarkan Angela menikmati keseluruhan orgasmenya. Kucabut penisku dari vaginanya dan menyuruhnya tidur dengan terlentang. Ku posisikan penisku di depan bibirnya.
“Angela, buka mulutnya… anggap aja lolipop.”
Angela menuruti kata-kataku dan menyambut ‘lolipop’ yang basah dengan ejakulasinya. Angela dengan kaku mengulum penisku. Namun rupanya dia mempunyai bakat alami dalam memberikan oral pada penis ku. Tidak lama kemudian, orgasme ku datang bagaikan petir. Seluruh badanku bergetar. Angela kaget ketika sperma ku meluncur dengan cepat dan kuat. Tidak terhitung berapa banyak spermaku yang keluar. Angela hampir tersedak, namun dengan cepat ia telan spermaku dan membersihkan sisa-sisanya.
Angela sudah kehabisan tenaga, aku berbaring disebelahnya. Ia menatapku dengan tatapan bangga dan puas. Bidadariku… akhirnya aku berhasil bercinta dengannya.

Setelah berbaring selama beberapa saat, aku mengajak Angela untuk mandi bersama. Terpaksa Angela harus melepaskan pantyhosenya. Kami saling membersihkan satu sama lain, tidak lama kemudian aku kembali memasukan penisku yang masih keras dan horny ke dalam vagina Angela. Dibawah pancuran shower yang hangat aku kembali bercinta dengan Angela. Ku angkat dan kutahan kaki kirinya dengan tangan kananku dan kusandarkan dia pada dinding kamar mandi. Ku pompa vaginanya dengan penisku, lembut namun mantap. Angela menarikan tarian lidahnya pada leherku. Tanpa disengaja dia menemukan tempat yang sensitif pada leher bagian kiri ku.
“Iya… di sini… terus…”
Angela memfokuskan tariannya pada titik tersebut. Tak pernah kuduga betapa sensitifnya tempat itu, aliran-aliran listrik kecil seolah-olah berjalan di seluruh tubuhku, menambah sensasi yang luar biasa pada penisku. Aku terus mendesah dan mempercepat sedikit gerakan penisku, kadang-kadang aku mendorongnya sedalam mungkin dan mempertahankannya dalam posisi seperti itu dan kugoyangkan pinggangku dengan gerakan melingkar. Angela mendesah dan menghentikan tariannya. Kulanjutkan lagi proses percintaanku. Dia merangkulku dengan kuat. Desahannya semakin cepat dan kuat.
“Ko… Indra…”
Di bawah pancuran shower yang hangat, Angela mengalami orgasme yang kesekian kalinya. Badannya bergetar kuat. Otot-otot dinding vaginanya meremas-remas batang penisku dan membawaku ke ujung kenikmatan yang tak terbayangkan. Aku berusaha untuk menahannya selama mungkin, paling tidak sampai orgasme Angella mereda. Setelah reda, langsung ku keluarkan penisku, dengan tanggap Angela berlutut di depanku dan melahap penisku dengan mulutnya. Separuh penisku hilang didalam mulutnya. Lidahnya dengan cekatan menari-nari di penisku. Benar-benar tidak terlukiskan rasanya. Kupegang kepala Angela dengan kedua tanganku, pelan-pelan ku dorong masuk penisku sampai habis. Angela hampir tersedak dan dengan cepat menyesuaikan rongga kerongkongannya untuk menyambut penisku. Kutarik lagi dan kumasukan lagi. Lidahnya tak pernah berhenti sedikitpun menarikan tarian erotis pada penisku. Rangsangan ini benar-benar membuat penisku meledak dengan orgasme yang kuat dan menggetarkan. Karena aku terus menarik dan mendorong penisku akibatnya spermaku ada yang mengalir keluar dari mulutnya. Spermaku yang mengalir keluar dari sudut bibirnya membuat Angela semakin cantik dan menggairahkan. Angela terus menjilat dan menelan sperma dari penisku sampai bersih.
“Suka ya?” Kutanya dengan lembut.
Tanpa melepaskan kulumannya, ia tersenyum dan mengangguk.
Bidadariku ternyata sungguh luar biasa, ini benar-benar mimpi menjadi kenyataan. Seorang gadis cantik memberikan oral dan menelan sperma dari penisku.

Kami terpaksa menyudahi percintaan kami, karena sudah larut malam. Ku antar Angela pulang ke rumahnya. Sebelum keluar dari pintu mobil, kami bercumbu dengan penuh nafsu.

Malamnya kutelepon Angela. Kami setuju untuk pergi ke mall untuk berjalan-jalan.
Angela mengenakan terusan model babydoll dengan panjang sampai 10 cm di atas lutut. Bahannya halus dan lembut. Pantyhose berwarna putih, ultra sheer, ditambah dengan sepatu tali berwarna putih yang melingkar sampai ke pertengahan betisnya, membangunkan penisku yang sedang tidur. Rambutnya terurai rapi, make up berwarna natural dan tipis, lipstick merah muda yang paling muda dengan wet look. Ketika masuk ke dalam mobil, dia menyapaku dengan manis dan manja.
“Sabar ya Ko Indra sayang…”
Angela mengatakan hal itu seolah-olah ia mengetahui apa yang sedang kupikirkan saat ini, yaitu berhubungan sex dengannya saat ini juga.
Dengan tampang kecewa yang kubuat komikal aku mengeluh. Namun hal ini mengundang tawa bahak dari Angela.
“Apa tidak ada yang tahu kalau kita pergi bersama?” tanyaku.
“Tidak ada, aku cuma bilang mau bantu-bantu teman ku yang mau married, jadi aku punya alasan untuk pulang sampai malam.” jawab Angela sambil tersenyum manis.
“Angela, kamu benar-benar cantik, manis dan seksi sekali.”
“Ko Indra bisa aja, kan aku dandan seperti ini cuma untuk Ko Indra.”
“Memangnya kamu tidak pernah dandan untuk cowok kamu?”
“Cowok yang mana ya?”
“Kemarin katanya sudah punya?”
“Oh yang itu… Sudah putus tuh…”
“Kapan?”
“Tadi malam.” Angela menjawab dengan tenang.
“Boleh tahu kenapa?”
“Ko Indra lucu deh, pake acara nanya segala.”
Aku menduga bahwa akulah yang menjadi alasan dari putusnya hubungan antara Angela dengan pacarnya.
“Gara-gara aku ya?”
Tiba-tiba saja Angela mencium pipi kiriku.
“Cuma Ko Indra yang bisa membahagiakanku.”
Rasanya jantungku hendak meloncat keluar mendengar pernyataannya.
Ku elus-elus pahanya yang dengan manis terbungkus oleh ultra sheer pantyhose berwarna putih sambil tersenyum manis.

Setelah beberapa saat, kami tiba di Plaza Senayan. Sambil bergandengan tangan kami memasuki pintu samping Plaza. Kami masuk ke Metro dan langsung menuju ke bagian pakaian dalam.
Angela melihatku dengan senyumnya yang nakal. Kami mulai dari lantai dasar yang banyak menjual sepatu-sepatu wanita. Aku menyodorkan beberapa pasang sepatu tali yang sexy dan bagus. Ternyata Angela juga menyukainya dan aku membeli 2 pasang sepatu tali yang ber-hak tinggi dan sedang untuk Angela . Kemudian kami naik ke lantai atas untuk melihat-lihat stocking dan pantyhose yang dipajang pada counternya dan sibuk membahasnya. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli semua merk yang ada dalam beberapa warna. Namun kali ini Angela yang memaksa untuk membayar. Setelah itu kami makan siang di sebuah cafe di lantai atas.
Aku sengaja memilih tempat yang terletak disudut ruangan. Kami duduk di sofa yang menempel pada kedua sisi ruangan.
Kami memesan dua piring spagheti, dan jus untuk makan siang kami. Setelah pelayan yang mencatat pesanan kami pergi, aku sibuk memeriksa sekeliling kami. Suasana masih sepi dan tidak ada yang memperhatikan kami, yang terpenting adalah taplak meja yang panjangnya sampai ke lantai. Benar-benar cocok untuk melaksanakan rencanaku. Dengan sekejap aku masuk ke bawah meja.
“Ko Indra…” Angela berusaha menyingkap kain yang menutupi ku.
“Ssst… jangan keras-keras, nanti ketahuan…” Bisikku.
“Mau ngapain sih?”
“Ada deh…” Jawabku dengan senyum nakal.
Kurapikan kain penutup meja itu sehingga menutupi seluruh bagian pinggang Angela. Kemudian ku buka kedua kaki Angela yang menutupi selangkangannya. Lalu aku belai-belai vaginanya yang terbalut oleh pantyhose putih yang seksi.
“Ko Indra… jangan di sini nanti ada yang melihat…” Bisiknya.
Aku mengacuhkan bisikannya, karena aku merasakan bahwa Angela tidak memakai celana dalam dan pantyhose yang dikenakannya adalah yang ’sheer to waist’.
Langsung saja kukulum vaginanya sambil membelai-belai kakinya yang panjang dan lembut.
“Ko Indra…”
Aku dapat merasakan sensasi nikmat yang menghanyutkan bersamaan dengan perasaan takut begitu pula dengan Angela. Kujilati seluruh bagian dari selangkangan Angela. Tidak lama kemudian aku dapat merasakan cairan manis yang khas mengalir dari vaginanya dan bercampur dengan kulumanku yang basah. Aku menjadi semakin bersemangat dan horny. Kupercepat kuluman dan tarian erotis lidahku. Sensasi yang menggelitik dan eksotis membuat tubuh Angela bergetar-getar. Aku yakin Angela pasti sedang berusaha keras untuk menahan ekspresinya dan menahan desahannya. Penisku meronta-ronta untuk keluar dari dekapan celana dalamku. Aku terus melahap Angela dengan penuh nafsu, dan tanganku tidak henti-hentinya membelai dan mengelus-elus kakinya.
“Silahkan Minumnya.” Terdengar suara dari seorang pelayan wanita yang mengantarkan minuman.
“Terima kasih…” jawab Angela dengan suara yang sedikit bergetar.
Aku dapat merasakan Angela sedang menyedot jus yang baru saja di antar.
Tangan kanannya menyelinap masuk ke dalam taplak meja dan mengelus-ngelus kepalaku.
Tidak lama kemudian terdengar lagi suara dari pelayan wanita yang sama, membawakan pesanan kami.
Setelah meletakan pesanan kami, pelayan itu meninggalkan Angela.
“Sayang ayo dimakan dulu.” Bisikku dari bawah.
Angela dengan kikuk mencoba memakan spagheti yang telah kami pesan. Dia berusaha untuk tenang dan mencoba menikmati makanannya. Aku tahu dengan pasti sensasi yang dihasilkan oleh vaginanya ( dengan pertolongan lidahku yang nakal ) telah mengambil alih kesadarannya. Tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki yang mendekat, bersamaan dengan itu pula kedua kaki Angela menjepit kepalaku dengan kencang. Akhirnya aku merasakan otot-otot pinggul dan kakinya berkontraksi dengan keras. Cairan orgasmenya mengalir makin banyak, kulahap semua sampai tak tersisa. Badan Angela sedikit berguncang dan mengeluarkan suara seperti tersedak.
“Apa Ibu tidak apa-apa?”
“Oh.. tidak… cuma sedikit tersedak…” Jawabnya dengan gugup.
Tidak kusangka Angela masih dapat berbicara menutupi keadaannya yang sedang orgasme.
Setelah beberapa saat, Angela mulai mengendorkan jepitan kakinya, otot-otot pinggulnyapun mulai rileks. Aku mengintip dari belakang kain untuk melihat keadaan dan langsung aku keluar dari kolong meja dan duduk di sebelahnya.
“Batuk ya?” tanyaku.
“Ko Indra! Hampir saja tadi ketahuan!” Serunya sambil mencubit kecil pahaku.
“Tapi seru kan?” jawabku sambil tertawa kecil.
“Iya… tapi sekarang waktunya pembalasan!”

Dengan cepat Angela memeriksa keadaan dan langsung turun ke bawah meja. Dengan cekatan Angela membuka resleting celanaku dan membebaskan penisku dari kurungan celana dalamku. Langsung saja penisku berdiri dengan tegak. Tanpa mengulur waktu Angela mulai menjilati ujungkepala penisku, menikmati cairan pra orgasme yang telah membasahi kepala penisku. Lidahnya yang lembut dan hangat menari-nari indah, diselingi dengan kuluman yang dalam. Gerakan Angela sangat agresif seakan-akan ingin membuatk meledak saat itu juga. Aku tentu saja tenggelam dalam kenikmatan eksotis dan erotis yang diberikan oleh Angela. seperti halnya Angela, aku tidak dapat berkonsentrasi menikmati makananku. Untung saja porsinya sedikit. Seluruh badanku dipenuhi oleh listrik-listrik kecil yang semuanya menyerbu pusat saraf sensorikku. Tinggal suapan terakhir, oral yang diberikan oleh Angela membawaku ke puncak kenikmatan duniawi, yaitu orgasme. Badanku ikut bergetar dan menimbulkan suara. Aku berhasil menahan desahan nikmatku dalam-dalam. Seorang pelayan wanita datang untuk menawarkan tambahan minuman atau makanan.
“Tidak… sudah cukup…” dengan seluruh kesadaran yang tersisa aku menjawab.
Gelombang demi gelombang orgasme melanda penisku. Dengan setia Angela menampung semua itu di dalam mulutnya dan kemudian menelan madu murni yang keluar dari penisku. Setelah reda, dia masih saja menjilati dan menghisap penisku sampai kering, sampai semua madu yang melekat di penisku dihabiskannya, baru penisku yang masih setengah berdiri disimpan kembali ke dalam celanaku.
Aku memberinya isyarat untuk keluar.
Dengan Senyum nakal yang manis, Angela berkata: “Bener nih ga mau tambah lagi?”
Kami tertawa terbahak-bahak sambil berpelukan.
Setelah menghabiskan minuman kami, aku memanggil pelayan dan meminta bon.
Setelah membayar, kami berdiri, menenteng belanjaan kami, pada saat itu juga manajer cafe datang menghampiri kami.
“Terima kasih atas kedatangannya. Apakah rasa makanannya cocok?”
Dengan spontan kujawab, “Dessertnya enak sekali.”
“Appetizernya juga enak.” sambung Angela.
Dengan senyum nakal kami meninggalkan manajer yang sedang kebingungan karena jelas-jelas kami tidak memesan makanan pembuka maupun pencuci mulut.

Petualangan yang menegangkan di cafe tersebut ternyata makin membangkitkan nafsu horny kami. Akhirnya kami memutuskan untuk nonton film di bioskop. Ternyata cara ini tidak banyak membantu. Film tidak kami gubris sama sekali selama hampir satu setengah jam kami bercumbu dengan liar. Leher dan kuping tidak luput dari kuluman kami. Jari-jari mungil Angela berkelana ke selangkanganku dan masuk ke dalam celanaku dan bermain-main dengan penisku. Jarinya yang halus dan lembut membelai-belai kejantananku, kadang-kadang membuat lingkaran-lingkaran kecil pada ujung kepala penisku. Benar-benar kenikmatan tiada tara. Tanganku tidak dapat menjangkau selangkangannya karena posisi duduk yang tidak memungkinkan. Setelah film selesai, kami masuk ke kamar kecil untuk merapikan diri. Aku tidak mengalami orgasme, meskipun demikian itu merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Aku juga yakin pasangan yang duduk tidak jauh dari kami juga melakukan hal yang sama karena kami.
Setelah itu kami langsung menuju ke sebuah hotel yang telah kubooking pada waktu pagi tadi. Ketika pintu kamar ditutup dan dikunci, aku langsung menarik lengan Angela dan memeluknya dengan erat. Barang-barang belanjaan kami jatuh berceceran di lantai. Ku kulum bibir dan lidah nya yang lembut dan hangat. Aku tidak tahu darimana asalnya french kiss, namun aku yakin orang pertama yang menemukannya akan langsung hornymelihat adegan french kiss kami yang dipenuhi dengan hasrat dan nafsu.
Di sebelah pintu masuk terdapat sebuah lemari baju dengan kaca yang panjang. Posisi kami tepat didepan kaca tersebut. Aku melihat bayangan kami yang sedang bercumbu. Benar-benar pemandangan yang sangat erotis dan indah. Mulut kami terbuka lebar, bibir saling beradu. Lidahku dengan lincah menelusuri bagian luar dari mulut dan dagu Angela. Lidah bidadariku pun tidak kalah lincah dan agresifnya. Semua dagu dan mulutku, bahkan sampai ke pipi ku basah semua. Setiap kali lidahnya menyapu permukaan kulitku, kurasakan api hasrat liarku makin membesar. Lidah kami akhirnya bertemu. Angela makin bertambah semangat dan terus mendesah nikmat. Tangannya menelusuri seluruh bagian dari punggungku. Kubelai kepalanya sambil meremas-remas rambutnya yang lembut, tangan kiriku meremas-remas pantatnya yang bulat dan kenyal.
“Kohh… In..dra…”
Tiba-tiba saja Angela menghentikan cumbuannya.
“Aku punya sesuatu untuk Ko Indra.”
“Apa itu?” jawabku dengan tergesa-gesa, karena akuingin secepat mungkin bersetubuh dengannya.
“Lepas semua pakaian dan duduk di ranjang.”
Aku ikuti permainannya dan melakukan apa yang ia minta.
Penisku mencuat bagaikan tiang bendera. Angela menghampiriku dan berlutut dihadapanku. Bibirnya langsung mengecup kebanggaanku yang telah membuatnya tenggelam dalam lembah kenikmatan duniawi yang indah. Lidahnya menjilati kepala penisku, tepatnya menjilati cairan bening yang keluar dari celah penisku, kemudian mulutnya melahap selurh kepala penisku dan disedotnya sampai kering, tidak lupa lidahnya yang lembut dan basah menari-nari dengan sensual.
Kubelai rambut dan kepalanya.
“Angela…”
Dia melihat ku dan tersenyum, kemudian bangkit dan mengulum bibir dan lidahku. Aku masih dapat merasakan aroma memabukan dari cairan pra orgasme ku yang bercampur dengan ludahnya.
“Ko Indra duduk di sini dan nikmati pertunjukannya, tapi tidak boleh dalam bentuk atau cara apapun merangsang atau menyentuh penis milik ku.”
Angela mengatakan itu disebelah telinga kiriku, sambil mengelus-elus kejantananku.
“Bagaimana Ko…?” angela menjulurkan lidahnya dan menjilat rahang dan kupingku.
“Ok.” jawabku.
Dia tersenyum nakal dan genit.
Sepertinya aku telah membangkitkan sisi nafsunya yang terpendam.

Angela mengambil barang-barang belanjaan kami dan menaruhnya di depanku. Ia mengambil sebuah pantyhose berwarna hitam transparan dan mengeluarkan isinya. Angela menarik bangku meja rias dan menaruhnya di hadapanku, kemudian ia duduk menghadap ke kanan, sehingga sisi kanan tubuhnya ada di hadapanku. Kaki kanannya diletakan sedikit lebih maju dari kaki kirinya. Dengan perlahan ia menunduk dan tangannya membelai dan mengelus-elus betisnya yang ramping dan padat. Terdengar suara gesekan halus yang terjadi karena gesekan antara tangannya dengan pantyhose yang ia kenakan. Suara ini bagaikan musik eksotis yang luar biasa, hingga cairan beningku kembali menetes keluar.
Ia melihat ke arahku dan tersenyum manis.
“Apa Ko Indra suka?”
aku hanya dapat mengagguk.
Angela kembali mengelus-elus betis, pergelangan kaki, sampai jari-jari kakinya. Benar-benar pemandangan yang tidak ada bandingannya. Dia sengaja merangsangku.
Dengan perlahan-lahan dan anggun jari-jari mungilnya menarik simpul tali sepatunya yang terletak di tengah-tengah betisnya. Tali tersebut diletakan dengan lembut olehnya. Ujung kakinya ia kuncupkan dan perlahan-lahan ditarik mundur dari sepatunya. Ujung kakinya di daratkan di lantai dan kedua tangannya membelai dan memijat-mijat kecil tumit dan telapak kakinya. Kembali ia melihatku sambil tersenyum nakal. Ia berbalik ke arah kiri dan hal yang sama ia ulangi sekali lagi untuk kaki kirinya. Penisku makin bertambah keras dan basah melihat pertunjukan erotis angela. Ia berdiri, baju baby doll putihnya ia angkat setinggi pinggang. Pantyhose putih transparannya yang sexy membuat mataku berkunang-kunang dan penisku meronta-ronta untuk dapat masuk ke dalam vagina Angela dan bersetubuh dengannya habis-habisan. Itulah rencana balas dendam ku karena angela telah dengan sengaja menggoda dan membuatku demikian terangsang.
Angela membelakangiku dan membungkuk sehingga pantatnya tepat di depan mataku. Ia turunkan pantyhose putihnya pelan-pelan. Ketika Pantyhosenya telah melewati selangkangannya, dengan jelas dapat kulihat vaginanya yang berwarna merah muda diseliputi oleh cairan hornynya yang membuatku ketagihan, dan mekar dengan indah. Aku yakin Angela juga merasa terangsang dengan pertunjukan solonya. Satu persatu Kakinya diangkat dan keluar dari lapisan pantyhosenya. Setelah itu Angela melemparkannya ke ranjang di sebelahku.
Ia mengambil Pantyhose berwarna hitam transparan (ultra sheer) dan mamasukan tangannya ke kaki bagian kanan pantyhose tersebut, ia raih ujungnya dan ia tarik ke atas. Angela kembali duduk di ujung bangku. Ia masukan ujung kaki kanannya ke dalam pantyhose dan tanganya menarik pantyhose itu ke atas mengikuti lekuk tumit dan betisnya sampai lutut. Dengan cara yang sama ia lakukan lagi dengan kaki kirinya sambil melihat kudengan tatapan penuh dengan nafsu. Pantyhose di tarik ke atas sampai ke pinggangnya. Angela merapikan pantyhosenya mulai dari ujung kaki sampai ke pangkal pahanya. Penisku rasanya ingin meledak saat itu juga. Setelah rapi ia mengambil sepatu tali hitam dengan tumit tinggi dan memakainya dengan sensual. Ia jilat bibirnya untuk menggoda ku. Entah sudah berapa banyak cairan kenikmatanku mengalir. Baju babydoll nya ia rapikan kemudian dengan gaya seperti seorang peragawati Angela berjalan lenggak-lenggok di hadapanku.
Angela memang pernah menjadi model dan masuk TV. Warna hitam pantyhosenya tipis sekali sehingga hanya meninggalkan aksen hitam pada kakinya yang panjang.

Dua pasang, tiga pasang…. Yang ketiga adalah sebuah stocking berwarna kulit sangat transparan yang terbuat dari bahan yang halus sekali. Saat ini juga, Angela telah telanjang bulat. Penis dan selangkanganku sudah basah total. Pikiranku hanya terfokus pada Angela bidadariku. Kuperhatikan wajahnya yang cantik dan manis seperti sedang menahan sesuatu. Setiap pasang pantyhose yang telah ia pakai semuanya meninggalkan bercak basah pada selangkangannya. Stocking yangia kenakan tidak dapat menahan cairan manisnya sehingga dengan sinar matahari sore aku dapat melihat dengan jelas ujung stocking bagian atas berwarna lebih gelap seperti terkena air. Tidak lain dapat kusimpulkan cairan itu berasal dari vagina Angela yang sudah sangat sensitif dan horny.
“Angela…”
Ia datang menghampiriku.
Langsung kudekap dan kutidurkan Angela di atas ranjang. Ku cumbu dengan penuh nafsu pelampiasan dan tangan kiriku mendarat di selangkangannya yang sudah banjir. Ku elus-elus bibir-bibir vaginanya.
Angela mendesah dan bergetar.
Kukonsentrasikan jari tengahku pada klitorisnya. Kutekan dengan sedikit kencang dan kugetarkan tanganku. Angela mendesah dengan kencang dan dalam hitungan detik seluruh tubuh Angela menggeliat hebat dan otot-otot pinggulnya bergetar dengan kencang.
“Ko Indra…!” Angela meneriakan namaku.
Gelombang demi gelombang orgasme klitoris Angela membuktikan betapa nikmatnya kenikmatan seksual. Setelah hampir satu menit, orgasmenya mulai mereda. Ia menatapku dengan penuh kasih.
Ku masukan jariku ke dalam vaginanya dan mencari titik G spot nya. Badannya kembali menggeliat dan desahan yang keluar bagaikan musik erotis di telingaku. Dengan variasi tekanan kurangsang daerah G spotnya. Sampai pada akhirnya meledaklah orgasmenya. Ku kulum payudaranya dan kuhisap kencang-kencang. Otot-otot dinding vaginanya berkontraksi kencang sekali mendorong jariku. Ku pertahankan posisiku dan Angela meronta-ronta dalam kenikmatan orgasme yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Cairan yang hangat mengalir keluar dari dalam vaginanya. Aku berpindah posisi dan mengulum vaginanya dan madu murni yang keluar dari dalam. Lidahku kujulurkan dan merangsang kembali G spotnya. Angela kembali bergetar tiada henti. Cairan hangat itu kembali keluar tiada habis. Kuhisap dan kutelan semuanya. Setelah puas, aku mengangkat kedua kakinya yang sudah lemas ke pundakku. Kepalaku berada di tengah-tengah kakinya. Kumasukan penisku. Mulutnya terbuka lebar namun tidak ada suara. Penisku menemukan surga didalam vaginanya. Ku tarik keluar dan masuk lagi dengan lembut dan stabil. Ku belai dan elus kedua kakinya yang terbungkus stocking yang lembut dan seksi. Angela dengan pasrah menikmati percintaan ini. Matanya terpejam dan nafasnya pendek dan cepat. Sku juga tidak akan dapt bertahan lama setelah semua rangsangan visual yang ia berikan, namun aku mencoba untuk bertahan. Vaginanya yang sudah terlalu sensitif langsung meledak lagi. Aku sudah tidak dapat bertahan lebih lama lagi, karena dinding-dinding vaginanya meremas-remas penisku. Ku tarik penisku dan memasukannya ke dalam mulut Angela. Dengan setia ia menerima semua semburan orgasme ku dan menghabiskan madu ku. Badanku bergetar dan mendesah nikmat.
Angela membuka matanya dan menatapku dengan manis. Aku tahu dia pasti kelelahan karena mengalami orgasme kuat secara berturut-turut. Setelah bersih ku keluarkan penisku, namun Angela menolaknya. Dengan segenap tenaganya ia berbalik dan membaringkan aku di atas ranjang. Bidadariku terus memberikan oral pada kejantananku yang tetap keras. Lidahnya menelusuri seluruh bagian dari batang penisku. Makin lama Angela semakin fasih meng-oral seks penisku. Kuganjal kepalaku dengan beberapa buah bantal agar dapat melihat pemandangan yang indah ini. Bidadari cantik ku benar-benar sangat menikmati dan menyukainya. Aku tidak ingin sensasi dan waktu ini berlalu. Aku benar-benar laki-laki yang beruntung. Menit-menitpun berlalu tanpa terasa. Orgasme kuat kembali mengambil alih tubuh dan pikiranku. Kali ini Angela sengaja mengumpulkan madu orgasme ku di dalam mulutnya, kemudian ia bermain-main dengan penisku dan spermaku. Hasilnya penisku berlumuran madu putihku. Sambil tersenyum dan memandangku ia menjilat dan menghisap habis semua madu yang berceceran. Meskipun telah berorgasme dan ejakulasi berkali-kali kejantananku masih menolak untuk istirahat. Aku tidak mungkin melanjutkannya lagi karena Angela sudah lelah. Dia tertidur dengan senyum puas di dadaku.

Setelah berselang beberapa menit,
“Ko Indra…”
“Iya sayang…” jawabku sambil membelai rambut dan pipinya.
“Cerita dong…”
“Cerita apa?”
“Cerita kenapa Ko Indra suka sekali sama pantyhose.”
“Wah kalau diinget-inget sih uda lumayan lama juga. Yang pasti pertama kali aku merasakan yang namanya stocking itu waktu aku masih SD, kira-kira kelas satu atau dua. Adik terkecil dari ibuku yang tinggal di medan sedang berkujung ke Jakarta. Dia menginap di rumahku. Suatu hari kami sedang berada di dalam mobil, aku duduk di sebelahnya. Secara tidak sengaja kakiku menyenggol betisnya. Sentuhan pertama itu bagaikan perkenalan dengan sebuah sensasi yang tidak dapat kulupakan. Tanteku memakai stocking berwarna kulit. Sepanjang perjalanan kakiku selalu menempel dengan kakinya dan sesekali mengelus-elusnya. Dia tidak mengatakan apa-apa mungkin karena aku masih kecil dan iseng. Setelah itu aku tidak pernah dapat melupakan perasaan itu.”
“Terus… ”
“Ketika aku tumbuh makin besar aku mulai suka memperhatikan perempuan-perempuan yang memakai stocking dan pantyhose, dan penisku langsung berdiri dengan tegak. Rasa nafsu dan horny menguasai pikiranku. Ketika sampai di rumah dan tidak ada yang memperhatikan, aku bermain-main dengan penisku sambil membayangkan bercinta dengan perempuan yang memakai pantyhose / stocking tadi.”
Angela tersenyum dan tangannya bermain-main dengan penisku yang masih keras.
“Semakin lama aku semakin kecanduan, akhirnya dengan menahan malu aku nekat membeli sepasang pantyhose di supermarket terdekat. Kubawa pulang dan langsung kukenakan. Penisku menjulang tinggi, ketika kakiku saling bersentuhan, rasanya aku langsung mabuk kepayang. Benar-benar sensual. Kukeluarkan penisku dan aku bermasturbasi.”

Angela membuka matanya dan menatap wajahku dengan penuh rasa ingin tahu, sambil me-masturbasikan penisku.
“Seperti ini?” tanya Angela. Kakinya digosok-gosokkan ke kakiku. Setiap gesekan menimbulkan gelombang-gelombang listrik kenikmatan ke seluruh badanku.
“Akhirnya aku mempunyai banyak koleksi pantyhose dan stocking namun yang benar-benar bagus dan enak dipakai hanya beberapa merk. Aku juga suka mencari gambar-gambar model yang memakai pantyhose maupun stocking atau lingerie di internet. Aku selalu bermasturbasi dengan koleksi-koleksiku.
Kelihatannya ceritaku membuat Angela horny. Sekarang ini ia sedang menjilati putingku.
“Semua teman wanita yang kukenal tidak ada yang suka memakai pantyhose atau stocking. Aku suka sekali pergi ke pameran mobil berskala besar karena SPG nya cantik-cantik dan hampir semuanya memakai pantyhose. Sampai akhirnya aku melihat kamu memakai kemeja lengan pendek putih, rok coklat dan pantyhose. Rasanya aku ingin langsung bercinta dengan adik teman baikku ini.
Angela meninggalkan putingku dan mengulum mulutku, tangannya semakin agresif memainkan penisku.
“Bagaimana dengan Angela, keliatannya kamu juga suka.”
“Sama seperti Ko Indra… pertamanya aku tidak begitu suka, namun karena iseng maka aku membeli sepasang. Ketika aku memakainya, rasanya aku sedang terbang dan tubuhku terbuai. Vaginaku rasanya seperti sedang bergetar. Akhirnya aku beli lagi beberapa pasang dan aku sangat menyukainya. Bekas cowoku yang tolol itu tidak suka. Aku tahu Ko Indra melihat aku dengan penuh nafsu, dan entah kenapa aku tidak merasa aneh atau takut. Ketika Ko Indra memegang pahaku, rasanya seluruh badanku menjadi lemas dan nyaman. Akhirnya aku sadar kalau aku juga menyukai pantyhose. Apa Ko Indra sudah sering melakukan ini?”
“Belum, percaya atau tidak Angela adalah yang pertama.”
“Lebih enak mana sama masturbasi?”
“Tentu saja lebih enak bercinta dengan Angela.”

Tiba-tiba Angela bangkit dan mencari sesuatu di lantai. Semua pantyhose yang ada di taruh di atas tubuhku. Tubuhku bergetar merasakan sentuhan lembut dari pantyhose yang lembut. Angela mengambil sebuah stocking berwarna putih transparan, kemudian mrenyarungkannya ke penisku. Getarn-getaran erotis menghujani kejantananku ketika stocking tersebut bergesekan dengan penisku. Sekarang celah kecil pada ujung kejantananku bertemu dengan garis jahitan pada ujung kaki stocking. Garis itu dengan lembut membelah celah kepala penisku.
“Stocking kondom.” Seru Angela dengan senyumnya yang manja. Stocking tersebut ditarik agak kencang sehingga membaluti seluruh bagian penisku seperti sebuah kondom.
Lidah Angela terjulur dan menjilati kepala penisku yang terbalut dengan kondom stocking. Rasanya beda dengan biasanya. Tidak lama kemudian kepala penisku pun hilang di dalam mulutnya yang seksi. Aku benar-benar tersesat dalam jalan kenikmatan duniawi yang tak terbayangkan. Permainan mulut dan lidah angela tetap tidak berkurang nikmatnya, malah bertambah nikmat. Aku terus mengerang nikmat.
Kuarahkan Angela pada posisi doggy style. Sambil memegang ujung Stocking pada pangkal penisku, ku masukan kejantananku ke dalam liang cintanya.
Vaginanya yang sudah kebanjiran menerima penisku tanpa gesekan yang berarti. Namun, tetap saja terasa berbeda. Aku tidak dapat menenggelamkan seluruh batang penisku, karena terhalang tanganku yang memegangi kondom stocking agar tidak lepas. Tidak kusangka Angela mengalami orgasme secepat ini. Badannya bergetar hebat dan otot-otot vaginanya menjepit erat kejantananku. Kutarik keluar penisku dan stocking kondomku benar-benar basah akan cairan cinta Angela.

Kuposisikan Angela sehingga dia yang berada di atas dan mulai bercumbu. Setelah beberapa saat, aku arahkan penisku ke dalam vaginanya. Angela memejamkan matanya dan merasakan kejantananku memenuhi seluruh ruangan di dalam lembah kenikmatannya. Angela mengulum telinga dan leher bagian kiriku yang sensitif. Kupegang pinggulnya dan kuangkat naik-turun. Setelah beberapa kali, Angela langsung melakukan gerakan memompa itu sendiri. Lama-lama makin cepat. Ia mengangkat pundaknya dan bertumpu pada kedua tangannya. Ia merasakan rangsangan yang luar biasa karena dalam posisi ini ia dapat dengan mudah merangsang G spotnya. Kuputuskan untuk membantu Angela mempercepat prosesnya. Ku tarik dan kutekan pinggulku ke bawah saat pinggul Angela terangkat dan ketika pinggulnya turun, langsung ku sodok ke atas.
Angela mendesah tiada hentinya. Angela benar-benar mendapatkan rangsangan ganda, karena batang penisku menggesek-gesek klitorisnya dan kepala penisku memberikan tekanan yang mantap pada daerah G spotnya.
“Oh… Ko Indra… ” Ku tatap wajahnya yang manis yang sedang merasakan getaran-getaran ekstasi yang hebat.
Bunyi ‘plak-plak’ terdengar nyaring setiap kali selangkangan kami bertemu.
Penisku tertarik keluar sampai ke ujungnya, kemudian langsung melesat ke dalam dengan cepat.
“Ko… Indra… nanti… keluarin… di dalam ya….”
“Nanti kalau hamil bagaimana?”
“Lagi masa… tidak subur…”
Aku semakin terpacu dan bersemangat, Bidadariku menginginkan aku ejakulasi di dalam vaginannya.
Saat ini penisku pun sudah benar-benar dalam keadaan yang sangat sensitif.
“Ko Indra… aku dah… ga tahan lagi…”
“Sebentar ya… tahan sedikit lagi….” Aku menginginkan kami mencapai orgasme bersama-sama.

Beberapa saat kemudian,
“Ko Indra… Argh…”
“Angela…”
secara bersamaan kami mencapai puncak kenikmatan duniawi bersama-sama. Pinggulku terangkat ke atas dan pinggulnya menekan ke bawah dengan sepenuh tenaga, sehingga kejantananku tertanam dalam lembah cintanya dalam-dalam.
Sebuah gelombang orgasme yang panjang mengawali puncak kenikmatan kami.
Angela berteriak seiring dengan gelombang pasang naik orgasmenya yang dahsyat. Orgasme yang kami rasakan serasa tiada habis-habisnya. Penisku mengeluarkan madu putihku terus menerus karena diperah oleh otot-otot vaginanya yang terus berkontraksi. Angela pun merasakan hal yang sama, orgasmenya serasa tiada akhir.
Akhirnya Angela roboh kehabisan tenaga dan jatuh di dalam pelukanku. Nafasnya masih memburu dan keringat membasahi sekujur tubuhnya. Kami saling berpelukan tanpa memisahkan diri.
Kubelai-belai punggung dan kepalanya.
“Angela… kamu benar-benar hebat… tidak kusangka kita bisa berorgasme sepanjang dan selama ini…” pujiku.
“Ko Indra yang hebat… aku benar-benar beruntung… Ini adalah pengalaman seks ku yang paling hebat..”
Kubelai Angeladengan penuh kasih sayang.

Tidak lama kemudian kami masuk kamar mandi bersama-sama. Air pancuran yang hangat membawa kesegaran yang menenangkan. Ku gosok tubuh Angela yang mungil dengan sabun. Ia pun melakukan hal yang sama. Tanganku meluncur di atas tubuhnya yang licin dan basah. Payudaranya tidak dapat kuremas karena licinnya sabun. Tubuhku kembali diselimuti dengan perasaan erotis yang sensual. Tidak dapat dihindari lagi, kejantananku langsung terpanggil dan menyahut dengan siaga.
“Ko Indra…” seru Angela dengan nada yang takjub.
“Masa Ko Indra terangsang lagi? Padahal kan tadi kita sudah ML begitu lama, dan Ko Indra pun sudah orgasme beberapa kali. Masa sekarang sudah ereksi lagi?”
Angeka membelai-belai penisku yang masih diselimuti oleh sabun.
“Angela sayang, ini semua gara-gara Angela. Siapa suruh Angela begitu cantik dan seksi, sampai adik kecil pun tidak dapat menahan nafsu. Apa Angela suka?”
“Tentu saja aku sayang sekali dengan si kecil yang perkasa, yang sudah membuatku orgasme berkali-kali dan merasakan kenikmatan yang tidak ada bandingannya.”
Angela segera membersihkan sabun yang ada pada kejantananku. Tanganku meremas-remas vaginanya sambil membersihkan sisa-sisa sabun.
Raut wajah Angela terlihat penuh dengan antisipasi atas apa yang akan berikutnya terjadi. Setelah bersih, Angela langsung mengarahkan penisku ke vaginanya. Kejantananku berada di dalam kenikmatan duniawi yang hangat dan basah. Di bawah siraman air hangat kembali kami bersetubuh dengan penuh nafsu.
Desahan manja dan kenimatan bercampur menciptakan rangsangan exotis. Irama persetubuhan kami makin lama makin cepat. Angela memeluk tubuhku erat-erat supaya tidak jatuh lemas. Dengan kaki kanannya yang kutahan dengan lenganku, penisku meluncur jauh ke dalam dan keluar sampai ke ujungnya.
Bagaikan koreografi pada sebuah film yang berkualitas, kami mengalami puncak kenikmatan secara bersama- sama. Suara desahan meluncur keluar, tubuhku bergetar dengan hebat. Seperti yang telah Angela antisipasi sebelumnya, kenikmatan orgasmenya menguasai semua akal sehatnya. Di dalam hatinya, ia telah menyerahkan tubuhnya, perasaannya, semuanya untuk kenikmatan yang telah kuberikan.

Saat-saat ku bersama dengan Angela adalah romantika yang indah penuh dengan nafsu. Kami masih sering bertemu dan bersetubuh dengan hebat dan liar. Entah kenapa, kami tidak pernah memutuskan untuk menikah.

Monday, February 9th, 2009

Leslie Janda 20 Tahun, Nikmatnya tubuhmu

Konon ngentot Janda terasa lebih nikmat. Dari membaca cerita dewasa ini saja aku sudah bisa membayankan betapa nikmat tubuh mbak Leslie, janda berusia 20 tahun ini. Berikut pengalaman seorang pencuci mobil yang dapat menikmati tubuh sintal Leslie, janda berusia 20 tahun.

Aku seorang pemuda yang baru menginjak usia 16 tahun, dan untuk menambah uang sakuku, aku bekerja sebagai pencucu mobil tetangga. Kendaraan kesukaanku adalah mobil tetangga Leslie. Pertama dia memiliki kendaraan audi yang cantik dan kedua pemilik kendaraan tersebut memiliki tubuh yang sangat seksi! hahaha..

Bagiku yang masih bau kencur ini, pemilik mobil tersebut yang jauh lebih tua dariku (usia 20 tahun) tetap memiliki aura gadis muda yang erotis walaupun kini ia hidup terpisah dengan suaminya karena kasus selingkuhan sang suami dengan salah satu pegawai admin di kantor tersebut.

Aku telah menyelesaikan tugasku (mencuci mobilnya) dan segera menekan bel pintu rumahnya untuk memberitahukan bahwa tugasku telah selesai.

Aku mendengar suara dari dalam, “Masuklah”.

Aku membuka pintu dan segera masuk.
Leslie segera turun dari anak tangga dengan mengunakan handuk mandinya.
Handuk tersebut sangat kecil sehingga sedikit saja keatas maka bagian kemaluannya akan terlihat jelas.

“Ma’af”, jawabku malu melihat kondisi demikian. “Rasanya anda memperkenankan saya masuk”

“Tidak, saya tadi bilang saya akan segera datang.” Dia menjelaskan. “Tapi, sudahlah tidak apa.”

“Mobilnya telah siap.” Balasku kembali.

“Berapa, $5 nggak masalah?” Dia bertanya.

“Tidak apa.” balasku kembali.

Mbak Leslie melihat disekeliling ruang tamu dan mengambil tasnya yang berada di sofa kursi.

Ia mencoba meraih tas tersebut sambil menahan handuknya. Satu tangan menahan handuk, tangan lainnya berusaha membuka tasnya.
Karena tas tersebut agak sulit dibuka dengan satu tangan, ia berusaha dengan cepat melepaskan tangan satunya untuk membantu membuka tas tersebut. Sedangkan handuk tersebut hanya sedikit terkunci melipat.
Dia berusaha mengatur posisinya agar aman bagi handuknya…tetapi handuk itu malah slip dan mencoba melorot. Gerakan refleks tangannya terlambat untuk menahan handuk yang terlepas tersebut.

Aku melihat sebuah pemandangan payudara yang sangat mengasyikan dan mengagumkan!
Aku menelan air ludah.!

Setelah dibenahi kembali posisi handuk tersebut, ia mengeluarkan sejumlah uang dari tasnya dan itu cuma $3.

“Hmmm…sepertinya kurang”, gumamnya… kemudian ia kembali membuka tasnya dan berusaha menekan handuknya dengan kedua sisi lengan tangannya.

Dlm pencarian sisa $2 tsb, handuk tersebut terlepas kembali dan kali ini ia membiarkan saja.

Oh…my….god..payudara begitu kencang, bulu vagina yang begitu halus dan rapi serta pinggul dan pantat yang sangat mengembang!
Perfect body!!!!

“Ia bergumam datar tanpa menoleh kepadaku; kupikir kamu tidak masalah dengan segitu saja?”. Dan terus fokus untuk mencari sisa uang dalam tasnya

“Tidak.” balasku.

“Baiklah, kalau begitu.Aku akan memberikan sisanya esok saja.” Ia membalas cepat.

“Bukan, bukan itu maksudku (masalah sisa uang tsb),” balasku sambil melotot memandang tubuhnya. “Saya belum pernah melihat pemandangan seperti ini sebelumnya, maksudku.”

“Benarkah?” Dia bertanya kalem.

“Ya…hanya di buku dan tv.” balasku.

“Jadi bagaimana menurutmu?” Dia bertanya sambil mendekat.

“Anda begitu cantik sekali.” kataku sedikit gemetar.

“Terima kasih.” Dia membalas sambil berada tepat sejengkal dihadapanku. Aku dapat merasakan panas dari tubuhnya.

Leslie kemudia menarik tanganku dan menempelkannya diatas payudaranya, lembut…kejal….dan celanaku menjadi tidak karuan bentuknya. AKu merasa tidak nyaman dengan posisi penis didalam celanaku.

Leslie meraih ikat pingangku dan membuka kancing jeans ku. Dan melorotkannya!

Penisku mengembang didalam celana dalamku dan mengarah kesamping.

Kemudian ia meraih penisku dari dalam celana dalamku. Saat yang kunanti telah tiba.

“Kamu sudah besar ya…”jawabnya pada penisku sambil tersenyum. “Biar aku yang mengurusmu!.” katanya nakal pada penisku sambil menyentil kemaluanku.

Aku hanya diam seribu bahasa. Ia menarikku untuk tidur dilantai.
Kemudian ia menindihku.

“Aku yakin ini tidak akan lama.” katanya mengoda sambil mengerayangi tubuhku hingga menuju batang penisku.

“Ee…” hanya itu yang bisa aku ucapkan.

Aku merasa ia mencium penisku dan kemudian ada terasa hangat pada saat penisku berada dalam mulutnya. Tak terbayangkan rasa itu, dia berhenti sejenak dan kemudian melahap penisku sangat dalam hingga aku merasa menyenggol kerongkongannya.

Dia benar! Karena ini merupakan pengalaman pertama bagiku, aku tidak kuasa menahan semua tekanan darah dalam penisku. Penisku mulai mengencang hebat dan rasanya dengan hisapan demikian aku sudah tidak sanggup lagi untuk mencegah spermaku keluar.

Penisku menyemprot sperma dalam mulutnya!. Mbak Leslie tidak juga melepas lumatan penisku, ibarat bayi yang sedang menyusui…ia menghisap semua spermaku dan menjilat semua sperma yang masih membekas di penisku.

“Bagaimana rasanya…sayang?” Dia bertanya.

“Wowwww, enak sekali mbak.” balasku.

Ia kemudian berbaring disampingku. Aku berbalik dan segera menindihnya. Aku meremas dan mengelus semua bagian tubuhnya.

Aku bergerak kearah mulutnya dan segera melumat bibir mungil itu. Kamipun saling fiting lidah.
Aku mencoba meraih bagian vagina dengan tanganku dan segera menarik dan mengesek itil dari mbak leslie.

“Kalem dong sayang.” mbak leslie segera meraih tanganku dan membimbingnya untuk mengosok bibir dan clitorisnya dengan perlahan.

KAmi terus melanjutkan ciuman kami, kemudian ia menekan kepalaku kebawah menuju arah vaginanya.
Aku tahu ia ingin aku melumat vaginanya. Kulihat vagina itu sudah mulai basah dan aku mencoba menusuknya dengan jariku. Tetapi mbak leslie masih dalam kontrol yang baik, ia meraih tangaku untuk mengesek bagian luarnya lebih dahulu. Kulihat itil nya turun naik merasakan birahi yang sudah mulai naik pada wanita ini.

Kemudian ia memegang jariku untuk masuk dalam vaginanya.

Jarikupun masuk sedalamnya dalam vagina mbak leslie. Tak lama kemudian kedua paha mbak leslie merapat dan menjepit jariku. Kurasakan gerakan ‘kembang kempis dan panas’ dalam vagina tersebut.
Sepertinya vagina tersebut lagi berusaha ‘mengemut’ jariku!.

Aku hanya bisa menatap tubuh dan wajahnya yang cantik. Rambutnya yang terurai berantakkan menambah kekagumanku atas tubuh wanita ini.

“Apakah kamu berfikir ini sudah nikmat?” Dia bertanya mendadak.

“Ya.” balasku.

“Ohhh…belum sayang.” balasnya kemudian.

Dia melepaskan jariku dalam vaginanya dan mandorongku untuk tidur dilantai. Kemudian dengan cekatan ia sudah berada diatasku. Ia meraih penisku dan mengarahkan dalam vaginanya.

Dia benar, saat penisku mulai sedikit demi sedikit memasuki vaginanya, pikiranku kosong dan menerawang entah kemana. Hingga vagian itu menelan semuanya dan menyentuh buah zakarku….aku seperti terbang tinggi.

Kemudian ia melipatkan kakinya dan layaknya seorang joki, ia mengangkat cukup tinggi pantatnya dan menghujamkan dengan keras pada penisku….wooooowwwww…..that’s really fucked!!!!

Dan mulailah irama tungangan kuda yang cukup kencang dilakukan mbak leslie.
Penisku dipelintir kesana kemari. Kiri-kanan, maju-mundur….

Sepertinya ia ingin mematahkan batang penisku !

“Ini nikmat sekali tante…!.” kataku menjerit.

“Aku membutuhkan itu.” Dia membalas sambil terengah-engah. “3 bulan kesendirianku akan kubalas padamu!” Katanya geram sambil menghempaskan vaginanya pada penisku!

Sepertinya mbak leslie menumpahkan semua birahi terpendam akibat kejengkelan dengan sang suami.

Ini bagaimana cara ia mengenjot penisku dengan ‘kasar’. “Bisakah kau rasakan ini?” balasnya sambil mengigit bibirnya sendiri dan membengkokkan penisku kedepan.

Aku merasa penisku ditarik dan dikait vagina mbak leslie kesana kemari.

Rasanya sedikit keras dan sakit…tapi tetap kurasakan rasa nikmat yang liar dari style seperti ini….

“Bagaimana dengan ini?” sambil ia memaksa memasukkan sedalam-dalamnya penisku dalam vaginanya.
Mimiknya sedikit geram pada tubuhku, dan rasanya ia ingin menelan buah zakarku….liar sekali…

Tak ada genjotan yang halus!…..Semua sentakan dan benturan mengunakan tenaga kuda!

Tak ada yang dikurangi…’Bagaimana dengan ini…hah?!” sahutnya geram sambil menghujamkan vaginanya dalam penisku dan digoyangnya pinggulnya sehingga membuat batang penisku seperti melintir….

Liar sekali….!..ia seperti kerasukan setan!…

Aku merasakan spermaku sudah akan keluar kembali…”Mbak aku sudah tidak kuat..” balasku memberitahunya….

“Tak apa sayang…keluarkan saja apa yang kamu punya..” jawabnya sambil terengah-engah.

“Didalam?”, balasku lagi…

“He…eh…” balasnya sambil menghujam penisku bertubi-tubi….

Ia menunduk dan mengigit putingku….”auwwww…” teriaku sedikit menjerit…

“Pelan2 mbak..”, pintaku…

Mbak leslie tidak perduli sambil terus mengigit putingku kiri dan kanan, ia memutar pantatnya seperti gilingan!

Aku sudah tidak kuat…Mbak aku sudah hampir mau keluar…!

“Sabar sayang, mbak juga….kita barengan..” pintanya.

Dan akhirnya ia berkata, “kamu siap?”, sambil terus memompa penisku dengan irama yang sungguh cepat!

“Yaaaa…”,balasku.

Dan karena tak kuasa lagi, kusemprotkan spermaku dalam vagina itu, serrr…serrr…serrr…
3x kali kusemprotkan spermaku dalam vagina mbak leslie dan rasanya nikmattttttttttt sekaliiiiii.
Sepertinya “kedutan” vagina itu siap2 untuk hal yang sama…
Dan tak lama kemudian segera ia bangkit mengangkangiku dan menyuruhku untuk menyodok semua jariku dalam vaginanya….

Lima jariku-pun kumasukkan dalam vagina tersebut…dan kusodokkan keluar masuk….

“Aku sudah mau keluarrrr….” jawab mabak leslie berteriak panjang.

Dan benarlah…jemariku semakin merasakan “jepitan kedut-kedut’ dalam vagina itu…

Kemudian tiba2 ia menarik dan mengeluarkan tanganku…dan memberikan vaginanya ke arah mukaku…

“Masukkan lidahmu sayang….masukkan!”, perintahnya sedikit memaksa!

“Owww…geli bercampur ngeri…”, bathinku…

Vagina itu nampak becek sekali akibat spermaku!

Mbak leslie segera menjambak rambutku dan menyodorkan mukaku secara rapat ke vagina nya…

“Masukkan sayang lidahmu…dan mainkan!”, katanya memohon sambil memaksa.

Aku memasukkan semua lidahku dalam vagina itu dan mengerakkannya seperti ular dalam gua…

Ia menuntaskan dengan mengeluarkan sperma nya dalam kurun waktu yang cukup lama pada lidahku dan sperma itu mengalir masuk dalam mulutku…Ia berteriak keras, “ouwwwwww….yess….yessss..”, entah berapa kali semprotan halus spermanya menyentuh lidahku.

“Suck me babe…suck me”, katanya sambil menjambak rambutku.

Rasanya lama sekali ia mengeluarkan pejuh nya….

“Rasakan itu…boy…rasakan!”, cerocosnya ngawur dan geram..

Ia benar2 menumpahkan semua orgasmenya pada mulutku!

“Ooohh…yeah…that’s right….”, katanya sedikit mengakhiri orgasme tersebut.

Aku tidak bisa berbuat apa2…jambakannya begitu keras dan dengan kepalaku yang sedikit mengangkat, maka sperma campuran itu tertelan olehku…

Asin…anyir…dan aku rasanya mau muntah….

“Oooohhhh….yesss…”, jawabnya lega sambil belum melepaskan jambakan tanganya pada rambutku.

Seolah ia ingin aku menghabisi semua sperma yang ada pada vagina tersebut..
Aku sudah tidak tahan dan segera aku berontak….karena aku tersedak hebat dan mau muntah jika dipaksakan terus….

Akupun melompat dan segera kuhempaskan kesamping tubuh mbak leslie…

Aku terbatuk dan tersedak…Ku keluarkan sisa sperma yang masih ada dalam mulutku…

Mbak leslie hanya memandangku dengan tertawa kecil dan puas…

“Bagaimana sayang..?”, jawabnya lemas sambil tersenyum

“Luar biasa mbak..”, jawabku sekenanya setelah kondisiku sudah mulai tenang.

“Kalau ada waktu, kita lakukan ini kembali ya say…”, balasnya meminta.

“Ya…kita lihat nanti gimana keadaanya..”, balasku capek.

“Benarkah?” balasnya.

“Ya”, jawabku enteng.

Akhirnya kami sudahi permainan tersebut, dan uang $5 tidak jadi kuambil…

Rasanya pengalaman ini jauh lebih berharga.

Akhirnya kami melakukan kembali pada waktu tertentu, hingga akhirnya ia memutuskan pindah ke negara bagian karena kasus cerai dengan mantan suaminya telah selesai.

Selamat tinggal mbak leslie…kataku dalam hati menghantarkan kepergiannya.

Sunday, February 1st, 2009

Bercinta di Pinggir Kolam, Nikmatnya …..

Bercinta, dimanapun jadi. Posisi sekenanya juga masih terasa nikmat. Semakin aneh lokasi ngeseks nya, semakin nikmat rasanya. Berikut pengalamanku dengan Andrew, bercinta di pinggir kolam. Lanjut aja baca cerita dewasaku dibawah ini.

Andrew mengubah posisinya, kembali ke posisi semula. Duduk di tepi masih di dalam kolam, melebarkan tangannya mengajakku ke pangkuannya. Dibuka kakinya lebih lebar lagi. Diputar pantatku hingga membelakanginya. Kuikuti arahan tangannya. Perlahan diturunkan pinggangku sangat hati-hati.. bless..
“Agghh..” bersamaan kami mengerang. Penisnya masuk ke lubangku.

Andrew memeluku, mendekapku. Tak ada gerakan lain, yang kurasa ditekannya pinggulku lebih dalam. Wowww.. akhirnya.. kurasakan juga penisnya

Untuk sesaat, aku merasa asing dengan keadaan sekitar. Mendengar dengkur halus di sebelah, baru kusadar, jika sedang bersama Andrew. Perlahan aku menuju kamar mandi yang berada di kamarnya. Bersihkan tubuhku sekenanya.
“Lapar’ ujarku dalam hati.

Kutengok jam weker di sebelah tempat tidur, sudah jam 10 lewat. Kaos longgar kemarin sudah kotor. Karena tak ada pilihan kupakai saja handuk dari kamar mandi, tanpa bra dan CD. Aku menuju dapur. Kudapati beberapa roti isi di meja kecil. Menurut Andrew, ada bibi yang selalu mengurus rumah dari Senin hingga Jumat. Jadi makanan selalu tersedia. Sambil membawa segelas air jeruk dan roti, aku berjalan ke teras belakang rumah. Taman belakangnya tertata rapih. Kubuka pintu dan melihat sekitar. Mmm.. ada kolam kecil di pojok kanan. Kurasa bukan kolam ikan karena warna kolamnya seperti kolam biasa.

Aku duduk di teras sambil menikmati sarapan kecil. Kembali terbayang apa yg terjadi malam sebelumnya. Tanpa sadar, aku meraba-raba paha hingga ke pangkal. Hingga handukku tersingkap, memperlihatkan bulu-bulu halusku. Mmm..

“Oh.. di sini rupanya” suara di ambang pintu memecahkan keheningan.
“Hey.. pagi..” ujarku. Andrew duduk di sebelah dengan menggunakan celana pendek sambil menghisap rokoknya perlahan. Pasti cuma celana pendek aja deh.
“Pagi, non. Lagi ngapain?” liriknya ke tanganku di pangkal paha.
“Lagi asik sendiri” Aku hanya tersenyum lebar.
“Itu apa, Drew?” tanyaku sambil menunjuk ke kolam.
“Jacuzzi.”
“Oh..”
“Udah pernah belum duduk-duduk di jacuzzi?” tanyanya sambil menggigit roti dari genggaman tanganku kemudian diteguknya air jeruk dari gelasku.
“Belum” sahutku sambil menggeleng.
“Ya udah, kita basah-basahan aja di situ. Sekalian mandi” sahutnya ringan.
“Haa..? di luar?”
“Ketutup semua kok. Yuk..” sahutnya sambil bangkit dan berjalan menuju jacuzzi. Tidak lupa membawa asbak, rokok dan pemantiknya.

Aku melihat sekeliling. Memang benar, tertutup. Tidak ada rumah tetangga yang terlihat. Bagian belakang pun tertutup tembok tinggi. Hanya langit biru yg terlihat.
Andrew menekan salah satu tombol di tembok. Kemudian kulihat air di dalam kolam mulai bergelembung dan berbuih. Ditunggunya beberapa saat, mungkin menunggu temperatur yang tepat.. kemudian Andrew menaruh peralatan rokok di pinggir kolam dan membuka celana pendek.
“Bener kan, ga pake CD” ujarku dalam hati sambil tersenyum.

Sementara Andrew sudah duduk di dalam, aku berjalan mendekat. Hmm.. keliatannya asik juga. Kolamnya ngga terlalu kecil, mungkin cukup untuk 6 orang. Pinggirannya dibuat sedemikian rupa hingga bisa digunakan untuk duduk Gelembung air keluar dari sisi dan dasar kolam. Kulihat tubuh telanjang Andrew, di antara gelembung air. Kumasukkan kaki ke air, penasaran.
“Mmm..hangat.” Kok ada sih yg mau punya jacuzzi di kota sepanas ini.
“Ngga kepanasan, Drew?”
“Ngga kok. Ini kan untuk relax. Ayo sini masuk.”

Yakin akan ucapannya, kutanggalkan handukku. Kulempar begitu saja ke rerumputan di sekitar kolam. Kutahu kalau mata Andrew mengikuti gerakanku. Tentu saja kunikmati diperhatikan begitu. Aku duduk di pinggir kolam. Kakiku masuk di air hangat dan badanku yang telanjang di luar. Sengaja aku agak berlama-lama di luar. Biar dia lebih puas memperhatikan tubuh telanjangku. Kuambil sedikit air dan kusiram perlahan ke paha. Ambil lagi sedikit kusiram di antara bulu-bulu halusku.. wahh.. anget..
Puas melihat Andrew semakin gerah.. perlahan kumasuki jacuzzi. Rasa hangat mulai menjalar ke tubuh. Aku duduk di sebelah Andrew. Kurasa airnya hanya sebatas bawah lipatan dada. Hanya karena bergelembung terus, kadang menutupi juga.

“Wow..” ujarku kemudian
“Gimana.. enak kan” di tengah hembusan rokoknya
“Iya” Kusandarkan tubuhku. Asik juga.
Tangan kanan Andrew kurasakan mngusap-usap pahaku. Sedikit menggosok lubangku juga.
“Coba deh taruh punggung kamu di dekat situ” Andrew menunjuk sisi yang mengeluarkan banyak gelembung. Kuikuti sarannya, bergerak perlahan ke kanan. Hati-hati kusandarkan punggung.
“Wahh..” benar-benar enak. Dorongan gelembung kurasakan seperti pijatan di punggung. Membuat dadaku terdorong ke depan dan menonjolkan buah dada ke atas permukaan air.
“Uhh.. nice..” seruku.

Andrew menghembuskan asap rokoknya panjang, matanya tak lepas dari dadaku. Aku hanya tersenyum menatapnya. Tak berapa lama, rokoknya dimatikan dan mendekati.
“You look so gorgeous” tangannya mengusap-usap buah dadaku. Aku yang masih menikmati pijatan di punggung, agak kelimpungan menerima usapannya.

“Mmmhh.. that’s nice too..” erangku tertahan.
Sambil berlutut di kolam, Andrew menundukkan tubuh dan mulai mencium dadaku. Menjilat puting dan menggigitnya perlahan.
“Hmm.. enak banget, Drew” aku menatapnya dg pandangan birahi sambil menjilat bibir bawahku.
“Want more?” tanyanya
“Iyah..” ujarku tertahan, seirama gigitan kecilnya di puting. Kuusap-usap kepalanya.

Tangannya meremas halus dadaku sementara lidahnya tak henti-henti menjilat. Tangannya yg lain kurasakan mengusap pahaku. Kugeserkan badanku sedikit menjauh dari dorongan air. Kalau tidak, mungkin aku tidak bisa menjaga keseimbangan. Kuletakkan kedua tangan di pinggir kolam dan menengadahkan kepala keenakan.
“Drew, enak banget” ujarku tertahan. Sungguh nikmat rasanya, apalagi di alam terbuka. Angin sepoi memberikan sensasi tersendiri.

Andrew semakin mempererat remasannya. Jarinya pun kurasakan sudah bermain di lubang vaginaku.
“Agghh..” kurasakan tusukan jarinya begitu nikmat. Gerakannya pun hanya perlahan, seakan sangat menikmati apa yg sedang dilakukannya.
“Din.. I wanna fuck you” bisiknya di sela-sela.
“Pleasee..” bisikku tertahan di belantara kenikmatan.
Tusukan jarinya berubah menjadi cepat. Bahkan semakin cepat, menandakan birahinya pun mulai menanjak. Aku semakin tak bisa menjaga keseimbangan tubuhku. Mengerang keenakan. Nafas Andrew pun terdengar semakin beringas. Semakin menambah gairahku. Semakin kubuka lebar kedua kakiku. Kecupannya naik ke leher. Mencari-cari bibirku yang tak henti mengerang. Diciumnya dengan nafsu. Lidahnya liar mencari lidahku. Hingga aku sukar bernafas.
“Fuck me, Drew” bisikku tak tahan lagi.

Andrew mengubah posisinya, kembali ke posisi semula. Duduk di tepi masih di dalam kolam, melebarkan tangannya mengajakku ke pangkuannya. Dibuka kakinya lebih lebar lagi. Diputar pantatku hingga membelakanginya. Kuikuti arahan tangannya. Perlahan diturunkan pinggangku sangat hati-hati.. bless..
“Agghh..” bersamaan kami mengerang. Penisnya masuk ke lubangku.

Andrew memeluku, mendekapku. Tak ada gerakan lain, yang kurasa ditekannya pinggulku lebih dalam. Wowww.. akhirnya.. kurasakan juga penisnya. Digigitnya halus punggungku. Sementara suara gelembung-gelembung buih terus menderu. Tak peduli. Kemudian diangkatnya pinggangku perlahan, sungguh mengasyikkan, merasakan gerakan penis yg perlahan. Cengkramannya yg kuat dan kokoh membuat posisiku tak bergeming.

“Aggh..” diletakkannya lagi perlahan.. dilakukannya beberapa kali, naik dan turun perlahan.. perlahan.. hingga gerakannya semakin cepat. Cipratan airpun kurasakan di sela-sela benturan. Kuikuti gerakan tangannya yang mengangkat dan menurunkan pinggangku. Tiap kali diturunkan, kutekan lebih dalam. Ingin kurasakan seluruh penisnya masuk lebih dalam.
“Andrew..” tubuhku bergerak cepat seirama gerakan tangannya. Kugigit bibirku menahan gelora. Kuremas-remas buah dadaku, mengalirkan birahi.
“Ya sayang..”

keceprat ..keceprot.. prat.. prot.. bunyi air ikut memanaskan suasana.
Semakin cepat, semakin menaikkan birahi. Tangannya kemudian lepas dari pinggang mengambil kedua tanganku, membiarkan aku mengontrol. Kutekan telapak tangannya sebagai pijakan. Kini aku bisa menekan-nekan penisnya lebih dalam.

“Agghh.. Din.. enak..” erangnya.
Kugenjot tubuhku. Kuputar-putar pinggulku, menambah erangannya semakin keras. Kocok.. putar.. kocok.. putar.. gerakanku berirama. Keringatpun mulai membasahi muka dan tubuh, tak tahu apakah dari panasnya air ataukah dari panasnya birahi.

“Din.. ganti lagi yuk..” Andrew mendorongku perlahan berdiri tanpa mengeluarkan penisnya. Dibawanya aku ke posisi doggy style, masih di dalam kolam. Lebih mudah baginya. Tanganku bersandar di pinggiran agak menunduk. Andrew membuka lebih lebar kakiku. Bagian belakangku terbentang di hadapannya. Perlahan lagi Andrew mulai menghujam penisnya. Mendorong lebih dalam.
“Agghh.. ” aku terlena kembali.

Kedua tangannya memegang erat pinggangku. Hujamannya terasa nikmat. Mengehentakkan kembali birahi. Tiap kali Andrew mendorong penisnya, kudorong pantatku ke belakang. Eranganku pun semakin menjadi. Andrew mulai lagi dengan kejutannya. Tangan kirinya kurasa menahan perutku, tangan kanannya bermain-main di pantatku. Mengusap-usap. Meremas rakus. Hingga kemudian jarinya kurasa menuju lubang anusku. Diputar-putar sekeliling lubang. Aku ingin protes tapi genjotan di vaginaku semakin membuatku terbuai. Tak ingin kehilangan kenikmatan yang ada.

Andrew semakin terbawa gairahnya, kurasakan jarinya yang basah mulai menusuk-nusuk anusku. Semakin lama semakin dalam. Aku tersentak sesaat. Jarinya terhenti di dalam, tak bergerak lagi. Menanti apa reaksiku. Yang kurasakan.. aneh. Sensasi yang tak terungkapkan. Aneh tapi aku menikmatinya. Jarinya mulai bergerak lagi. Lebih dalam dan semakin dalam. Kemudian bukan hanya masuk, tapi juga dikeluarmasukkan. Dan iramanyapun berubah. Kali ini lebih cepat. Seirama sodokannya di vaginaku. Bahkan kurasa bukan hanya satu jari, bertambah menjadi dua. Aku semakin menggelinjang menerima 2 sensasi. Jari kirinya pun berpindah dari perut ke klitorisku. Mengusap-usap nakal. Birahiku pun semakin tak karuan begulat hendak meledak. Andrew semakin menambah kecepatan. Semakin beringas. Semakin tak terkendali.

“Andrew..aku hampirr..”
“Me too..”
Andrew memompaku lebih cepat, lebih garang. Nafas nafsunya pun semakin menjadi-jadi. Suara benturan kulit kamipun lebih terdengar. Suasana semakin panas. Semakin penuh dengan gairah birahi. Terbang ke puncak yg sangat panas dan membara.

“Andrew.. aghh..” akhirnya ledakan nafsuku pun tak terbendung. Bersamaan dengan meracaunya tusukan di anusku. Carianku membanjiri lubang vagina.
“Agghh..I’m cuming..” dicabut penisnya. Diarahkannya ke pinggiran kolam. Tubuhnya terdorong seirama semprotan mani. Wowww..

Sementara aku terduduk lunglai di pinggiran kolam. Mengatur napasku. Rasa nikmat memenuhi pikiranku. Nikmat, nikmat sekali. Kemudian kuraih penisnya. Kujilat dan kubersihkan bekas-bekas mani di sekeliling penis.
Ahh.. berbasah-basah di pagi hari. Di udara segar lagi. Sungguh mengasikkan.

Perlahan kami duduk kembali. Berdampingan. Kupandang Andrew yang bersandar dan masih terbawa kenikmatan.
“That was great” tangannya mengusap pipiku perlahan dan menuju bibirku.

Kucium halus jari-jarinya. “Yah..it was” ujarku tersenyum. Kupegang tangannya. “Nakal ya, masuk-masuk ke anus” ujarku lagi sambil memukul halus jari-jarinya.
“Tapi suka kan..” senyumannya sambil mencium pipiku.
Aku mengiyakan malu.

Masih kurasakan sensasi baru di lubang anusku. Bahkan sensasi nikmat di lubang vaginaku pun masih tersisa. Tubuhku masih sedikit bergelinjang. Keenakan.
Aku bersandar. Kuselonjorkan badanku hingga airnya menutupi sampai ke pundak. Mmm.. nikmatnya lebih terasa. Sesaat kemudian, yang ada hanyalah suara burung berkicau, buih-buih air yang berkelanjutan dan hampir saja aku tertidur. Benar-benar rileks. Kututup mataku menikmati.

Entah berapa lama aku terhanyut. Mungkin lebih dari 1/2 jam. Lupa akan sekeliling. Kubuka mata, ternyata, Andrew sedang menatapku sambil menghisap rokoknya. Aku ga dengar dia menyalakan rokoknya tadi.
“Hi sweetie..”
“Hi.. Kok ngga bangunin, Drew?”
“Why? you look so relax”
“Aku haus..” sambil menegakkan dudukku.
“Aku ambilkan air ya” ujarnya sambil beranjak. Kupandangi tubuh telanjangnya keluar kolam, mengambil celana pendeknya dan menghilang di balik pintu. Aku juga ingin keluar. Sudah terlalu lama berendam. Ujung-ujung jariku sudah mulai mengeriput. Aku beranjak keluar menuju handukku di rerumputan. Brr.. beda temperatur di dalam dan di luar kolam, menerpa tubuhku. Kulap badanku, rambutku, hingga kering. Kukenakan kembali handuk dan berjalan menuju ke dalam rumah.

“Udahan?” tanya Andrew yang sedang berjalan menuju ke pintu.
“Iyah, lama-lama di air ga enak juga”
“Duduk di sofa yuk. Aku ambil kimono dulu” mungkin dilihatnya tubuhku agak menggigil. Andrew menghilang ke kamar dan aku jatuhkan diri di sofa empuk. Andrew muncul lagi dengan berkimono dan memberikan satu kimono lagi untukku. Agak kebesaran, tapi lumayan menghangatkan badan.

Kami duduk santai sambil ngobrol ringan. Beberapa potong roti dari meja dapurpun ikut menemani.
“Drew..mm..biasa anal ya?” akhirnya keluar juga pertanyaan itu. Sudah mengganjal dari tadi.
Andrew hanya tersenyum. “Kamu belum pernah?”
“Itu tadi yang pertama kali”
“Trus??” tanyanya ingin tahu
Aku hanya tersenyum. “Enak kan..?” lanjutnya kemudian.
“Ingin rasa yang beneran?” sambungnya lagi.
Aku terbelalak. “Beneran? Pake itu kamu? Ngga ah.. takut” aku menggeleng.
“Coba aja dulu.. ” ujarnya santai. “Coba dulu pake dildo..” matanya menyelidik.
“Ihh..” tanpa sadar aku mencubit lengannya
“Auhh.. kok nyubit” ujarnya mengelus-elus bekas cubitan
“Abis kamu ada-ada aja sih”

Andrew sangat tahu bagaimana mewujudkan keinginannya. Siang itu kami terbuai lagi dengan panasnya birahi. Kali ini di sofanya yang empuk. Dari kecupan hangat, hingga liar, membara dan akhirnya.. dildo pun masuk ke lubang anusku. Bahkan penisnya. Sungguh pengalaman yang fantastis.. tak bisa kuungkapkan. Nikmat, sungguh nikmat.

Ingin kuceritakan lebih panjang, lebih mendetail. Tapi membayangkannya kembali, bikin aku kepingin lagi. Jadi sukar untuk menulis. Pembaca cukup membayangkan sendiri aja, ya. Pokoknya anal itu enak dehh..

Friday, November 28th, 2008

Pamer Istri

Hari ini kami menghabiskan malam dengan jalan-jalan di mall dan diakhiri dengan makan malam di restoran favorit kami. Kami berjanji bertemu di mall pondok indah. Istri ingin membeli beberapa cd music kesukaannya.

Kami bertemu di toko buku di Pondok Indah Mall. Istri terlihat cantik dan tegas dalam gaun kerja dia. Tapi entah kenapa wajahnya terlihat muram. Saya hampiri dia dan kecup bibir manisnya. Diapun tersenyum lagi.

Saya tanyakan kepadanya kenapa dia tampak muram. Dia dengan sewot menunjukkan rok nya yang tampak hitam terkena noda – entah noda apa. Dia segera mengajak keluar dari toko buku karena dia ingin membeli rok baru, dia malu memakai rok kotor itu. Padahal menurut saya noda itu tidak terlalu mengganggu kecantikan yang memakainya, tapi ya sudahlah… Saya menuruti saja.

Yang saya takuntukan memang terjadi. Untuk membeli satu buah rok atau celana aja, lamanya minta ampun. Sudah hampir satu jam dia belum memutuskan yang mana yang akan dibeli Dasar wanita. Akhirnya, dengan sedikit sewot saya minta dia segera membeli satu atau kita tidak jadi beli cd dan makan malam. Dia bilang kalau dia sebenarnya sedang bingung mau memilih rok/celana yang cocok dengan atasan dia.. (ya ampun). Sejenak saya melihat ada rok pendek dengan dua lapis kain yang masing-masing kain agak transparan (berlubang-lubang seperti jaring). Saya minta istri coba rok itu. Awal mulanya istri keberatan karena rok itu terlihat seksi dan menggoda, tapi setelah saya bujuk-bujuk akhirnya dia mau.

Kami berdua masuk ke ruang ganti. Istripun menanggalkan rok dia dan memakai rok tersebut. Memang setelah dipakai rok itu terlihat seksi di tubuh istri. Kalau diperhatikan, celana dalam putih istri pun agak terlihat tapi kalau sekilas diperhatikan hal itu tidak mengganggu. Kalau kain rok agak ditekan ke paha celana dalam putih dia akan semakin jelas terlihat. Istri merasa terganggu karenanya. Karena memang roknya berwarna gelap dan celana dalam istri berwarna putih.

Ahirnya saya punya ide. Saya minta istri melepas celana dalamnya.”Maksud papa, selama jalan-jalan ini aku gak pake cd?”, tanya istri saya.
“Yupe”, jawab saya pasti. Istri sempat tertawa.
“Nekad”, katanya. Tapi akhirnya dia melakukannya juga. Dia lepas celana dalamnya, dia berikan ke saya dan saya masukkan dalam tas saya.

Dengan dilepasnya celana itu, kaki istri yang kuning memang terlihat semua sampai ke pangkal bokong tapi paling tidak celana dalam istri tidak terlihat menggangu. Bahkan, saya yakin orang akan penasaran dengan penampilan istri. Akhirnya rok itu pun kami beli. Istri mencari toilet untuk ganti rok dan… Akhirnya malam itu istri tanpa CD

Kami pun langsung ke toko CD (compact disc lho, bukan celana dalam). Saya melihat rak lagu-lagu kesukaan saya dan istri ke rak yang lain untuk melihat koleksi lagu kesukaan dia. Dari jauh, saya melihat memang rok istri terlihat sangat menggoda. Apabila benar-benar diperhatikan dari samping, paha mulus istri yang kuning agak-agak terlihat dari mulai lutut sampai ke atas hampir pinggang (karena tertutup baju yang dia pakai). Kalau dari belakang dan depan tidak terlalu terlihat karena lipatan-lipatan kain rok itu terpusat di depan dan belakang. Benar-benar menggoda. Saya melihat para pria di sekitar rak istri tampak sibuk “melototi”, paha istri. Benar-benar lucu. Mereka sudah konsentrasi ke CD yang akan mereka beli lagi sepertinya.

Entah kenapa saya jadi horny. Saya dekati istri dan saya katakan kalau pria-pria disekitarnya memperhatikan pahanya. Istri ternyata sudah mengetahuinya.
“Saya horny”, kata saya.
“Saya juga, tapi saya pengen menggoda mereka lagi.”, kata istri.
“Jangan keterlaluan lho, nanti saya cemburu”, kata saya.
“Lihat aja…”, jawab istri saya.

Saya lihat istri menghampiri petugas toko untuk mencoba CD yang dia pilih. Di tempat coba cd itu ada tempat duduk kecil dengan kaki yang lumayan tinggi. Istri naik ke kursi itu dan memasang head phonenya. Dengan gayanya yang seperti tidak sengaja (saya tahu dia sengaja) dia silangkan kakinya dan sedikit menarik rok nya ke atas sehingga paha mulusnya terlihat. Orang tidak bisa mengintip dari depan karena dari depan ada penyangga CD Player, tapi dari samping kaki istri bisa hampir semuanya terlihat meskipun daerah paha nya tertutup dengan rok nya yang hampir tembus pandang. Benar-benar merangsang. Penis saya sakit karena ereksi dan terjepit celana dalam

Saya memperhatikan saja dari jauh. Beberapa saat kemudian, tampak ada anak muda yang mendekati istri dan berusaha menyapa. Dia mengajak istri kenalan dengan berbagai cara. Istripun meladeni. Saya memberi waktu kepada istri buat”menikmati”, hasil godaannya Akhirnya saya menghampiri istri. Istri mengenalkan saya kepada pemuda tadi yang ternyata bernama Yandi. Mengetahui istri ternyata bersama saya, kelihatan raut kecewa dan rikuh dari pemuda itu. Tapi apa peduli saya. Saya ajak istri saya untuk membayar CD yang kami beli dan kami segera keluar.

Kata istri, pemuda tadi sempat minta kartu nama tapi tidak diberi sama istri.
“Sekarang, mama horny banget lho, pa”, kata istri.
“Aku juga”, jawab saya.”Mau gak ngesex sekarang?”, asal saja saya tanya dengan berharap sisi wild istri keluar saat itu.
“Mau”, jawab istri. Jawaban yang saya harapkan tapi lumayan agak kaget juga
“Main di mobil aja yuk”, ajak saya.
Istri pun setuju. Kami segera bergegas ke mobil kami di lapangan parkir. Ternyata tempat parkir pondok indah mall sangat tidak mendukung, jadi di sana saya hanya bisa melakukan oral sex kepada istri sampai istri orangasme. Untuk sementara waktu, saya belum bisa melampiaskan nafsu saya di sana.

Kami kemudian naik ke mall lagi dan makan malam. Sekitar pukul 21:00 kami sudah keluar dari mall.
“Papa masih horny gak?”, tanya istri. Sebenarnya saya sudah tidak horny lagi tapi tidak ada salahnya kalau istri punya ide asyik lagi jadi saya jawab iya. Istri hanya tertawa saja. Dia menawarkan oral sex kepada saya. Saya pun setuju. Setelah keluar tol menuju rumah, kami mencari tempat yang pas buat istri melakukan oral sex kepada saya. Belum saya menemukan tempat itu, istri sudah mengangkat roknya tinggi-tinggi. Dia keluarkan dildo dari tasnya. Dia masukkan dildo itu ke vaginanya sambil mendesah-desah. Saya suka sekali melihat keisengan dia malam ini. Akhirnya karena tidak tahan, saya berhenti di depan sebuah bank dan saya minta istri mulai oral sex saya. Istri minta saya memainkan dildo ke vaginanya. Kami tidak bisa melakukan sex di mobil saat itu karena jalan sangat ramai dan sering sekali orang lewat dekat mobil kami.

Demikianlah, di perjalanan itu kami saling merangsang sampai orangasme.

Tamat

Friday, August 1st, 2008

Buah Dada Gadis Salon

Hari ini aku lelah sekali. Sehabis meeting tadi siang yang membosankan membuat badan dan pikiranku capai sekali. Aku memutuskan untuk pergi ke salon untuk sekedar creambath dan refleksi saat pulang kantor nanti.

Sambil menunggu jam pulang kantor aku browsing internet sambil menghirup secangkir kopi. Kubuka e-mailku dan kubaca beberapa surat dari pembaca. Banyak yang menyukai membaca pengalamanku, dan beberapa tidak. Aku hanya membalas kalau ceritaku tidak berkenan di hati pembaca, anggap saja cerita ini hanya fiksi belaka. Meski aku merasa tidak mendapat kepuasan, bila aku hanya membuat cerita fiksi belaka.

Setelah membaca beberapa cerita, nafsu birahikupun timbul. Kupanggil Lia sekretarisku untuk memuaskan nafsuku.

“Lia kemari sebentar,” kataku lewat telepon.
“Baik Pak,” suara Lia yang merdu terdengar.

Tak lama Liapun sudah muncul di dalam ruanganku.

“Kunci pintunya,” perintahku.

Lia tersenyum genit kemudian mengunci pintu ruanganku. Hari itu dia tampak anggun dengan pakaian yang sopan. Dengan baju yang longgar dan rok yang selutut, ditambah dengan syal yang melingkar di lehernya membuatnya tak kalah cantik dari biasanya. Walaupun dengan pakaian yang longgar seperti yang dia kenakan, buah dadanya yang besar tampak tersembunyi di balik bajunya.

“Ada apa Pak Robert,” tanyanya pura-pura tidak tahu.
“Wah.. Kamu kok kelihatan beda ya.. Pakaianmu kok nggak sesexy biasanya,” godaku ketika ia telah berada dihadapanku.
“Iya Pak.. Soalnya nanti sehabis pulang kantor saya diajak tunangan untuk makan malam bersama keluarganya,” jawab Lia sambil duduk di kursi di depanku.
“Tapi kamu tetap tampak cantik kok,” godaku.
“Ah.. Pak Robert bisa saja..”
“Ayo duduk di sini saja..” perintahku sambil menunjuk ke arah pangkuanku.

Lia tersenyum manis kemudian bangkit dari kursinya dan kemudian duduk di atas pangkuanku.

“Pak Robert habis baca cerita porno ya.. Pantas jadi horny” katanya setelah melihat layar laptopku.
“Iya sayang.. Apalagi setelah lihat kamu.. Habis kamu cantik sekali sih” rayuku sambil mengelus-elus pahanya.

Lalu kudekatkan bibirku ke wajahnya, dan Lia langsung menyambutnya dengan penuh gairah. Beberapa saat kita melakukan french kiss, sambil tanganku membuka kancing bajunya satu persatu. Tampak buah dadanya yang besar masih terbungkus oleh BHnya yang berwarna hitam. Kuciumi belahan dadanya sambil tanganku membuka pengait BHnya.

Buah dada Liapun mencuat keluar sambil bergoyang menggemaskan ketika pengait BHnya telah kubuka. Langsung kuciumi dan kujilati buah dada yang kenyal itu berikut putingnya yang dengan cepat mengeras menahan gairah.

“Ahh.. Sst.. Ahh.. Sstt” erang Lia ketika aku menikmati satu per satu buah dadanya secara bergantian.
“Enak Lia?” tanyaku secara retoris.
“Enak Pak.. Ahh.. Sstt.. Tapi jangan dicupang Pak.. Nanti tunanganku curiga.. Ahh.. Sstt” jawab Lia ditengah erangan kenikmatannya.
“Ayo buka pakaianmu sayang” perintahku setelah aku puas menikmati dadanya.

Liapun bangkit dan membuka pakaiannya satu persatu.

“Aku pengin kamu yang sepenuhnya aktif kali ini. Badanku sedang capai dan aku cuma mau duduk saja di sini. Mengerti Lia?” tanyaku sambil tersenyum.
“Ih. Pak Robert curang..” rengutnya manja.

Lia tampak tinggal mengenakan celana dalam mini di depanku. Dia mengelus-elus buah dadanya sendiri menggodaku.

“Jangan dibuka, lebih seksi begitu” kataku ketika dia akan membuka celana dalamnya.
“Pakai juga syalnya..” perintahku.

Liapun kemudian menghampiriku dengan hanya mengenakan celana dalam mininya dan sepatu hak tingginya. Penampilannya tambah sensual dengan syal yang melingkar di lehernya yang jenjang. Dia kembali duduk di atas pangkuanku. Kuciumi kembali bibirnya sambil meremas-remas buah dadanya yang padat menjulang itu.

Lia kemudian bangkit dan berjongkok di depan kursiku. Dibukanya retseleting celanaku. Aku membantunya dengan membuka sepatuku dan sedikit berdiri, agar dia dapat mudah membuka celanaku. Tak lama celana dalamkupun telah dibukanya. Kemaluankupun langsung mencuat di depan wajahnya yang cantik jelita itu.

“Wah.. Sudah tegang banget nih Pak,” godanya sambil kemudian menjilati kemaluanku.

Ditelusurinya kemaluan dan dihisap-hisapnya buah zakarku.

“Kamu suka Lia?” tanyaku lagi-lagi secara retoris.
“Siapa sih yang nggak suka.. Besar banget..” katanya terputus karena kemudian dengan lahap dia sudah mengulum kepala kemaluanku.

Rasa nikmat menjalar dengan cepat ke seluruh tubuhku. Lia dengan rakus menghisap kemaluan bosnya ini.

“Ehm.. Ehm..” gumamnya ketika mulutnya memberikan kenikmatan luar biasa pada syaraf-syaraf kemaluanku.

Aku hanya duduk di kursiku sambil mencengkeram lengan kursi menahan kenikmatan. Sesekali kusibakkan rambutnya agar aku dapat melihat kemaluanku menjejali mulut sekretaris cantikku ini. Tampak pipinya yang putih bersih menggelembung disesaki kemaluanku. Setelah puas dihisap, aku suruh Lia untuk berdiri.

“Ayo sayang.. Menghadap ke pintu.” perintahku.

Liapun kemudian menaiki pangkuanku dengan tubuhnya membelakangiku. Disibaknya celana dalam yang ia kenakan, kemudian Lia mengarahkan kemaluanku ke dalam vaginanya yang sudah basah oleh gairah mudanya.

“Ahh.. Yes..” jeritnya tertahan ketika kemaluanku mulai menerobos liang senggamanya.

Liapun kemudian menggerakkan pantatnya naik turun sementara aku memegangi pinggangnya yang ramping.

“Oh.. Pak.. Enak.. Terus Pak.. Oh.. My god..” Lia mulai meracau menahan kenikmatan yang diberikan kemaluanku yang memang ukurannya di atas rata-rata ini.

Lia terus bergoyang di atas pangkuanku, sambil tangannya meremas-remas buah dadanya sendiri.

“Pak.. Enak.. Oh.. Lia hampir sampai Pak..” erangnya lagi.

Tak lama badan Lia menegang sambil dia menjerit tertahan. Aku merasa kemaluanku semakin basah oleh cairan vaginanya. Rupanya dia telah orgasme. Setelah orgasme, dia menghentikan goyangannya.

“Lia.. Kok berhenti gimana sih? Aku belum puas nih!” kataku pura-pura marah.
“Jangan kuatir Pak Robert.. Lia pengin minum sperma Bapak.. Lia suka. Boleh khan?” pintanya genit.
“Hmm.. Boleh nggak ya..” godaku, “Say the magic word first!!” perintahku.
“Please.. Please..” rengek Lia sambil menciumi pipiku.
“OK deh.. Karena saya sedang baik hati.. Boleh deh..” kataku.

Liapun kemudian kembali jongkok dan kembali kemaluanku menjejali mulutnya. Setelah beberapa menit dijilat dan dihisap, akupun mengalami orgasme di dalam mulut sekretarisku ini. Seperti biasa dia menjilati bersih seluruh kemaluanku.

“Ok Lia.. You are excused. Aku mau kembali kerja lagi nih” kataku setelah kami mengenakan pakaian kami masing-masing. Liapun tersenyum dan melangkah keluar ruanganku.

Aku masih berada di kantor meneruskan browsing internet. Karena sudah puas, aku hanya browsing berita-berita terkini. Tak lama Liapun masuk ke ruanganku.

“Saya pamit pulang dulu Pak”.

Dia telah tampak kembali anggun dan sopan serta luar biasa cantik mengenakan pakaian resminya.

“Kok buru-buru?” tanyaku, kali ini bukan pertanyaan retoris.
“Sudah dijemput tunangan saya Pak. Lagian takut macet dan terlambat”
“OK deh.. Salam buat keluarga tunanganmu ya” kataku sambil tersenyum.
“Baik Pak nanti saya akan sampaikan” jawabnya dengan suara resmi tapi terdengar merdu di telinga.

Satu hal yang aku suka darinya, biarpun aku sering menikmati tubuhnya, dia tetap berlaku sopan seperti layaknya seorang sekretaris pada bosnya.

*****

Sepulang kantor, tubuhku menjadi tambah penat sehabis mengerjai Lia tadi. Kuparkir Mercy kesayanganku di sebuah mall yang terletak tak jauh dari kantorku. Kubergegas menuju sebuah salon dengan dekorasi yang didominasi warna merah itu.

“Mau diapain Pak” tanya resepsionis yang cantik.

Kulihat namanya yang terpampang di dada. Anggi, namanya.

“Creambath sama refleksi” jawabku.
“Mari dicuci dulu Pak” Anggi menyilahkanku ke tempat cuci.

Tak lama pegawai salon yang akan merawat rambutkupun datang. Kuperhatikan dia tampak masih ABG. Dengan tubuh yang kecil dan kulit sawo matang tapi bersih, wajahnya pun tampak manis dan imut. Walaupun tak secantik Lia, tapi wajahnya yang menyiratkan kemudaan dan keluguan itu menarik hatiku. Tapi yang paling menyedot perhatianku adalah buah dadanya yang besar untuk ukuran tubuhnya. Dengan tubuh yang mungil, buah dadanya tampak menonjol sekali dibalik seragamnya yang berwarna hitam itu.

Perawatanpun dimulai. Pijatan Dian, nama gadis itu, mulai memberikan kenikmatan di tubuhku yang lelah. Tetapi tak kuduga setelah aku menyetubuhi Lia tadi, gairahku kembali timbul melihat Dian. Terutama karena buah dadanya yang tampak masih padat dan kenyal itu. Benar-benar sexy sekali dilihatnya, ditambah dengan celana jeansnya yang sedikit di bawah pinggang sesuai mode masa kini, sehingga terkadang perutnya tampak ketika dia memijat bagian atas kepalaku.

Setelah creambath, Dianpun yang memberikan layanan refleksi. Karena tempat dudukku lebih tinggi darinya, kadang ketika dia agak menunduk, aku dapat melihat belahan dadanya dari balik T-shirtnya yang kancingnya sengaja dibuka. Begitu indah pemandangan itu. Semenjak aku menikmati Tari, gadis SMP dulu, belum pernah aku menikmati ABG belasan tahun lagi. Terlebih dulu Tari berdada kecil, sementara aku ingin mencoba ABG berdada besar seperti Dian ini.

Akupun mengajaknya mengobrol. Ternyata dia baru lulus SMA dan berusia 18 tahun lebih sedikit. Mau melanjutkan sekolah tidak ada biaya, dan belum mendapatkan kerja yang sesuai. Dia bekerja di salon tersebut sambil mencari-cari kerja yang lain yang lebih baik.

Singkat kata, aku tawarkan dia untuk melamar di perusahaanku. Tampak dia berseri-seri mendengarnya. Aku sarankan sehabis jam kerjanya kita dapat mengobrol lebih jauh lagi mengenai pekerjaan itu. Diapun setuju untuk menemuiku di food court selepas pulang kerja nanti.

Jam 8.00 malam, Dian menemuiku yang menunggunya di tempat yang telah disepakati itu. Kupesan makan malam sambil kita berbincang-bincang mengenai prospeknya untuk bekerja di perusahaanku. Kuminta dia mengirimkan surat lamaran serta ijazahnya secepatnya untuk diproses. Kubilang ada lowongan sebagai resepsionis di kantorku. Memang cuma ada Noni resepsionis di kantorku, sehingga aku merasa perlu untuk menambah satu lagi. Setidaknya itulah pikiranku yang sudah diseliputi hawa nafsu melihat kemolekan tubuh muda Dian.

Sambil berbincang, mataku terus mengagumi buah dadanya yang tampak sekal menggiurkan itu. Ingin rasanya cepat-cepat kujilat dan kuhisap sepuas hati. Dian tampak menyadari aku menatap dadanya, dan dia tampak tersipu malu sambil berusaha menutup celah T-shirtnya.

Sehabis makan malam, aku tawarkan untuk mengantarnya pulang. Sambil meneruskan wawancara, alasanku. Dianpun tidak menolak mengingat dia sudah ingin sekali pindah tempat kerja. Terlebih penampilanku membuatnya semakin yakin. Di dalam mobil, dalam perjalanan, kuteruskan perbincanganku mengenai job description seorang resepsionis di kantorku. Sambil berbincang kucoba meraba pahanya yang terbungkus jeans ketat. Sesekali tangannya menolak rabaan tanganku.

“Jangan Pak.. malu” alasannya.

Sementara itu, nafsuku sudah begitu menggelora dan motel jam-jaman langganankupun sudah hampir tampak.

“Dian.. Terus terang saja.. Kamu memenuhi semua persyaratan.. Hanya saja kamu harus bisa melayani aku luar dalam untuk bekerja di perusahaanku.” tegasku sambil kembali mengerayangi pahanya. Kali ini tidak ada penolakkan darinya.
“Tapi Pak.. Dian nggak biasa..”
“Yach kamu mulai sekarang harus membiasakan diri ya..” kataku sambil meremas pahanya dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku membelokkan setir Mercyku ke pintu masuk motel langgananku itu.

Mobilku langsung masuk ke dalam garasi yang telah dibuka oleh petugas, dan pintu garasi langsung ditutup begitu mobilku telah berada di dalam. Kuajak Dian turun dan kamipun masuk ke dalam kamar. Kamar motel tersebut lumayan bagus dengan kaca yang menutupi dindingnya. Tak lama, petugas motel datang dan akupun membayar rate untuk 6 jam.

Setelah si petugas pergi, kuajak Dian untuk duduk di ranjang. Dengan ragu-ragu dia patuhi perintahku sambil dengan gugup tangannya meremas-remas sapu tangannya. Kusibakkan rambutnya yang ikal sebahu dengan penuh kasih sayang, dan mulai kuciumi wajah calon resepsionisku ini. Kemudian kuciumi bibirnya yang agak sedikit tebal dan sensual itu. Tampak dia hanya bereaksi sedikit sambil menutup matanya. Hanya nafasnya yang mulai memberat..

Kurebahkan tubuhnya di atas ranjang, dan langsung tanganku dengan gemas merabai dan meremasi buah dadanya yang ranum itu. Aku sangat gemas sekali melihat seorang ABG bisa mempunyai buah dada seseksi ini. Kuangkat T-shirtnya, dan langsung kujilati buah dadanya yang masih tertutup BH ini. Kuciumi belahan dadanya yang membusung. Ahh.. Seksi sekali anak ini. Dia masih tetap menutup matanya sambil terus meremas-remas sapu tangan dan seprei ranjang ketika aku mulai menikmati buah dadanya. Kubuka pengait BHnya yang tampak kekecilan untuk ukuran buah dadanya, dan langsung kuhisap dan kujilati buah dada gadis salon ini.

“Eh.. Eh..” hanya erangan tertahan yang keluar dari mulutnya. Dian tampak menggigit bibirnya sendiri sambil mengerang ketika lidahku menari di atas putingnya yang berwarna coklat. Dengan cepat puting itu mengeras pertanda siempunya sedang terangsang hebat.

Segara kulucuti semua pakaianku sehingga aku telanjang bulat. Kemaluanku telah tegak ingin merasakan nikmatnya tubuh gadis muda ini. Akupun duduk di atas dadanya dan kuarahkan kemaluanku ke mulutnya.

“Jangan Pak.. Dian belum pernah..” katanya sambil menutup bibirnya rapat.
“Ya kamu harus mulai belajar donk..” jawabku sambil menyentuhkan kemaluanku, yang panjangnya hampir sama dengan panjang wajahnya itu, ke seluruh permukaan wajahnya.
“Katanya mau jadi pegawai kantoran..” aku mengigatkan.
“Tapi nggak akan muat Pak.. Besar sekali”
“Ya kamu coba aja sedikit demi sedikit. Dimulai dari ujungnya dulu ya sayang..” perintahku lagi.

Dianpun mulai membuka mulutnya. Kusodorkan kemaluanku dan sedikit demi sedikit rasa hangat yang nikmat menjalari kemaluanku itu, ketika Dian mulai menghisapnya. Kuangkat kepalanya sedikit sehingga dia lebih leluasa menghisapi kemaluan calon bosnya ini.

“Ya.. Begitu.. Sekarang coba lebih dalam lagi” kataku sambil mendorong kemaluanku lebih jauh ke dalam mulutnya.

Kemudian kutarik keluar kemaluanku dan kuarahkan mulut gadis ABG ini ke buah zakarku.

“Sekarang kamu jilat dan hisap ini ya.. Sayang”

Dianpun menurut. Dijilatinya dan kemudian dihisapnya buah zakarku satu per satu. Demikian selama beberapa menit aku duduk di atas dada Dian dan mengajarinya memberikan kenikmatan dengan menggunakan mulutnya. Mulutnya tampak penuh sesak ketika ia menghisapi kemaluanku.

Setelah puas menikmati hangatnya mulut Dian, aku kembali gemas melihat buah dadanya yang membusung itu. Kembali kunikmati buah dadanya dengan mulutku. Kembali Dian mengerang tertahan sambil mengatupkan bibirnya. Sementara itu, akupun melucuti celana jeansnya dan sekalian celana dalamnya. Tampak vaginanya yang bersih tak berbulu seperti menantang untuk digenjot kemaluanku.

Tanganku meraba-raba vaginanya dan tak lama menemukan klitorisnya. Kuusap-usap klitorisnya itu, sementara mulutku kembali dengan gemas menikmati buah dadanya yang besar menantang. Terdengar dengusan nafas Dian semakin dalam dan cepat. Matanya masih menutup demikian juga dengan bibirnya. Tangannya tampak semakin keras meremas sprei ranjang kamar. Aku sudah ingin menyetubuhi gadis petugas creambath ini. Kurenggangkan pahanya sementara kuarahkan kemaluanku ke liang nikmatnya.

“Pelan-pelan ya Pak..” pintanya sambil membuka mata.

Tak kujawab, tapi mulai kudorong kemaluanku menerobos liang vaginanya. Memang dia sudah tidak perawan lagi, tetapi vaginanya masih sempit menjepit kemaluanku.

“Ahh..” jeritnya ketika kemaluanku telah menerobos vaginanya. Tak kuasa lagi dia untuk menahan jeritan nikmatnya.

Mulai kugenjot vaginanya, sambil kuremas-remas buah dadanya. Makin keras erangan Dian memenuhi ruangan itu.

“Ahh.. Ahh..” erangnya seirama dengan goyanganku.

Buah dadanya bergoyang menggiurkan ketika aku memompa vaginanya. Sesekali kuhentikan goyanganku untuk kembali menghisapi buah dadanya yang besar dengan gemas. Hampir 20 menit terus kupompa gadis manis pegawai salon ini. Tiba-tiba dia mengerang dan mengejang hebat tanda orgasme. Tampak butir keringat mengalir membasahi wajahnya yang manis. Kuseka keringatnya dengan penuh kasih sayang.

Kemudian kunaiki kembali tubuhnya dan kali ini kuletakkan kemaluanku diantara buah dadanya yang kenyal itu. Tanganku merapatkan buah dadanya, sehingga kemaluanku terjepit diantaranya. Nikmat sekali rasanya dijepit buah dada gadis ABG semanis dia. Mulai kugoyangkan badanku maju mundur sehingga buah dadanya yang kenyal menggesek-gesek kemaluanku dengan nikmat. Kadang kulepaskan kemaluanku dari himpitan buah dadanya untuk kemudian kusorongkan ke mulutnya untuk dihisap. Kemudian kembali kujepitkan diantara buah dadanya yang ranum itu.

Kira-kira 15 menit lamanya kemaluanku menikmati kenyalnya buah dada dan hangatnya mulut Dian. Akupun merasa akan orgasme, dan tak lama kusemburkan cairan ejakulasiku di atas buah dada Dian. Dengan kemaluanku, kuoleskan spermaku keseluruh permukaan buah dadanya yang sangat membuatku gemas itu.

“Pak.. Jangan bohong lho janji Bapak..” ujar Dian saat kami telah meluncur kembali di dalam mobilku.
“Oh nggak, sayang.. Cepat saja kamu kirim lamarannya ya” jawabku.

Dianpun tersenyum senang mendengarnya. Terbayang olehnya kerja di kantor yang merupakan cita-citanya. Akupun tersenyum senang membayangkan buah dada Dian yang akan dapat aku nikmati sepuasnya nanti. Kuturunkan Dian dipinggir jalan sambil kuberi uang untuk ongkos taksi.

“Terimakasih ya Pak Robert” katanya ketika dia turun dari mobilku.
“Sama-sama Dian” jawabku sambil melambaikan tangan.

Kukebut mobilku menuju jalan tol. Hari telah larut malam. Jalanan telah menjadi lenggang. Ingin rasanya cepat sampai di apartemanku setelah hari yang melelahkan ini. Tiba-tiba aku sadar kalau aku belum mentest secara seksama kemampuan Dian untuk menjadi resepsionis. Interpersonal skill, bahasa Inggris, telephone manner, dan lain-lain. Rupanya aku hanya terbuai oleh buah dadanya yang nikmat itu. Biarlah nanti bagian HRD yang mentestnya, pikirku. Kalau lulus ya diterima, kalau nggak ya nggak apa-apa. Toh aku sudah puas menikmati buah dadanya he.. He..

Kubuka jendela untuk membayar tol. Setelah membayar, langsung aku tancap gas melintasi kota Jakarta di waktu malam. Lagu “Breakin’ Away”nya Al Jarreau mengisi sepinya suasana dalam mobilku

Friday, May 2nd, 2008

Video Pilihan

toket montok video capturebuka baju liatin toket video capturevideo bokep video capture