Archive for June, 2008
Friday, June 27th, 2008
Nikmati Koleksi Foto Telanjang (gambar telanjang) serta cerita dewasa terbaik Indonesia di CewekIna.Net. Silahkan baca atau lihat koleksinya dibawah ini
Hari itu sudah jam 8 malam, dan saya masih sibuk mengetik proposal boss saya. Belakangan ini kantor konsultan asing di mana saya bekerja sebagai sekretaris memang sedang sibuk-sibuknya. Banyak perusahaan lokal yang meminta jasa kami dalam mereorganisasi perusahaan mereka.
Boss saya adalah seorang expatriat warga negara Perancis. Dia adalah seorang pria bujangan berusia sekitar 33 tahun yang sangat tampan. Dandanannya selalu rapi dan wangi. Hampir semua teman-teman wanita sekantor terpikat oleh pria ini. Saya sangat beruntung menjadi sekretarisnya, karena selain boss saya indah dipandang, dia juga seorang boss yang baik terhadap bawahannya.
Di sela-sela kesibukan mengetik proposal boss saya untuk besok hari, sesekali saya layangkan pandangan ke ruang tengah yang masih benderang. Di sana terdapat Mr. Maurice (boss saya), Mrs. Elisabeth dari Philipinnes, Bapak Edwin dan Mr. Gregory dari England. Rupanya mereka masih membicarakan rapat untuk besok hari.
Bapak Edwin katanya baru bercerai dengan istrinya. Heran saya, bagaimana istri tolol itu dapat meninggalkan sang officer muda yang sedemikian tampan dan cerdas. Saya sih mau mau saja menjadi istri pria Sunda itu. Dia terkadang tersenyum pada saya, tapi saya menganggap senyuman ramah dari seorang atasan untuk bawahannya.
Hhmm.., tampan sekali Mr. Maurice malam itu, Bapak Edwin juga sangat tampan. Kalau Mr. Gregory sudah tua, apalagi dia berjenggot, bikin muak saja. Ha ha ha.. Kadang saya suka membayangkan bercinta dengan Mr. Maurice sampai suka basah sendiri celana dalam saya. Beruntung sekali istrinya yang mendapat suami tampan seperti itu.
Satu jam berlalu, terlihat Mrs. Elisabeth meninggalkan ruangan untuk pulang. Begitu pula Mr. Gregory. Tinggal Mr. Maurice dan Bapak Edwin yang masih terlihat serius berdiskusi. Proposal yang saya buat pun sudah selesai, sekarang tinggal menge-print-nya. Sambil menunggu selesainya hasil print, saya membuka kancing kemeja. Saya elus-elus sendiri buah dada saya di balik kemeja biru yang saya pakai hari itu. Entah kenapa hari itu libido saya meninggi. Saya pejamkan mata sambil menaikkan kaki saya ke atas meja dan menyelipkan tangan kanan saya ke dalam celana dalam. Ah.., enak sekali.
Saya bayangkan Mr. Maurice lah yang sedang mengusap-usap puting payudara dan klitoris saya. Ohh.., nikmat sekali. Sesekali saya masukkan kedua jari ke dalam lubang vagina, dan saya rasakan kontraksi nikmat dari kedua paha. Saya pencet-pencet sendiri ujung puting saya yang menimbulkan saraf-saraf otak saya semakin meninggi. Saya goyangkan pinggul saya di atas kursi untuk mengimbangi kenikmatan masturbasi yang sedang merajai tubuh ini.
Tiba-tiba saya tersadar bahwa printer telah selesai bekerja, dan saya buka mata untuk melihatnya. Hati saya terperanjat sekali ketika mendapati Mr. Maurice dan Bapak Edwin sedang terpana melihat diri saya. Entah kapan mereka masuk ke dalam ruangan saya. Ah..! Malu sekali rasanya. Wajah saya merah membara dan segera saya rapikan kemeja dan rok pendek saya sambil mengambil proposal yang baru selesai diprint.
Tiba-tiba Mr. Maurice memeluk dari belakang, dengan tangannya yang kekar dia berusaha menolehkan wajah saya. Bibir saya dilumatnya dengan kasar. Saya tersentak dan berusaha melawan. Pada saat itu juga Bapak Edwin memegangi kedua tangan saya, membuat saya semakin memberontak ketakutan. Saya menjerit minta tolong, tapi saya sadar bahwa hanya kami sendiri yang ada di lantai 8 ini. Security ada di hall bawah tidak akan dapat mendengar jeritan saya.
Mr. Maurice menutupi mulut saya dengan tangannya, dan dengan bantuan Bapak Edwin, mereka menyeret saya ke sofa di ruangan Mr. Maurice. Rontahan saya sia-sia saja. Tangan Bapak Edwin sedemikian keras memegangi pergelangan saya, sampai sakit rasanya. Mr. Maurice kemudian membuka paksa kemeja saya sampai beberapa kancingnya copot, kemudian dia menurunkan BH saya, dan tanpa ragu-ragu melumat puting payudara saya.
Oohh.., saya tidak tahu apa yang saya rasakan. Antara rasa marah, kesal, benci, juga rasa nikmat bercampur aduk. Puting saya dipermainkan oleh lidah bulenya yang lebar dan panas. Ah.., membuat saya terpejam-pejam menahan nikmat. Sementara itu mulut saya dicium secara ganas oleh Pak Edwin.
Pak Edwin kemudian menggunakan kemeja satin saya untuk mengikat kedua pergelangan tangan saya di sofa. Jilatan mulut Mr. Maurice sudah turun sampai ke vagina. Saya meronta-rontakan kaki saya dengan sepenuh tenaga, namun saya tidak berdaya melawan desakan tangannya membuka kedua paha.
Sekarang kedua dengkulnya menindihi kaki saya. Saya lihat dia mulai membuka celana panjangnya. Tidak lama kemudian terbukalah batang kemaluan besar miliknya yang sudah sedemikian tegang dan memerah. Pak Edwin juga sudah mengeluarkan penisnya yang panjang dan besar, dia paksakan senjatanya memasuki mulut saya.
“Pak Edwin..! Jangan Pak..!” saya merintih penuh iba.
Namun Pak Edwin tidak mendengarkan ocehan saya. Batang kemaluannya yang besar segera memenuhi mulut hingga tenggorokan. Agak susah bernapas jadinya. Pantatnya dimaju-mundurkan, membuat mulut saya tersedak-sedak oleh penis panjangnya. Di bagian bawah saya rasakan sebuah benda tumpul yang besar dan panas memasuki vagina dengan paksa. Ouughh..! Besar sekali, agak susah masuknya. Saya sudah tidak dapat menjerit karena mulut saya sibuk dengan batang kemaluan Pak Edwin.
Walaupun saya mencoba terus meronta, namun sebenarnya saya sangat menikmati perbuatan kasar kedua atasan saya itu. Tangan Mr. Maurice memegangi paha saya lebar-lebar dan menancapkan batang besarnya secara cepat dan berulang-ulang. Saya merintih sakit bercampur nikmat setiap kali ujung kemaluannya menyentuh liang peranakan saya.
“Ohh.., oh.. ah..! Ampun Mister.., please stop it..! You hurt me..!” saya berusaha menjerit di antara batang kemaluan Pak Edwin yang keluar masuk mulut saya dengan cepat.
Mereka menikmati posisi itu selama 5 menitan, kemudian Mr. Maurice mengambil inisiatif untuk menunggingkan posisi saya. Tangan saya yang masih terikat di pinggir sofa. Saya agak terpelintir ketika dengan paksa dia menarik pantat saya dalam posisi dogie style. Sekali lagi dia memperkosa dari belakang. Batang kejantanannya terasa lebih besar dengan posisi ini.
Tidak terasa vagina saya menjadi basah karena sebenarnya saya pun menikmati permainan ini. Mulut saya mulai merintih-rintih nikmat.
“Oh God..! Ssshh..! Ahh..! Ooh..! Sshh..!” desah saya tidak ragu lagi.
Saya merasakan kenikmatan yang sangat dengan posisi itu, apalagi Pak Edwin sekarang mengulum puting payudara saya yang tergantung ke bawah sambil meremas-remasnya.
Giginya yang rapi sesekali menggigit halus puting saya, membuat saya serasa di awang-awang.
“Oh Yeaahh.., sshh.. oh..!”
Saya goyang-goyangkan pinggul untuk mengimbangi hempasan pinggul Mr. Maurice. Sesekali dia menampar pantat saya yang menungging ke arahnya dengan keras. Ah..! Nikmat sekali tamparan itu.
Pak Edwin rupanya tidak sabar ingin merasakan lubang kenikmatan saya. Dengan kasar dia membuka ikatan di pergelangan tangan, dan kemudian Mr. Maurice duduk di sofa. Pak Edwin mendorong tubuh saya untuk naik ke pangkuan Mr. Maurice sambil menghadap ke sofa. Sambil mencekram tengkuk saya, Pak Edwin meraih vagina saya dari pantat yang membuat saya dalam posisi menungging. Mr. Maurice di depan dan Pak Edwin di belakang. Saya hanya tersanggah oleh kedua dengkul yang terlipat di atas sofa.
Mereka kemudian memasukkan batang kemaluannya di vagina dan lubang pantat saya.
“Oohh..!” saya menjerit panjang ketika batang kemaluan Pak Edwin memasuki lubang pantat saya dari belakang.
Sakit, tapi saraf-saraf pinggul sangat terangsang oleh tusukannya. Sementara itu penis Mr. Maurice sudah kembali memasuki lubang kemaluan saya. Nikmat sekali rasanya digauli oleh kedua pria ini, baru sekarang inilah saya rasakan dua batang kemaluan memasuki tubuh ini sekaligus dari depan dan belakang.
Mulut Mr. Maurice menghisap-hisap puting payudara saya dengan kasar sambil terus menusukkan penis raksasanya. Pak Edwin menjambak rambut saya dari belakang sambil terus menghela batang kejantanannya keluar masuk lubang pantat. Saya meremas rambut pirang Mr. Maurice karena tidak tahan oleh kenikmatan yang saya rasakan. Dari mulut saya keluar desisan-desisan nikmat. Begitu pula saya dengar deruhan napas pendek dan tidak beraturan dari Pak Edwin yang membuat saya juga semakin bernafsu.
Keduanya menggauli saya dengan semakin cepat dan semakin panas, seperti sedang mengejar sesuatu. Akhirnya pertahanan kemaluan Mr. Maurice pecah, dan kedua tangannya menekan bahu saya ke bawah untuk memaksakan batang penisnya tetap di dalam liang kewanitaan saya ketika air maninya keluar. Oooh.., saya merasakan semprotan air maninya di dalam liang peranakan saya. Mr. Maurice mengerang kuat dengan mata terpejam dan merenggut rambut saya ke kanan dan ke kiri.
Sementara itu Pak Edwin sudah hampir mencapai puncak kenikmatannya! Helaan pantatnya semakin cepat, dan akhirnya ditumpahkan air maninya di dalam pantat saya sambil mengerang dan mencakari punggung ini. Baru kali ini saya merasakan semburan sperma di lubang pantat saya, sungguh nikmat.
Bagian bawah pinggul saya basah kuyup oleh keringat dan air mani kedua pria tampan itu. Pak Edwin menghempaskan dirinya di sofa, di sisi Mr. Maurice yang masih merasakan dirinya berada di langit ketujuh menikmati orgasmenya. Mereka kemudian memeluk dan menciumi saya dengan sangat lembut dan mesra, sambil meminta maaf atas perbuatan mereka itu. Saya pun mengakui kepada mereka bahwa saya sebenarnya sangat menikmati ‘perkosaan’ itu.
Kejadian malam itu tidak berhenti sampai disitu, karena sejak malam itu kami melakukan perbuatan ‘two in one’ itu secara berulang-ulang. Dan saya mulai dijadikan sebagai pemuas dan sarana pelampiasan nafsu mereka. Herannya saya menikmatinya hingga sekarang. Liburan musim panas kemarin, kami menghabiskan satu minggu di Ubud Bali hanya untuk memuaskan nafsu birahi kami bertiga. Itulah pengalaman saya bersama atasan saya di kantor yang berakhir dengan kegiatan yang berjalan dengan rutin.
Tamat
Read More
Posted in Uncategorized | No Comments »
Friday, June 27th, 2008
Nikmati Koleksi Foto Telanjang (gambar telanjang) serta cerita dewasa terbaik Indonesia di CewekIna.Net. Silahkan baca atau lihat koleksinya dibawah ini
Kisahku berawal kurang lebih 2 tahun yang lalu. Dengan kepandaianku mengelola saat itu aku telah memiliki banyak pelanggan di bengkelku. Kebanyakan dari mereka adalah para karyawan yang bekerja di wilayah perkantoran itu. Salah satunya sebut saja Mbak Santi, usianya 35 tahun. Ia adalah seorang manager di suatu perusahaan. Wajahnya cukup menarik, dengan kulit putih bersih. Tubuhnya sangat seksi, padat, dan berisi. Yang menjadi pusat perhatianku adalah payudaranya. Bentuknya besar, tapi terlihat serasi dengan postur tubuhnya. Aku sering membayangkan jika suatu saat dapat merasakan halusnya kulit dadanya dan meremas bahkan mengulum putingnya susunya.
Malam itu saya sedang menunggu Taxi mau pulang, karena mobil yang biasa saya pakai, dipinjam adik. Saya baru saja selesai menutup bengkel. Sekitar 10 menit saya menunggu, datang mobil sedan menghampiriku, lalu kaca mobil itu terbuka, dan kulihat Mbak Santi di dalam mobil mewah itu memanggilku, dia pun bertanya
“Mau kemana An..? kok sendirian, mau saya antar nggak?”
Tanpa basa-basi saya lalu memasuki mobil mewah itu, kemudian kita mengobrol di dalam mobil. Singkat kata Mbak Santi mengajakku ke discothique, waktu itu malam minggu.
Sesampainya di discothique. Kami mencari table yang kosong dan strategis di pojok tapi bisa melihat floor dance.
“Saya sedang pesan lagi satu untuk kita berdua,” kata Mbak Santi.
Untuk “on”, saya memang butuh dorongan inex, tapi cukup setengah, sementara satu setengahnya lagi untuk Mbak Santi. Ternyata takaran satu setengah baru cukup untuk Mbak Santi. Ternyata Mbak Santi suka triping.
Pesanan tak lama datang. Kubayar bill-nya. Ditanganku ada dua butir pil inex, yang satu saya bagi dua. Mbak Santi segera menelan satu setengah, dan sisanya untuk ku. Setelah 15 menit, Mbak Santi terlihat semakin on. Maka kami berjoget, menari-nari, dan berteriak gembira di dalam diskotek yang penuh dengan orang yang sama-sama triping.
Saat saya berdiri dan melihat Mbak Santi “ON” berjoget dengan erotisnya, tak lama kemudian Mbak Santi menghampiri dan merapatkan tubuhnya yang mulus itu ke depanku. Ia mengenakan t-shirt putih dan celana warna gelap. Dalam keremangan dan kilatan lampu diskotek, ia nampak manis dan anggun. Saya kembali menyibukkan diri dengan bergoyang dan memeluknya belakang tubuhnya. Sesekali tangan ku dengan nakal meremas dada Mbak Santi yang masih tertutup kemeja, Tanganku kian nakal mencoba berkelana dibalik kemejanya dan meremas ke dua gunung kembarnya yang masih terbalut BH. Tanganku akhirnya dapat merasakan halus dari payudara Mbak Santi, jari-jari ku mencari-cari puting payudara Mbak Santi dengan menyusup ke dalam BH Mbak Santi. Saya remas dada Mbak Santi dengan perasaan, lalu tanganku bergerak ke punggung Mbak Santi berusaha membuka pengait bra itu, aku sudah berhasil melepas pengait BH nya sehingga dengan bebas tangan kananku membelai dan meremas buah dadanya yang keras sementara tangan kiriku masih tetap mendekapnya dan mulutku pun menciumi leher jenjang itu, sambil tanganku memainkan puncak puting susu itu hingga memerah akibat remasan tanganku.
Sementara Mbak Santi hanya memejamkan matanya meresapi setiap jamahan tangan dan terus bergoyang mengikuti irama, saya terus mengelus dadanya sehingga membuat Mbak Santi dari gerakan tubuhnya Mbak Santi memang kelihatan ingin sekali dipuasi, terlihat dari pantatnya yang montok dan masih terbalut rok, terus merapat ke ke belakang. “Kamu sudah on berat ya?” katanya. Saya tersenyum, kupeluk tubuhnya dan kucium pipinya.
Pada pukul 02.00 pagi, DJ mengumumkan discothique akan terus buka sampai pukul 05.00.
Pengunjung bersorak-sorai riang gembira. Tapi Mbak Santi kelihatannya sudah mulai “Droop”.
“Sayang saya sudah lelah,” keluh Mbak Santi.
“Ah, masa lelah, sayang,” ucapku sambil terus memeluk erat dan menciumi leher belakangnya.
“Sayang.. kita pulang yuk..,” katanya. “Saya ingin istirahat”.
“Pulang ke mana?” tanyaku.
“Ke mana aja” jawabnya. Saya baru mengerti, bahwa dia ingin lanjut ke tempat tidur.
“Saya sebenarnya sudah booking kamar di hotel dekat sini” ujarnya.
“Kalau begitu. kita ke sana”
“Tapi tunggu, saya mau bilang temen dulu yang lagi digaet cowok di pojok sana,” katanya.
Tepat pukul 02:30 dini hari kami keluar dari discothique tersebut dengan rasa puas dan senang terus kami menuju ke hotel. Sesampainya kami dikamar Mbak Santi langsung berjoget lagi kali ini tanpa musik tapi dia yang bernyanyi dan sembari melucuti pakaiannya pas seperti orang sedang menari striptis, saya hanya melihat dan duduk disebuah kursi sofa yang ada tepat didepan jendela.
Sambil menari dan melucuti pakaiannya Mbak Santi menghampiri saya dan segera jongkok didepan saya sambil membuka resleting celana saya, saya hanya memperhatikan apa yang akan dilakukannya, “Wowww.. besar dan kencang sekali.. buat Santi ya..”
Kemudian Mbak Santi mengulum penisku yang menegang sejak tadi.
“Ooogghh.. sshh.. enak sekali San..”, ucapku.
Dia mengeluarkan penis saya yang sudah setengah tegang dan langsung diisapnya dalam-dalam. Jago memang Mbak Santi dalam memainkan isapannya, sambil mengisap lidahnya terus menari dan meliuk diteruskan ke buah zakar saya, setelah 10 menit naik dan turun dia isap dan jilatin penis saya, Mbak Santi melemparkan tubuhnya ke atas kasur, dan jatuh telentang. Langsung saya menyergapnya, dan kami bercumbu dengan dorongan nafsu sangat tinggi karena pengaruh inex.
Kami berciuman, beradu lidah dan bergantian mengisapnya. Kuciumi pipinya, matanya, keningnya, dagunya. Kujilati daun telingaya, dan kusodok-sodok lubang telinganya dengan lidahku.
Tanganku tak diam. Mengelus dan meremas rambutnya, menyusuri leher dan belahan dadanya. Kuusuap-usap perutnya, punggungnya, dan bokongnya. Kubekap vaginanya yang ditumbuhi bulu halus nan rimbun. Jari manis dan telunjukku merenggangkan pinggiran vagina Rani. lalu jari tengahku mengorek-ngorek klitorisnya dengan penuh perasaan.
“Ooh.. sshh.. aahh..!” desah Mbak Santi.
“Sayang..,” dengusku sambil terus mencumbunya.
Aku menarik tanganku dari vagina Mbak Santi. Kini kedua tanganku mengelus-elus pinggiran payudaranya. Berputar sampai akhirnya meremas bagian putingnya. Akhirnya anganku tercapai.
“Oooh.. terus.. say..!” desah Mbak Santi lagi.
Saya jilati pinggiran buah dadanya, lalu menghisap putingnya.
“Oohh.. sayang..!” Mbak Santi merintih nikmat. Mbak Santi bangkit dan mendorong aku supaya telentang. Ia melakukan cumbuan meniru caraku. Ia pun membekuk penisku dan mengelusnya dengan tekanan yang membangkitkan birahi. Mbak Santi memutarkan badan di atas tubuhku yang telentang. Ia menciumi dan menjilati penisku sementara vaginanya disumpalkan ke mulutku.
Akhirnya Mbak Santi menjatuhkan diri ke tempat tidur dan menarik tanganku. Sementara buah dadanya kian kencang. Putingnya kian memerah. Nafasnya tersengal-sengal. Keringat sudah membasahi sekujur tubuhnya. Seperti keringatku. Juga nafasku. Juga si nagaku yang sudah meronta. Dia sepertinya bingung ketika kuambil dua bantal. Dengan lembut kuangkat tubuhnya, lalu bantal itu kuletakkan di bawah pantatnya. Menyangga tubuh bagian bawahnya. Membuat pahanya yang putih mulus kian menantang. Terlebih ketika bukit venus dengan bulu-bulu halusnya menyembul ke atas. Membuat magmaku terasa mau meledak. Dia mengerang saat lidahku kemudian jemariku mengelus-elus bulu-bulu itu. Dia menjerit saat kucoba menguak kemaluannya dengan jari telun-jukku. Otot pahanya meregang saat kuhisap clitorisnya.
“Masukkan penismu, cepat sayang,” rintihnya.
“Aahh..!” rintihan kenikmatannya kali ini terdengar nyaris seperti jeritan. Aku jongkok di pinggir tempat tidur, kutarik kaki Mbak Santi sampai bokongnya berada di tepi ranjang. Kusingkap selangkangannya, dan kulumat vaginanya yang sudah becek.
Kubalikkan tubuhnya, kujilati bokongnya sambil sesekali setengah menggigitnya. Kukorek-korek anusnya dengan jari tengahku.
“Ouuwww.. ooh.. sshh.. sayang, cepet masukan!” katanya memelas-melas.
Semakin Mbak Santi memanas birahi, aku semakin terus mempermainkannya dan belum mau melakukan penetrasi. Aku melihat Mbak Santi sampai meneteskan air mata menahan orgasme.
Dipegangnya penisku yang sudah membesar ini. Dia bimbing dan penisku terasa menyentuh bibir kemaluannya. Dia melepaskan pegangannya. Kudorong sedikit. Dia menjerit. Kutahan nafas. Lalu kutekan lagi. Dia memekik. Pada dorongan kesekian kalinya sasaran lepas lagi. Dia terengah-engah. Aku mengambil posisi. Duduk setengah jongkok, kedua kakinya kutarik. Membuat jepitan atas tubuhku. Kuarahkan penisku ke lubang yang basah dan menganga itu. Ketika kudorong dia meremas rambutku kuat-kuat. Kutekan. Dan kutekan terus. Tak memperdulikan rintihannya. Kedua kakinya meregang ototnya. Dengan penuh keyakinan kutambah tenaga doronganku. Pertama terasa gemeretaknya tulang. Kemudian terasa sesuatu yang plong. Membuat dia menjerit, merintih keras,
“Acchh.. sshh..”
Ketika kupacu dia dengan irama yang lambat dia mengerang, menjerit, merintih terus. Kuubah posisi. Kini kedua tanganku berada di belakang punggungnya. Membuat kaitan diantara ketiaknya. Dia meremas rambutku seiring dengan naik turunnya tubuhku. Kukunya mencengkram punggungku ketika kukayuh pantatku penuh irama. Naik dan turun. Tarik dan dorong. Rintihan dan jeritannya seakan tak kupedulikan. Aku berhenti di tengah jalan. Dia meronta. Membuka matanya. Dengan wajah kuyu. Dari keringat kami yang menyatu. Tanpa diduga, dia mulai mengikuti irama permainanku. Dengan menahan rasa sakit dia menggerakkan pinggulnya. Memutar dan memutar. Sesekali menyentak tubuhku yang di atasnya.
Tak lama kemudian Mbak Santi merubah posisi menduduki pahaku, memegang penisku dan dimasukkannya pelan ke vaginanya.
“Uppss.. ooh..” rasanya nikmat sekali penisku didalam vaginanya. Mbak Santi terus bergoyang naik turun.
“Ahh.. enak..”erangku.
Mbak Santi terus bergoyang sambil menjerit kecil. Dadanya yang naik turun langsung kuremas. Lalu kubalikkan posisinya kebawah.Dan aku gantian memompanya dari atas. Aku terus memompa sampai akhirnya dia mengerang panjang. Otot vaginanya berkontraksi meremas penisku
“Oghh.. saya sudah keluar sayang..” erang Mbak Santi.
Tiba-tiba, pintu kamar ada yang mengetuk.
“San.. San!” suara perempuan.
Aku kaget dan sempat terhenti mencumbu Mbak Santi.
“Teruskan, sayang..! Itu temanku, biarkan saja,” kata Mbak Santi.
“San..!” pintu diketuk lagi diikuti suara panggilan.
“Masuk aja, Lin, enggak dikunci, kok” ujar Mbak Santi.
“Huuss..!! Kita lagi nanggung dan bugil begini masa temenmu disuruh masuk..?” sergahku.
“Engga apa-apa, cuek aja..” kata Mbak Santi enteng sambil tersenyum manis.
“Wah, rupanya lagi pada asyik nih,” kata Lina begitu membukakan pintu dan masuk ke dalam kamar.
Aku masih dalam posisi jongkok dan penisku masih di dalam vagina Mbak Santi, dan hanya menyeringai melihat kedatangan Lina.
“Mana cowokmu tadi?” tanya Mbak Santi.
“Tahu kamu pulang ke hotel bawa cowok, yah aku dibawa ke hotel lain” sahut Lina.
Aku masih bengong mendengar percakapan dua cewek cantik itu. Tiba-tiba tangan Mbak Santi menarik tanganku yang tersampir di pahanya.
“Ayo sayang goyangin penismu, jangan kalah sama Lina” desak Mbak Santi.
Aku berdiri dan mengangkat tubuh Mbak Santi ke tengah tempat tidur. Penisku yang sudah tegang dari tadi, segera saya tembakkan lagi ke dalam lubang vagina Mbak Santi yang sudah tidak perawan tapi masih terasa lengket. Kami sama-sama merasakan kehangatan yang nikmat.
“Yang dalam.. cepat.. ah.., enak..” pinta Mbak Santi. Aku pompakan penisku dengan penuh gairah.
Sementara Lina pergi ke kamar mandi dan mengurung diri disana. Mungkin berendam di bathtub. Pengaruh inex membuat daya tahan persenggamaanku dengan Mbak Santi cukup lama. Berbagai gaya kami lakukan. Mbak Santi beberapa kali mengerang dan menggigit pundakku saat mencapai orgasme. Sementara penisku masih anteng dan melesak-lesak ke dalam vagina Mbak Santi.
“Aduh.. capek, sayang..!” rintih Mbak Santi.
“Istirahat dulu.. yah..?”
“Sabar, dong, say. Aku sangat menikmati hangatnya vaginamu,” rayuku.
Mbak Santi lantas menggelepar pasrah, tidak kuasa lagi menggerak-gerakkan tubuhnya yang lagi kugarap. Matanya terpejam. Aku semakin terangsang melihatnya tak berdaya. Kami sudah bermandikan keringat. Tapi penisku masih tegang, belum mau memuntahkan sperma. Akhirnya aku kasihan juga sama Mbak Santi yang sudah keletihan dan nampak tertidur meski aku masih menggagahinya.
Aku mendengar bunyi keciprak-kecipruk di kamar mandi. Spontan aku bangkit dan melepas penisku dari vagina Mbak Santi. Dengan langkah pelan supaya tidak membangunkan Mbak Santi dari tidurnya, aku berjalan dan perlahan membuka pintu kamar mandi. Benar saja Lina sedang berendam di bathtup dengan tubuh bugil. Ia nampak sedang menikmati kehangatan air yang merendamnya. Kepalanya bersender pada ujung bathtub. Aku menghampirinya dengan penis yang masih tegang.
Mata lina terbuka dan kaget melihatku berdiri di sisi bathtup, menghadap ke arahnya.
“Mana Santi?” tanyanya setengah berbisik sambil matanya turun naik melihat ke arah muka dan penisku yang ngaceng.
“Dia tidur.. jangan berisik,” kataku sambil naik ke dalam bathtup dan langsung menindih tubuh Lina yang sintal dan pasrah. Kami bergumul dalam cumbuan yang hot.
“Lin kamu diatas yah.. ” Sekarang posisiku ada di bawah, dia segera naik keatas perutku dan dengan segera di pegangnya penisku sambil diarahkan kevaginanya, kulihat vaginanya indah sekali, dengan bulu-bulu pendek yang menbuat rasa gatal dan enak waktu bergesekan dengan vaginanya. “Aaawww.. enak banget vagina kamu Lin..”
“Enak kan mana sama punya Santi..?”
Katanya sambil memutar pantatnya yang bahenol. Rasanya penisku mau patah ketika diputar didalam vaginanya dengan berputar makin lama makin cepat.
“Ah.. Lin.. enak banget ah..” Aku pun bangun sambil mulutku mencari pentil susunya, segera kukemut dan kuhisap.
“Ton.. saya mau keluar..”
“Rasanya mentok.. ah..”
Memang dengan posisi ini terasa sekali ujung batangku menyentuh peranakannya.
“Ah.. ah.. eh..” suaranya setiap kali aku menyodok vaginanya.
Kugenjot vaginanya dengan cepat. Dia seperti kesurupan setiap dia naik turun diatas batangku yang dijepit erat vaginanya,
“Lin mau keluar..”
Kupeluk erat dia sambil melumat putingnya. Kupompa vaginanya sampai kami tak sadar mengeluarkan desahaan dan rintihan birahi yang sampai membangunkan Mbak Santi. Mbak Santi tiba-tiba berdiri di pintu kamar mandi dengan tubuh bugil dan matanya menatap aku dan Lina yang lagi bersetubuh.
“Gitu yah, enggak puas dengan aku kamu dengan Lina,” hardik Mbak Santi dengan nada manja, pura-pura marah.
Eh, malah Mbak Santi kini ikut naik ke dalam bathtup.
“San, ayo gantian, aku sudah dua kali dibikin keluar, sampai lemes rasanya. Cowokmu ini terlalu perkasa,” kata Lina.
“Ayo sayang, sekarang aku akan membuat penismu muntah,” kata Mbak Santi.
Segera Mbak Santi hampiri saya di dalam bath yang penuh dengan air, ditonton Lina yang duduk di ujung bathtup sambil membasuh vaginanya, dan pahanya menjadi sandaran kepala Mbak Santi. Kusuruh dia nungging, maka terlihatlah lubang vaginanya yang basah dan berwarna merah, kuarahkan kepala penisku ke lubang tempiknya secara perlahan-lahan. Kutekan penisku lebih dalam lagi, dia menggoyangkan pantatnya sambil menahan sakit. Terdengar suara kecroot, kecroot bila kutarik dan kumasukan penisku di lubang vaginanya, karena suara air kali ya.
Mbak Santi semakin histeris, sambil memegang pinggiran Bath Tub dia goyangkan pinggulnya semakin cepat dan suara kecrat, kecroot semakin keras. Tak lama kemudian.
“Aduh say aku nggak tahan lagi ingin keluar..”.
“Aduh sayang.. terus..”
Mbak Santi terkulai lemas dan vaginanya kurasakan semakin licin, sehingga pahaku basah oleh cairan vaginanya yang keluar sangat banyak. Sebenarnya aku juga sudah nggak tahan ingin keluar, apalagi mendengar desahan-desahan yang erotis pada saat Mbak Santi akan orgasme.
“Aduh, sayang, aku kalah lagi nih, sudah mau orgasme!”
Cairan hangat terasa masih mengalir dari dalam vagina Mbak Santi. Aku masih terus menggenjot vaginanya. Wajah Mbak Santi terlihat pucat karena sudah keseringan orgasme. Melihat wajah cantik yang melemah itu, genjotanku dipercepat.
“Sayang, saya mau keluar nich..”
“Keluarkan di dalam aja sayang, kita keluarin bersamaan, Santi juga mau keluar.”
Dan Akhirnya spermaku mendesir ke batang jakar dan aku mencapai orgasme yang diikuti pula dengan orgasme Mbak Santi. Air maniku keluar dengan derasnya ke dalam vagina Mbak Santi dan Mbak Santi pun menikmatinya.
“Akhirnya saya berhasil membuatmu mencapai puncak kenikmatan sayang,” kata Mbak Santi sambil memeluk dan menciumi bibirku. Terasa nikmat, licin, geli bercampur jadi satu menjadi sensasi yang membuatku ketagihan. Kami bertahan pada posisi itu sampai kami sama-sama melepaskan air mani kami.
“Lin.. emut penisku sayang” kataku lalu mencabut penisku dari vaginanya Mbak Santi. Lalu Lina melumat 1/2 penisku hingga pejuhku habis keluar.
“Mhh.. ah.. enak sekali pejuhmu” katanya sambil mengocok ngocok penisku mencari sisa air pejuhku.
“Tapi sebentar lagi nagaku akan bangun lagi lho. Lihat, sudah mulai menggeliat!” kataku, menggoda.
“Hhhaah..?” Mbak Santi dan Lina terkesiap bersamaan kompak.
Kemudian aku segera keluar dari bathtup mendekati Lina dan menyuruhnya membelakangiku. Dari belakang saya mengarahkan penisku ke vaginanya yang sudah basah lagi karena nafsu melihat saya dan Mbak Santi.
Sleepp.. bless..
Aku langsung memasukkan penisku terburu buru, karena sempit waktu membuat kesakitan Lina.
“Aduuh pelan pelan dong Say.., Lina sakit nih” katanya agak merintih.
“Sorry Sayang aku terlalu nafsu nih” kataku lalu tanganku menyambar susunya yang menggelantung indah. Lalu aku mulai memaju-mundurkan pantatku sambil tanganku berpegangan pada susunya dan meremasnya.
“Shh.. ahh.. shh..” kata Lina setengah merintih kenikmatan.
“Lin.. vaginamu sempit.. nikmat Lin..” teriakku mengiringi kenikmatanku pada kemaluan kami. Sleep.. bles.. cplok.. cplok.. irama persetubuhan kami sungguh indah hingga aku ketagihan.
Kami melakukan posisi nungging itu lama sekali hingga kami sama-sama sampai hampir bersamaan.
“Shh.. ahh.. say, Lina sampai nih” katanya sambil kepalanya mendongak kebelakang.
“Iya Lina sayang, saya juga sampai nih, didalam yah say..” kataku lalu menghunjamkan penisku dalam dalam divagina Lina.
Seerr.. croot..croot kami keluar hampir bersamaan lalu aku mencabut penisku dari vagina Lina.
penisku terlihat basah dari air mani kami dan air kenikmatan Lina.
“Ugh.. say enak banget..” katanya.
Lalu kami duduk beristirahat ditepian sisi kamar mandi sambil menunggu sisa kenikmatan yang tadi kami lalui.
Tamat
Read More
Posted in Uncategorized | No Comments »
Friday, June 27th, 2008
Nikmati Koleksi Foto Telanjang (gambar telanjang) serta cerita dewasa terbaik Indonesia di CewekIna.Net. Silahkan baca atau lihat koleksinya dibawah ini
Pada suatu sore saat aku dengan Dewi temanku dalam perjalanan di jalan bebas hambatan, waktu itu hujan cukup deras sehingga jalanan kurang nampak jelas dari kaca mobil kami. Dewi yang memegang setir pada waktu itu sebenarnya juga mengendarai dengan hati-hati, tapi karena sedang apes mobil yang kami naiki itu keluar jalur dan mobilnya terperosok ke dalam parit. Untung Dewi tidak ngebut sehingga kami berdua selamat dan tidak mengalami lecet sedikit pun. Karena mobilnya terperosok ke dalam parit, maka kami tidak bisa langsung membawa mobil ke jalur yang semestinya lagi.
“Waduh.. Sus! Nggak bisa keluar nih bannya, mana HP-ku habis batterainya, wah! Gimana nih?” Dewi panik dan sepertinya kehabisan akal.
“HP-ku juga nih, mana hujan lagi, sepi kendaraan lagi, kalau gini sich! Meski ada orang yang memperkosa kita nggak pa-pa deh! Asal kita diantar pulang saja”, aku ngomong sekenanya.
“Gila kau Sus, tapi benar juga asal jangan kasar-kasar kali ya, hehehe..!”
“Loh! Semakin kasar semakin nikmat lagi, hahaha..!” kami tertawa seakan-akan kami sudah terlepas dari masalah.
“Sus, kalau kita di dalam mobil saja, kita akan di sini sampai mampus”, gerutu Dewi.
“Habis gimana lagi, di luar kan hujan gitu.”
“Yah kamu, nggak takut diperkosa, masak takut sama hujan, ya sudah aku saja yang keluar, kucoba dorong mobil ini keluar dari lubang”, Dewi nekat dengan semangat empat lima dia keluar dan mulai mendorong moncong depan mobil sialan ini.
Aku melihat Dewi berusaha dengan keras dan mengerahkan seluruh tenaganya, tapi mobil sialan ini tidak bergerak sedikit pun.
“Sus! Hidupin mesinnya!” Dewi teriak-teriak, kuhidupkan mesin lalu giginya kuganti gigi mundur, ternyata mobil hanya bergeming sedikit saja. Lalu aku ikut keluar dan juga mencoba mendorong sama-sama dan ternyata tidak membawa perubahan yang berarti.
“Ya.. nggak bisa juga Wik”, keluhku.
“Iyah, tapi bodimu cukup bagus basah-basah gini Sus..”
“Kamu itu mabok ya? Tapi bodimu juga terlihat bagus”, lalu kami tertawa-tawa.
“Hei..! Sus itu ada mobil, kita cegat yuk”, sambil Dewi menunjuk ke arah mobil truk yang semakin mendekat, dan kemudian kami bergegas berlari sampai ke tengah jalan dan melambai-lambaikan kedua tangan kami. Dan kami berhasil, truk itu ternyata adalah truknya tentara.
“Kenapa kalian? Kenapa dengan mobilnya?” Teriak supir truk, dan kami menghampirinya, “Itu Pak mobil kami masuk parit, jadi mobil kami tidak bisa jalan lagi nih Pak!” kujawab dengan nada yang mesra.
“O iya! Hei! Anak-anak bantu nyonya-nyonya ini ayo cepat.” Kemudian turun empat orang dari belakang truk itu.
“Mari Nyonya, anda yang pegang kemudi”, kata salah satunya dengan tegas kepadaku, lalu kujawab, “Loh, kok Nyonya sih, kan aku masih muda dan single lagi”, sambil kugoda dia, huh badannya tegap, tampangnya nggak jelek-jelek amat, tapi yang penting kan bodinya kekar.
Kucoba menghidupkan mesin lagi beberapa kali tapi tak mau hidup-hidup, waduh kenapa ya?, dan kulihat ternyata bensinnya sudah habis.
“Waduh Mas bensinnya habis, ada cadangan ngak mas-mas ini”, teriakku.
“Waduh maaf Nona kami tak punya..”
“Yah sudah, kalau gitu kami ikut kalian saja”, setelah kami mengambil tas, kami langsung naik truk mereka.
Setelah masuk, dengan santainya aku melepas bajuku yang basah di hadapan keempat prajurit yang tidak jelas pangkatnya itu, kulihat mereka menatap kami tanpa berkedip sedikit pun, lalu kudekati salah satu dari mereka setelah pakaianku terlepas semua. “Kenapa? suka dengan bodiku hmm..” godaku. Kulihat jakunnya naik turun dan matanya tak henti-hentinya melihat payudaraku yang boleh dibilang montok dan seksi cukup mengoda pokoknya. Lalu kupegang tangannya, kudekatkan ke bongkahan payudaraku, “Gruungg!” suara itu tiba-tiba merusak suasana hening, “Hei! Jangan berangkat dulu”, mereka berempat bergegas mendekati jendela sopir, entah apa yang mereka bicarakan.
“Sus, kamu sudah gila ya?” tegur Dewi yang terlihat agak malu-malu tapi mau.
“Sudahlah, lagian kita kan kedinginan butuh penghangat dong”, sambil kucubit susu kirinya dan Dewi pun tersenyum dan mulai melepas bajunya.
Mesin truk tak lama kemudian mati lagi dan keempat prajurit itu dengan cepat melucuti bajunya masing-masing. “Nona jangan salahkan kami, karena kami sudah empat bulan tidak pernah menyentuh wanita, mungkin nanti agak kasar”, kata salah seorang prajurit yang hanya tinggal celana dalamnya saja yang menempel di tubuhnya. Kemudian dia mendekap tubuhku lalu langsung melumat halus bibirku, ternyata dia mahir memainkan lidahnya, nafasku habis rasanya, dan sekilas kulihat prajurit yang lain menggelar terpal dalam tuk yang cukup luas itu dan kulihat Dewi sudah mulai dikerjai seorang prajurit yang mulai membelai, mencium dan mengulum dada montok milik Dewi.
Setelah beberapa saat berciuman, prajurit yang berhadapan denganku mulai mencium leher di bawah telingaku sambil mendesah-desah merasakan kenikmatan, setelah itu dia merambat mengerjai susu sebelah kiriku dengan liar dan ganas. Ssst! Sunguh nikmat sekali. Dengan tiba-tiba badanku ditarik lalu dibaringkan ke atas terpal kasar di lantai truk itu. Sekilas kulihat supir tadi juga mulai naik, kemudian dengan tergesa-gesa melepas pakaiannya sampai polos, lalu mendekatiku dan menuju selangkanganku, kemudian dia menjilati liang kewanitaanku, langsung aku mendesis dan mengeram, dengan tiba-tiba prajurit yang tadi membaringkanku langsung menghimpit kepalaku dengan selangkangannya, kemudian dengan cepat kulepas celana dalamnya. Setelah keluar batang kemaluannya kemudian langsung kulahap batang kemaluan yang lumayan besar itu. Kukulum-kulum dan kusedot kuat-kuat hingga prajurit itu mengeram-ngeram sambil menekan-nekan kepalaku sampai aku sesak nafas. Sesekali aku mendengus dan mendesis akibat ulah supir truk yang mejilat dan menggigit lembut klitorisku, sampai tubuhku mengejang lalu tak lama kemudian sepertinya tumpah semua cairan dalam liang kewanitaanku.
Aku tetap sibuk dengan batang kemaluan yang ada dalam mulutku lalu kurasakan payudaraku ada yang meremas dan sesekali dikulum-kulum. Sungguh kewalahan aku melayani mereka. Dengan tiba-tiba aku mendengar erangan Dewi tepat di sebelah kiri kupingku, ternyata dia sedang dalam keadaan tengkurap di antara kedua prajurit. “Gilaa Suss.. ughh.. sst!” Dewi mulutnya ngomel-ngomel nggak karuan sambil merem-melek tak berdaya. Gila, Dewi dikerjai depan belakang. Lalu prajurit-prajurit yang mengerjaiku berusaha membimbingku untuk nungging, setelah nungging di atas salah seorang dari mereka dan setelah batang kemaluan prajurit di bawahku tepat di antara bibir kewanitaanku, pantatku ditarik dengan keras-keras hingga masuk semua betang kemaluan prajurit itu dengan lancar karena liang kewanitaanku sudah licin.
Setelah beberapa kali genjotan prajurit yang lain berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anusku. “Ssst.. aah.. aah!” Gila sakit banget, baru kali ini anusku digarap orang. “Aaakkh..!” aku menjerit sekuat tenaga begitu batang kemaluan prajurit yang besar itu masuk ke dalam anusku. Selang beberapa saat, terasa juga nikmatnya gesekan dari dua lubangku yang sebelumnya tidak terbayang, meski rasa sakit masih menyertai. Kemudian tubuhku mengejang dan sampailah aku pada klimaks kedua, tapi kuperhatikan kedua prajurit itu masih sibuk menggenjotku. Peler besar tiba-tiba berada di wajahku, kemudian peler itu didorongnya ke mulutku yang kemudian kukulum dan kusedot, di sela-sela desisan dan eranganku. “Ayo Nona sedot yang kuat!” kata prajurit itu sambil menekan-nekan kepalaku. “Uuugh.. aakh.. esst!” suara geraman dan desisan silih berganti saling sahut menyahut dalam truk itu.
Saat kulihat di sebelah, Dewi terkapar dan lemas, sesekali dia mengeram karena prajurit itu masih getol menyetubuhi Dewi. Gila rasanya aku mau keluar untuk ketiga kalinya sebentar lagi, beberapa saat kemudian kurasakan kedua prajurit yang menyetubuhiku depan belakang mengeram serta merangkul kuat-kuat tubuhku dan kemudian kurasakan liang kewanitaan dan duburku tersembur cairan yang hangat hampir bersamaan, aku pun mencapai klimaks yang ketiga.
Setelah aku mencapai klimaks, aku semakin bersemangat mengulum dan menyedot batang kemaluan di hadapanku sampai pada akhirnya cairan hangat itu menyembur memenuhi rongga tenggorokanku. Lalu prajurit itu melepaskanku dan bergerak menjauhiku. Dan kulihat Dewi pun mulai di tinggal sendirian, kemudian kelima prajurit itu mendekat. “Ayo sini kita gantian, aku pingin rasain juga dia”, kata salah satu dari mereka sambil tertawa-tawa, waduh habis aku.
Dua prajurit yang menyetubuhi Dewi mendekat, lalu satu dari mereka menggendongku dan kemudian setelah pelernya tepat di tengah-tengah liang kewanitaanku, aku sedikit diturunkan dan amblas sudah batang kemaluannya tertelan liang kewanitaanku tanpa halangan. Aku disetubuhinya sambil berdiri, sambil tangannya tak henti-hentinya naik turun dengan posisi aku merangkul erat tubuhnya, kemudian dari belakang duburku disodok peler dari belakang, aku menjerit dan mengeram kesakitan, buah dadaku digerayanginya dengan brutal.
Setelah beberapa saat aku dikerjain berdiri, aku diturunkan kemudian aku disuruh mengangkangi seorang prajurit, dan setelah pas masuklah kembali peler besar itu dalam liang kewanitaanku, dan yang lain menyusul menimpaku dari belakang, dan bukannya masuk ke duburku melainkan juga masuk ke dalam liang kewanitaanku, gila ini prajurit, dengan kasar dan brutal akhirnya masuk juga pelernya meski hanya setengahnya, [powered by: cerita-panas.blogspot.com] tapi sakitnya bukan main aku menjerit-jerit minta ampun tapi tidak di gubrisnya. Karena mungkin tidak memuaskan dia, maka peler yang masuk hanya setengah itu dicabutnya kemudian dengan serta-merta menyodokkan ke duburku dengan keras, lalu mengosoknya dengan brutal, tak lama kemudian dia mencapai klimaks, setelah beberapa saat lalu batang kemaluannya dicabutnya.
Sekarang aku berkonsentrasi pada satu orang saja, aku merubah posisiku dengan posisi nangkring di atas selangkangannya, kemudian aku mulai naik turun dan sedikit goyang kanan kiri, hingga tak lama kemudian pertahanannya terlihat sedikit goyang, begitu pula aku sepertinya aku akan mencapai klimaks keempat kalinya. Setelah beberapa saat kurasakan liang kewanitaanku di sembur cairan hangat dan kemudian aku pun mencapai klimaks yang keempat kalinya, kami pun saling menggeram, lalu aku menggulirkan tubuhku di samping prajurit yang terlihat lemas. Kulihat Dewi masih di kerjai tiga orang prajurit, Dewi meringis-ringis sambil terus dijejali batang kemaluan prajurit yang besar itu. Karena aku merasa kasihan dengan Dewi dengan sedikit sempoyongan kuhampiri mereka kemudian kutarik salah satu dari mereka yang sedang getol-getolnya ngerjai dubur Dewi lalu kukangkangi dia, setelah tepat posisi pelernya diantara bibir kewanitaanku, kududuki dan langsung masuk seluruh batang kemaluan prajurit itu. Kugoyang-goyang dengan gencar hingga prajurit itu kewalahan menghadapi seranganku, membuatnya tak kuasa menahan lahar spermanya, menyemburlah spermanya dalam liang kewanitaanku. Karena aku belum mencapai klimaks lagi kepalang tanggung sehinga aku tetap menggoyang pinggulku sampai aku mencapai klimaks.
Setelah selesai prajurit-prajurit itu mengerjaiku dan Dewi mereka terlihat lelah. Aku menghampiri Dewi, kulihat wajahnya sudah lelah, “Gimana Wik?” bisikku. “Wah! habis aku, sampai aku klimaks lima kali Sus”, Dewi menjawab pertanyaanku dengan sisa-sisa tenaganya. Setelah itu kami minta diantar ke rumah kontrakanku dan kemudian aku menghubungi jasa mobil derek kemudian kami istirahat setelah kami mandi bersama.
Tamat
Read More
Posted in Uncategorized | No Comments »
Friday, June 27th, 2008
Nikmati Koleksi Foto Telanjang (gambar telanjang) serta cerita dewasa terbaik Indonesia di CewekIna.Net. Silahkan baca atau lihat koleksinya dibawah ini
Entah namanya kelainan atau bukan kalau aku paling suka dan bernafsu sekalil kalau dikerjain cewek. Teman-teman boleh kasih komentar deh mengenai ceritaku ini.
Bermula dari keisenganku membuntuti mobil berisi dua cewek cakep yang baru keluar dari gedung perkantoran. Mereka pun tahu dan sempat terjadi kejar-kejaran, sampai akhirnya mereka kasih kode untuk mengikuti mobilnya dari belakang. Sampailah akhirnya aku ke sebuah rumah mewah di perumahan elit. Setelah aku memasukkan mobil ke pekarangannya, aku memperhatikan mereka turun dari mobilnya, dan ternyata mereka bukan saja cakep, tapi juga sexy dengan pakaian kerja berblazer, rok mini dan sepatu tinggi.
Yang satu wajahnya lucu dan innosence, dan kuketahui kemudian namanya Vana. Sedangkan yang berwajah agak cuek dan sensual namanya Meiko, gadis keturunan Jepang. Aku diajaknya masuk ke ruang tengah yang penuh dengan sofa dan berkarpet tebal itu.
“Kamu ngapain sih ngikutin kita?” tanya Meiko membuka pembicaraan.
“Ngg.., iseng saja..” jawabku santai.
“Oh iseng.., kalau gitu sekarang gantian kita dong ngisengin kamu. Sekarang aku nggak mau tau, kamu berdiri dan buka pakaianmu..,” kata Meiko lagi yang membuatku kaget setengah mati.
Tapi karena penasaran, kuikuti saja kemauannya dengan membuka satu persatu pakainku dan tinggal kusisakan celana dalam hitamku.
“Tunggu apalagi..? Ayo lepas semua! Nggak usah malu deh, nggak ada siapa-siapa lagi di sini,” katanya lagi waktu ku celingukan ke sekeliling ruangan.
Kutarik pelan-pelan ke bawah celana dalamku hingga aku menjadi bugil total. Kulihat mereka yang tenang duduk di sofa menatap ke arah penisku yang masih belum bangun. Tiba-tiba Meiko berdiri menghampiriku, dan menyuruhku berlutut di depannya. Aku mulai merasakan ada sensasi tersendiri dengan mengikuti perintahnya. Kelakianku mulai bangkit, apalagi dengan memandang kemulusan batang kaki belalang Meiko yang berada persis di depanku.
“Baru liat kakiku aja udah tegang tuh burung.., apalagi suruh ngeraba. Ayoh coba elus-elus kakiku..!” perintah Meiko lagi.
Aku segera menuruti perintahnya dengan meraba sepanjang kakinya yang putih mulus itu, dari mulai mata kakinya terus ke atas hingga ke paha di bawah rok mininya.
“Eh, alus juga nih maennya,” kata Meiko lagi sambil menarik tanganku dari pahanya.
Tiba-tiba Meiko bergerak mengambil dasiku, menarik kedua tanganku ke belakang, dan mengikatnya erat-erat. Dengan terus berlutut dan tangan terikat, aku menyadari bahwa aku sudah seperti tawanan perang, namun justru membuatku makin penasaran untuk mengikuti permainannya. Benar saja, Meiko kembali berdiri di depanku dan memberi perintah lanjutan.
“Sekarang nggak ada lagi tangan.., pakai bibir dan lidahmu..!” kata Meiko sambil menarik kepalaku lebih dekat lagi ke kakinya.
Langsung kutelusuri keindahan kakinya, mulai lagi dari atas sepatunya terus naik ke atas dengan bibirku.
Kulitnya yang putih mulus dan berambut halus itu benar-benar merangsangku, apalagi masih terasa harum bekas cream pelembut walaupun sudah seharian di kantor. Kupagut-pagut betisnya yang indah, terus naik ke belakang lututnya yang sempat membuatnya menggeliat kegelian. Desahannya pun mulai terdengar waktu bibirku sampai ke pahanya yang padat tapi lembut itu. Meiko bikin kejutan lagi, kali ini sebelah kakinya dinaikkan ke atas meja pendek di sebelahnya. Otomatis rok mininya makin tersingkap hingga jelas kulihat CD-nya mengintip di hadapanku. Tangannya kembali menekan kepalaku ke arah pahanya dan ditahannya waktu bibirku mencapai paha bagian dalamnya, minta bibir dan lidahku mengusap dan menyapu kehalusan kulitnya.
Pinggulnya makin menggeliat waktu kepalaku makin masuk ke rok mininya, dan kukecup halus CD bagian depan tepat di depan vaginanya yang ternyata sudah basah itu.
“Tarik CD-ku dengan gigimu, cepet..!” pintanya sambil menurunkan kakinya ke bawah lagi agar CD-nya dapat kutarik dengan mulus.
Begitu lepas, kali ini Meiko makin bernafsu menaikkan kakinya lebih lebar lagi, dan kepalaku ditarik serta dibenamkannya di selangkangannya walaupun masih mengenakan rok. Aroma khas vaginanya makin membuatku bernafsu untuk menyapu dan menjilati semua permukaannya. Meiko makin menggelinjang tak beraturan waktu kutusukkan lidahku di lubang vaginanya yang kuvariasi dengan sentuhan dan hisapan halus di klitorisnya.
“Jangan berhenti.., ayo lebih cepet lagi.., aah.., agh.. agghh..!” teriak Meiko sambil menjambak rambutku kencang dan menekannya ke arah vaginanya yang makin membanjir dengan cairan segar.
Dikatupkannya pahanya kemudian dan membiarkan wajahku sesaat di selangkangannya untuk merasakan denyutan-denyutan orgasmenya.
“Van.., giliran kamu nih..!” kata Meiko ke sahabatnya yang dari tadi duduk di sofa memperhatikan permainan kami.
Vana yang berwajah melankolis itu lalu menyuruhku duduk di sampingnya.
Dengan tangan masih terikat ke belakang, aku duduk di samping Vana yang tiba-tiba bergerak memutar menghadap ke arahku dengan posisi berlutut, sehingga posisi pahaku berada di antara kedua pahanya. Posisi menantangnya ini membuat jantungku berdebar, apalagi waktu Vana membuka pelan-pelan blazer dan baju dalamnya dengan gerakan erotis di hadapanku. Terakhir dibukanya BH mininya dan dilemparnya ke karpet, lalu ditegakkannya badannya, sehingga buah dadanya yang bulat padat itu makin menjulang sempurna persis di depan wajahku.
Belum habis aku menatap keranuman buah dadanya, aku dikejutkan dengan dorongan buah dadanya ke depan, sehingga wajahku terbenam di belahan dadanya. Harum badannya yang bercampur keringat menambah nafsuku untuk menghirup seluruh jengkal kulitnya yang mulus, walaupun terkadang sulit bernafas karena dekapannya yang kuat. Waktu wajahku kumiringkan mencari putingnya, Vana malah memiringkan badannya dan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, sehingga wajahku berada tepat di ketiak kanannya.
“Ayo ciumin ini dulu,” kata Vana.
Rupanya di situ juga salah satu area sensitifnya, dan aku dengan senang hati melaksanakan perintahnya. Memang aroma khas di ketiaknya yang alami itu membuatku semakin buas mencium dan menjilatinya. Vana pun mendesah dan menggelinjang kenikmatan. Setelah ketiak kirinya kulumat juga, Vana meluruskan kedua tangannya ke depan dan menumpukan ujung tangannya pada bagian atas sandaran sofa. Wajahku kini tak berjarak lagi dengan buah dadanya. Digesek-gesekkannya putingnya yang merah muda mengeras itu ke wajahku.
“Tunggu apa lagi..? Jilat putingku..!” perintah Vana sambil menyelipkan putingnya di bibirku.
Tak kusia-siakan perintahnya ini yang bukan saja kujilat-jilat dengan buas, tapi juga kugigit-gigit kecil dan kuhisap serta kukemot-kemot dengan penuh nafsu. Vana makin menggeliat hebat merasakan jilatan lidahku di seluruh permukaan buah dadanya yang semakin licin oleh keringatnya itu.
Setelah cukup lama bibirku dipaksa menikmati kemontokan buah dada Vana, terdengar suara Meiko menyuruhku untuk turun dari sofa dan berbaring di karpet dengan posisi kepalaku berada di depan sofa. Sebelum aku turun, Vana sempat melepas ikatanku dan juga melepas rok mini dan CD-nya. Juga kulihat sesaat Meiko sudah tidak mengenakan apa-apa lagi di tubuhnya. Penisku makin menjulang tinggi melihat tubuh-tubuh bugil mereka yang sempurna itu.
Walaupun tanganku telah bebas, namun kedua tanganku tetap telentang tak berdaya karena telapak tanganku ditekan oleh kedua kaki Vana sambil duduk di sofa. Ketidak berdayaanku ini dimanfaatkan oleh Meiko yang maju dan merundukkan badannya, sehingga membuat buah dadanya menggelantung tepat di atas wajahku. Meiko kemudian membuatku gelagapan dengan menekan buah dadanya yang bulat padat itu ke wajahku. Seperti ke Vana, aku terus disuruhnya melumat, menjilat dan menghisap putingnya bergantian sambil sesekali menindihkan buah dadanya di wajahku.
Setelah kedua bukitnya basah kuyup oleh cairan lidahku yang bercampur dengan keringatnya, Meiko membuat kejutan lagi dengan mundur hingga kepalanya tepat berada di atas penisku yang berdiri tegak bak tugu itu. Sesaat kemudian amblaslah penisku ke dalam mulut sensual Meiko.
“Aaahh..,” rintihku merasakan lembutnya bibir dan rongga mulut Meiko.
Namun rintihanku hanya sekejap, karena tanpa diduga telapak kaki Vana sudah pindah dari tanganku ke wajahku, sehingga ujung jari-jari kakinya seperti membungkam mulutku. Perlakuannya ini malah membuat darahku semakin berdesir merasakan sensasi yang hebat, apalagi Vana memintaku untuk menciumi kakinya yang bersih mulus dan berkulit lembut itu sambil menggosok-gosokkannya di wajahku.
Nafsuku kian menjadi merasakan aroma khas kakinya. Kuhirup dan kuciumi telapak kaki dan ujung jari kakinya dari bawah yang membuatnya kenikmatan.
“Buka mulutmu dan isep jari-jariku..!” perintah Vana sambil memasukkan jari-jari kakinya yang mungil itu dengan menjulurkannya ke mulutku.
Mulailah kuhisap satu persatu jari-jari kakinya sambil memainkan lidahku di sela-selanya. Kaki Vana mulai meronta kegelian, namun tetap kutahan dengan tanganku untuk tetap bertahan di mulut dan wajahku.
Konsentrasiku ke kaki Vana memang terkadang buyar karena perlakuan Meiko yang semakin liar melumat penisku, apalagi waktu kurasakan gelitikan lidah dan hisapan mulutnya di kepala penisku. Kadang-kadang aku imbangi juga naik turun kepalanya dengan goyangan-goyangan pinggulku. Beberapa saat kemudian, mereka seperti kompak berganti posisi yang semakin menggila. Meiko jongkok di atas penisku, dan Vana turun dari sofa langsung berlutut mengangkangkan pahanya tepat di atas wajahku. Penisku yang tegak kemudian terbenam di lubang vagina Meiko, dan vagina Vana dibenamkannya di mulutku.
Goyangan dan naik turunnya pinggul-pinggul mereka membuat sensasi yang luar biasa buatku. Desahan dan rintihan kenikmatan mereka yang bersamaan makin membuatku bertambah ganas. Pinggulku ikut menyodok-nyodok ke atas mengimbangi putaran-putaran pinggul Meiko. Sementara di atas, kusapukan lidahku memanjang dari vagina dan belahan pantatnya. Kadang ujung lidahku kuputar-putar di anusnya, kadang di seputar klitorisnya. Tubuh Vana menggeliat-geliat dibuatnya, apalagi kuikuti dengan naiknya tanganku ke atas meremas-remas buah dadanya.
Gerakan tubuh mereka semakin binal dan semakin menjadi di atas tubuhku bak pemain rodeo.
Tubuh Meiko naik turun dengan cepat yang diikuti oleh Vana begitu merasakan lidahku kutegangkan memasuki lubang vaginanya, sampai akhirnya terdengar teriakan mereka, “Aaah.. aah.. aaghh..,” bersamaan dengan menegangnya tubuh-tubuh mereka.
Cairan pun ada dimana-mana, di penisku maupun di wajahku hasil kerja keras mereka.
Setelah beristirahat sebentar, Vana yang belum melaksanakan ml-nya memaksaku memasukkan penisku dari belakang dengan posisi doggy style, dan sementara aku berlutut. Meiko yang masih ingin mengerjaiku, berdiri mengangkang di atas pinggul Vana, membenamkan kembali wajahku ke selangkangannya untuk menjilati lagi vaginanya. Nah teman-teman cowok yang suka dikerjain, atau teman-teman cewek yang suka ngerjain, boleh juga sharing atau kasih komentar tentang ceritaku ini. Aku tunggu yah. Trims.
Tamat
Read More
Posted in Uncategorized | No Comments »
Friday, June 27th, 2008
Nikmati Koleksi Foto Telanjang (gambar telanjang) serta cerita dewasa terbaik Indonesia di CewekIna.Net. Silahkan baca atau lihat koleksinya dibawah ini
Ketika saya masih kuliah dulu boleh dikatakan termasuk salah satu mahasiswa yang banyak digandrungi oleh cewek. Muka ganteng dengan dagu kebiru-biruan karena bulu yang tercukur rapi dan badan yang tegap. Terus terang saja saya juga sering melakukan hubungan seks dengan beberapa teman yang memang membutuhkannya. Meskipun demikian saya masih memilih yang benar-benar sesuai dengan selera saya. Dari hubungan-hubungan intim itu, timbul rahasia umum di kalangan mahasiswi bahwa batang kemaluan saya panjang dan besar dan yang penting tahan lama bersenggama. Tidak heran kalau setiap akhir minggu ada saja telepon berdering mengajak nonton atau pesta yang kemudian berakhir dengan hubungan intim.
Kebetulan saya punya teman agak kebanci-bancian. Biasanya orang demikian punya kenalan yang luas. Setelah saya lulus dan bekerja di suatu perusahaan cukup ternama, teman tersebut menelepon.
“Heh, mau nggak gua kenalin sama pengusaha wanita sebut saja namanya Vera dan Poppy.”
“Mau”, jawab saya.
Kebetulan sudah beberapa dua minggu ini nafsu saya tidak tersalurkan karena kesibukan kantor. Padahal bekas-bekas teman kuliah dulu masih sering menelepon.
“Dia sudah tahu muka lewat foto lu.”
“Sialan nih anak, jual-jual foto segala”, pikir saya.
Tapi ada syaratnya. Katanya mereka nggak mau resiko kena penyakit. Jadi saya diminta periksa dulu di dokter kelamin. Ada-ada saja permintaannya. Dokter dan jamnya ditentukan juga, sebut saja namanya Nadia. Pada hari yang ditentukan sekitar jam 8 malam, usai dari kantor saya langsung ke tempat praktek Nadia. Ternyata disana sudah nggak ada pasien.
Saya heran karena susternya sudah nggak ada. Saya ketuk pintu terus pintu dibukakan. Ternyata Dokter Nadia sangat cantik sekali. Saya sebentar agak terpana.
“Masuk saudara Rudi”, katanya.
Setelah berbasa-basi sebentar, dia bertanya:
“Katanya mau bermain dengan Mbak Vera dan Mbak Poppy ya.” sambil mengerling dan tersenyum.
Saya ketawa kecil saja. “Gimana sih untuk membuktikan tidak kena penyakit kelamin”, tanya saya.
“Yah, mesti diperiksa air maninya”, jawabnya.
“Kalau mau sih saya bantu mengeluarkan”, katanya sambil membuka pahanya yang putih mulus itu. Wah kebetulan ini, pikir saya. Terus dia kebelakang sebentar dan keluar lagi.
“Mbak kalau suaminya atau supirnya datang gimana?”
“Suami saya kerja di luar negeri kok dan kebetulan hari ini saya sengaja nggak bawa supir”, katanya sambil membuka baju prakteknya.
Ternyata di balik baju sudah tidak ada selembar benang pun. Dengan manja dia duduk di pangkuan saya. Dan saya pun langsung mencium bibir, leher, telinga, kemudian menyusur ke belahan dadanya yang kuning mulus. Terdengar Nadia mulai mendesah kenikmatan. “Akh.. Rud, hisep terus Rud.” Secara bergantian saya hisap puting susunya sambil melayangkan jari ke lubang kemaluannya. Terdengar Nadia tambah mengerang-erang kenikmatan. Setelah sepuluh menit berselang, Nadia menarik diri, terus membuka kancing baju dan celana saya sehingga tampak dada saya yang berbulu dan batang kemaluan yang mulai menegang. Tampak Nadia terkagum dengan dada saya yang bidang dan berbulu dan batang kemuluan saya yang panjang dan besar sehingga dia menggesekkan dadanya ke dada saya dengan menciumi bibir dan leher saya. “Gila Rud, kamu jantan sekali”, katanya.
Setelah itu, Nadia menarik diri lagi dan berdiri kemudian membawa kepala saya ke lubang kemaluannya. Kemaluannya sangat teratur sekali ditumbuhi dengan bulu-bulu halus yang teratur secara rapi. Dengan semangat, saya jilati lubang kemaluannya sambil meremas buah dadanya.
“Aduh Rud, nikmat. Teru.. U.. S”, dengan napas yang tersengal-sengal.
Ketika kakinya semakin mengejang, saya tahu bahwa Nadia mau orgasme. Kemudian saya angkat dia dan saya taruh di meja periksa pasien. Dengan kaki yang mengangkang lebar, “Rud cepet dong selesaikan saya”, katanya dengan meminta.
Dengan pelan-pelan saya masukkan batang kemaluan saya yang panjang dan besar itu. Terlihat mata Nadia membelalak kenikmatan kemudian mengerang. Saya gerakkan pantat saya memutar ke kiri dan ke kanan sebentar. Terlihat Nadia sudah tidak dapat menahan orgasmenya, maka saya ganti dengan gerakan menusuk.
“Aduh Rud gila nikmat sekali”, katanya.
Sebentar kemudian cengkeraman Nadia sangat erat. Dengan sedikit menjerit, Nadia merangkulkan kakinya ke punggung dan selanjutnya terhempas dengan melepas nafas panjang.
Melihat saya belum apa-apa dia agak bingung juga. “Gimana Rud ya. Masih lama atau nggak?” Saya jawab masih lama. “Jangan lama-lama ya Rud, soalnya besok saya mau ke kerja lagi. Bisa-bisa ngantuk saya.” Dengan agak capai, Nadia bangun kemudian meminta saya duduk. Dia masih melihat alat kelamin saya yang masih tegang. “Gede dan panjang banget sih Rud. Pasti Mbak Vera dan Mbak Poppy puas deh dengan kamu. Tapi awas lho mereka itu buas sekali kalau di ranjang”, ujarnya. Saya cuma ketawa saja.
Dengan segera, Nadia kemudian melumat batang kemaluan saya sudah tegang. Aduh ternyata, Nadia sangat lihat sekali memainkan lidahnya di ujung kemaluan saya meskipun tidak sampai separuh yang dikulumnya karena besar dan panjang. Setelah sekitar 15 menit terasa sperma saya mulai mengumpul. Kemudian saya tarik Nadia dan saya taruh lagi di meja pasien dengan posisi telungkup. “Aduh Rud, jangan Rud, capai saya”, katanya. Tapi saya nggak mempedulikan. Dengan posisi doggy ini saya masukkan lagi penis saya ke lubang kemaluannya. Terdengar Nadia menjerit kenikmatan yang disusul dengan rintihan dan erangan. “Terus Rud,.. terus..” kemudian badannya mengejang dan terdengar erangan panjang.
“Sudah mau keluar Rud”, tanya.
“Belum”, jawab saya.
Dengan posisi doggy kemudian saya teruskan penetrasi. Saya kasihan juga melihat Nadia kecapaian. Terasa mau keluar kemudian saya tarik Nadia untuk mengulum batang kemaluan saya lagi. “Oh.. nikmat sekali.” Beberapa menit kemudian, saya bilang sama Nadia bahwa mau keluar. “Semprotkan di dalam saja sebagian” katanya. Akh.. sebagian ditelan langsung, sebagian kemudian dimasukkan ke dalam tempat untuk diperiksa. “Gila kamu Rud, kayaknya kamu belum apa-apa ya.” Saya cuma tersenyum saja.
Tamat
Read More
Posted in Uncategorized | No Comments »
Thursday, June 26th, 2008
Nikmati Koleksi Foto Telanjang (gambar telanjang) serta cerita dewasa terbaik Indonesia di CewekIna.Net. Silahkan baca atau lihat koleksinya dibawah ini
Apakah aku seorang lesbian? Ah.. Ini pertanyaan yang tidak akan pernah bisa aku jawab. Pertanyaan ini timbul sejak aku masih duduk dibangku SMA kelas 3, dan berawal ketika aku bermain dirumah kawanku.. Renita.
Waktu itu.. Aku dapat dikatakan sebagai salah satu primadona disekolahku, banyak teman-teman cowokku yang suka padaku.. Tetapi semua kutolak secara halus, bukan karena aku tidak tertarik.. Tetapi aku sudah mempunyai cowok.. Dan cowokku itu sudah kuliah disalah satu PT Negeri.
Dikelas aku duduk sebangku dengan Renita.. Ia berasal dari Jabar, kulitnya putih sama dengan aku, rambut panjang hitam, dengan bentuk tubuh proposional sama dengan aku.. Sekilas orang melihat.. Kami akan disangka kembaran.. Bedanya hanyalah.. Rambut dia belah samping.. Sementara aku pony, selain itu Renita orangnya ceria.. Sementara aku pendiam.
Hari itu.. Hari sabtu, sepulang sekolah kira-kira jam 13, Renita mengajakku untuk bermain dirumahnya.. Karena tidak ada acara.. Akupun menerima ajakan itu..
Dan ini bukan yang pertama kali aku bermain dirumahnya.. Karena sering juga aku dan teman-teman yang lain main kerumah Renita, tetapi hari ini hanya aku saja yang diajak oleh Renita. Rumah Renita termasuk mewah juga.. Maklum karena bapaknya direktur utama disalah satu perusahaan ternama. Setibanya dirumah Renita atau Reni.. Panggilan akrabnya, mengajakku langsung kekamar nya yang berada dilantai dua, memang kamar Reni cukup besar.. Ada meja belajar berikut rak buku, ada seperangkat stereo tape, TV, vCD, dan lantainya beralaskan karpet seluruh ruangan, tempat tidurnya.. Cukup besar.. Aku tidak tahu ukurannya berapa.. Tapi mungkin dapat dikatakan ukuran double bed.. Kali.
Tiba didalam kamar.. Tentunya setelah melepaskan sepatu diluar pintu, akupun langsung duduk diatas karpet..
“Ren.. Ada majalah baru enggak..?” tanyaku.
“Ah.. Belum beli sih” sahutnya.
“Kita karaoke aja yuk.. Mau enggak?” sambung Reni.
“Boleh-boleh aja” sahutku, memang akupun juga senang nyanyi karaoke.
Lalu Reni pun membongkar-bongkar koleksi vCDnya.. Sementara aku duduk bersila memperhatikan apa yang dilakukan Reni, tiba-tiba..
“Oh iya.. Nia.. Ada film bokep nih.. Mau lihat enggak?” serunya,
“Dapat darimana film itu Ren..?” tanyaku balik.
“Tadi pagi gue ambil dari kamar si tony”, sahutnya.. Tony adalah kakaknya Reni.
“Boleh juga deh..” sahutku.
Lalu Reni memuter film itu dan duduk diatas karpet disebelahku, kami sama-sama duduk bersila menghadap TV 21 inch.. Sembari menyender ke ranjang. Selama menonton film bokep itu.. Kami sering tertawa cekikikan.. Tidak tahu apa yang lucu.. Mungkin hanya untuk menetralkan suasana aja.. Karena jujur aku terangsang juga melihat adegan dalam film bokep itu.
Ketika ada adegan lesbian dalam film.. Kami berduapun jadi terdiam.. Dengan mata mengarah kelayar TV, ketika kulirik.. Ternyata Reni pun jadi serius melihat adegan demi adegan dalam film itu..
Aah.. Uhh.. Ahh..
Terdengar rintihan dari dalam TV.. Diam-diam aku pun mulai gelisah.. Entah kenapa aku menjadi sangat tertarik sekali melihat adegan lesbian itu.. Sebentar-bentar aku meluruskan kedua kakiku.. Lalu bersila lagi.. Sementara Reni pun juga tampak mulai gelisah.. kadang-kadang dia memiringkan badannya kesamping.. Dan ketika aku bersila lagi.. Tanpa sengaja lututku menyentuh lutut Reni.. Tetapi Reni diam saja.. Dari sudut mataku aku dapat melihat Reni semakin serius menontonnya.
Tiba-tiba.. Reni membetulkan letak duduknya dan bahu kamipun saling bersinggungan. Aku diam saja.. Tidak lama kemudian.. Reni menaruh tangannya diatas pahaku, aku sedikit tersentak kaget.. Aku melirik ke arah Reni.. Tampak dia masih tetap asyik menonton..
Aahh.. Uuh.. Ahh..
Terdengar rintihan dari TV.. Dan tampak adegan semakin syurr.. tiba-tiba aku merasa tangan Reni itu mulai sedikit demi sedikit bergerak meraba pahaku.. Jantungku segera berdetak keras.. Segera aku memegang tangan Reni itu.. Terasa dingin tangan Reni itu.. Mungkin karena AC didalam kamar itu cukup dingin.. Lalu aku melirik lagi ke arah Reni.. Dan dia pun melirik juga ke arahku.. Aku tersenyum.. Diapun ikut tersenyum.. Aku menoleh ke arah dia.. Diapun menoleh ke arahku.. Sehingga kami saling pandang
Perlahan-lahan.. Aku merasakan Reni semakin memajukan wajahnya ke arah wajahku, entah kenapa aku pun berbuat hal yang sama sehingga kening kamu saling bersentuhan. Aku dapat merasakan hembusan nafas Reni yang tidak teratur ke arah wajahku, dan mungkin Reni juga dapat merasakan hembusan nafasku.. Hingga.. Hidung kami saling bersentuhan.. Lalu tanpa sadar aku meremas tangan Reni.. Dan iapun tersenyum.. Akupun tersenyum juga.. tiba-tiba Reni mengecup bibirku.. Akupun membalas mengecup bibir Reni.. Dia mengecup sudut bibirku sebelah kiri.. Aku pun melakukan hal yang serupa.. Dia mengecup sudut bibirku yang kanan.. Aku pun membalasnya.. Lalu Reni tersenyum.. Akupun tersenyum.. Tiba-tiba Reni menjulurkan lidahnya menjilat bibirku.. Mendesir darahku.. Dan akupun membalasnya.. Hingga tidak tahu siapa yang memulai duluan.. Akhirnya kami saling berciuman.. Terasa lidah Reni memasuki mulutku.. Dan menari-nari menjilati dalam mulutku.. Akupun juga melakukan hal yang sama.. Dengan nafas memburu kedua bibir kami saling bertaut..
Ooh.. Ahh.. Uuhh..
Terdengar suara dari TV, kami pun berhenti berciuman.. Reni tersenyum padaku.. Akupun tersenyum juga..
“Kita gila yaa..” seru Reni.
“Memang..”sahutku.
“Baru kali ini aku mencium perempuan” tambahnya.
“Aku juga” sahutku.
“Enak enggak?” tanyanya.
“Mhmm.. Enak.. Kamu?”
“Enak..” jawabnya.
Lalu aku mengecup bibirnya.. Dan kami berciuman lagi.. Akupun bergerak untuk berlutut dan Renipun melakukan hal yang sama.. Kuisap lidah Reni.. Dan dia membalas mengisap lidahku.. Dengan bibir saling bertautan akupun berusaha berdiri.. Demikian juga Reni.. Hingga akhirnya kita berdua berdiri.. Dan Reni memelukku.. Akupun membalas memeluk Reni dengan erat.. Cukup lama.. Kami berpelukan dan berciuman ketika..
Ooh.. Yess.. Oohh.. Yeess..
Terdengar suara dari TV, kami pun segera menoleh ke arah TV.. Lalu saling berpandangan lagi.. Lalu aku mengajak Reni naik ke atas ranjang.. Dan diatas ranjang itu kita berpelukan lagi.. Segera bibir kita saling bertautan lagi.. Kusedot air liur Reni.. Dan dia membalas dengan hal yang serupa.. Kukulum lidah Reni dalam mulutku.. Dan gantian dia mengulum lidahku dalam mulutnya.. Kami pun semakin erat berpelukan.. Guling kesamping.. Balik lagi.. Dan seterusnya..
Hingga akhirnya tubuh Reni tepat berada diatas tubuhku.. Kemeja Reni dan rambutnya tampak acak-acakan.. Demikian juga dengan pakaianku dan rambutku..
“Nia.. Nggkk..” seru Reni.
“Kenapa Ren..?” sahutku.
“Kamu.. cantik” serunya.
“Kamu juga”
“Kamu cantik”
“Kamu juga”
“Aku suka” seru Reni.
“Aku juga” sahutku.
Lalu Reni menjulurkan lidahnya.. Akupun juga ikut menjulurkan lidah ku hingga bersentuhan.. Ooh.. Nikmatnya.. Kami saling menjilat lidah masing-masing, lalu aku membalikan tubuh Reni sehingga kini aku berada diatasnya.. Lalu aku bergerak kesamping.. Dan duduk berlutut disisi kanan Reni, ku lihat rok Reni sudah tersibak naik.. Hingga kelihatan CD nya yang berwarna putih itu.. Lalu aku meraba paha Reni.. Aahh.. Reni mendesis dengan mata setengah terpejam.. Tangankupun terus naik ke atas hingga menyentuh tepian CD Reni.. Tampak oleh ku CD Reni sudah basah.. Dan saat itu aku yakin CD ku juga sudah basah.
Lalu aku menyusupkan telunjukku kebalik CD Reni dan segera menyentuh bulu-bulu kemaluan Reni.. Reni rada sedikit mengelinjang.. Kugerak-gerakkan telunjuku itu hingga menyentuh kemaluan Reni.. Oohh.. Reni mengeliat.. Sembari merenggangkan kedua pahanya, segera aku merasakan cairan kental dari vagina Reni..
Tiba-tiba Reni mengerakkan tangan kanannya ke atas dan memegang payudara ku yang sebelah kiri.. Dan tanpa disuruh segera dia meremas-remas payudaraku itu.. Oohh.. Aahh.. Aku mendesah merasakan nikmat.. Ooh.. Ren.. Rintih ku sembari menciumi paha Reni.. Yang putih mulus itu, Reni mengeliat lagi.. Kujilati paha Reni hingga lidahku menyentuh CD nya..
Aahh.. Nngkk.. Ahh.. Rintih Reni..
Lalu satu persatu kancing kemeja ku dilepasnya akupun segera beralih.. Ikut melepas kancing kemeja Reni.. Setelah itu kita berdua melepas kemeja kami bersama-sama.. Lalu bra kami pun kami lepas.. Reni pun memandangi payudaraku.. Sembari tersenyum..
“Nia..” serunya
“Mhmm”
“Payudara kamu gede yaa”
“Kamu juga” sahutku sembari mengelus-elus payudara Reni, lalu aku menciumi payudara Reni..
Oohh.. Reni mengelinjang lagi.. Akupun lalu mengisap-isap kedua puting payudara Reni, Reni hanya mengeliat-ngeliat saja keenakan.. Oohh.. Niaa.. Oohh.. Rintih Reni, tiba-tiba Reni menarik tubuhku hingga aku menindih tubuhnya.. Oohh.. Terasa hangat payudara Reni ketika dada kami saling bersentuhan.. Kamipun saling tersenyum.
Lalu tangan Reni turun kebawah dan melorotkan rok seragam sekolahku.. Akupun segera membantunya.. Hingga rok ku telepas dan kulempar ke atas karpet, lalu aku melorotkan rok Reni dan melempar juga ke atas karpet.. Kini tampak tubuh mulus Reni yang berbaring dihadapanku.. Kuperhatikan dari unjung rambut sampai ujung kaki Reni..
“Nia..”
“Ngk..”
“Jangan gitu dong” seru Reni.
“Kenapa..” sahutku sembari tersenyum padanya.
“Aku kan malu..” sahutnya dengan muka rada cemberut.
“Aku juga” sahutku.
Lalu Reni menarik tubuhku.. Dan kembali kami saling berpelukan.. Rupanya kami berdua sudah mencapai puncak rangsangan.. Bepelukan.. Berciuman.. Berguling kesana kemari sembari berpelukan.. Oohh.. Nikmatnya
Kini aku berada pada posisi dibawah.. Dan tubuh Reni menindih tubuku.. Lalu ia menciumi leherku.. Ouuhh.. Geli.. Akupun mengelinjang.. Dengan mata setengah terpejam.. Terus Reni beralih kedadaku dan dengan ganas mulai menjilati kedua payudaraku.. Ooh.. Aaakkhh.. Oohh.. Renn.. Renn.. Desahku dengan tubuh mengelinjang keenakan.. Apalagi ketika Reni mulai mempermainkan puting payudaraku dengan ujung lidahnya..
Aahh.. Bergetar hebat tubuhku merasakan nikmat itu.. Lalu jilatan Reni makin kebawah.. Kebawah.. Dan berhenti dipuserku.. Dan segera lidahnya bermain diatas puserku. Ooh.. Aku kembali mengelinjang.. Tapi tidak hanya sampai disitu.. tiba-tiba Reni memegang tepian celana dalam ku dan melorotkan CD ku itu hingga terlepas.. Lalu tampak dia memperhatikan kemaluanku yang terpampang di depan wajah nya.. Dielus-elusnya bulu2 kemaluanku yang masih sedikit itu.
Jantungku berdetak keras.. Aku merasa tegang.. Menunggu apa kira-kira yang akan dilakukan Reni.. Aaahh.. Desisku ketika Reni membenamkan wajahnya diselangkangku.. Oohh Renn.. Rennii.. Jeritku kecil ketika Reni mulai menjilati bibir vaginaku.. Nggkk.. Aakk.. Tubuhku mengelinjang hebat ketika lidah Reni mulai mempermainkan clitoris ku.. Kurapatkan kedua pahaku menjepit kepala Reni.. Tapi Reni tidak peduli.. Ia tampak asyik menjilati vaginaku.. Aku benar-benar merasa terbang.. Kedua tanganku hanya bisa meremas-remas sarung bantal.
Aku benar-benar merasakan nikmat luar biasa.. Baru kali ini aku merasakan dioral.. Nikmat sekali, dan akhirnya aku tidak bisa menahan nya lagi.. Sapuan lidah Reni pada vaginaku.. benar-benar membuat aku kelabakan.. Dan akhirnya aakk.. Ooh.. Reni.. Renii.. Aaakk.. Aku mengerang panjang dengan tubuh bergetar.. Kupegang kepala Reni dan kutekan kepala Reni hingga wajahnya terbenam diselangkanganku, rupanya aku telah mencapai klimaks.. Dan Reni terus saja menjilati cairan yang keluar dari vaginaku.. Oohh..
“Reni.. Ren..” seru ku dengan nafas masih memburu.
“Kenapa Nia..” jawabnya sembari tersenym padaku.
“Kamu.. Nakal ren”
“Kamu juga”
“Kamu..”
“Kamu juga”
Lalu aku menarik Reni ke atas tubuhku.. Dan wajahnya kini tepat dihadapan wajahku.. Tercium bau aroma kemaluanku dari mulut Reni.. Aku tersenyum.. Dan dia juga tersenyum.
“Gila Ren.. Aku belum pernah merasakan begini” seruku.
“Enak?”
“Enak.. Ren.. Enak” sahutku dengan nafas masih memburu.
Lalu kucium bibir Reni itu.. Dan dia membalas ciumanku itu.. Kupeluk tubuhnya dengan erat.. Dan kubalikkan tubuhnya hingga kini aku berada diatasnya..
“Gantian yaa.. Ren” seruku.
“Kamu mau..?” serunya.
“Mau..” jawabku.
“Benar?” tanyanya.
“Benar..” jawabku.
“Enggak jijik” tanyanya.
“Nggak” sahutku dengan tersenyum.
Padahal akupun tidak tahu apakah aku bisa.. Tapi rasanya kurang sempurna kalau aku belum memuaskan Reni.. Dan ini spontan aku lakukan. Lalu kupegang kedua tangan Reni.. Dan kupentangkan kedua tangan Reni kesamping.. Lalu aku mulai menciumi lehernya. Oooh.. Reni mengeliat keenakan.. Kuciumi.. Kujilati leher Reni.. Terus turun kedada.. Dan akhirnya ujung lidah ku bermain diatas puting payudara Reni.. Kulirik Reni.. Tampak dia memejamkan matanya.. Dan nafasnya juga mulai memburu..
Akupun terus menjilati dada Reni.. Terus kebawah.. Kebawah hingga kebagian pusernya.. Kujilati puser Reni itu.. Terasa beberapa kali tubuh Reni terhentak.. Ooh.. Niaa.. Aahh.. Desahnya, lalu aku beralih kebawah puser nya.. Tampak bulu-bulu kemaluan Reni yang masih jarang itu.. Dan bentuk kemaluannya.. Ouuhh.. Indahnya
Kujilati bibir kemaluan Reni.. Aaahh.. Reni mendesah. Terasa asin.. Tapi aku tidak peduli.. Kujilati terus.. Kupermainkan clitorisnya dengan ujung lidahku.. Ooh.. Nia.. Oohh.. Ampunn.. Ampunn.. Erang Reni dengan tubuh mengelinjang.. Mendengar erang Reni itu, aku tambah bernapsu.. Kujilati lagi belahan vagina Reni.. Yang masih virgin itu.. Dan hal ini membuat tubuh Reni tersentak-sentak.. Niaa.. Ampunn.. Nia.. Ampunn.. Erang nya.. Kedua tangannya segera mengacak-ngacak rambutku diremas-remasnya kepalaku.. Dan dicambak-cambaknya rambut ku.. Tapi aku menikmati.. Kusedot clitoris Reni.
Dan.. Aaakk.. Niaa.. Niaa.. Nggkk.. Reni mengerang panjang dengan tubuh mengejang.. Segera kedua pahanya menjepit kepalaku.. Dan seketika aku merasakan vagina Reni semakin basah.. Rupanya Reni telah mencapai klimaks.. Kujilati cairan itu.. Asin.. Tapi nikmat..
“Nia.. Niaa.. sudah Nia.. sudah..” seru Reni memelas.
Akupun tersenyum.. Lalu ia menarik tubuhku ke atas lagi dan dengan penuh gairan.. Dilumatnya bibirku.. Aku juga membalas melumat bibirnya.. Akhirnya kami berdua terbaring lemas bersebelahan.. Setelah beristirahat sejenak..
“Nia..” seru Reni.
“Mmhm..”
“Kamu nakal”
“Kamu juga”
“Kita sama-sama gila yaa” serunya.
“Sama-sama nakal” sahutku.
Lalu Reni menoleh padaku dan tersenyum.. “Kita mandi yuk”
Serunya, “Yuk..” lalu kami berdua bangun.. Tampak di TV sudah tidak ada gambar apa-apa lagi..
Kami mandi bersama.. Sembari becanda dan tertawa cekikikan.. Saling menyabuni dan saling iseng mencolek-colek.. Entah payudara entah keselangkangan..
Seusai mandi.. Ketika aku sedang mengeringkan rambutku dengan handuk.. tiba-tiba HP ku berbunyi..
“Halo.. Nia” terdengar suara cowokku.
“Halo sayank..” jawabku.
“Gimana nanti malam jadi enggak kita nonton?” serunya.
Akupun terdiam.. Kulihat Reni yang masih telanjang itu memandang ke arahku dengan penuh harap.
“Jangan nanti malam yaa” seruku.
“Loh kenapa..?” protes cowokku.
“Aku sekarang nginap dirumah Reni” seruku.
Tiba-tiba Reni menghampiriku dan merebut HP ku..”Hallo Mas” Serunya.. “Iya.. Nanti malam Nia nginap disini.. Boleh kan” serunya, aku hanya tersenyum saja memperhatikan itu. Lalu Reni menyerahkan HP ku itu kembali.
“Hallo..” seruku.
“Hallo.. Yaa.. sudah enggak apa-apa tapi besok siang aku jemput kamu yaa..” seru cowokku.
Setelah aku menutup telphon, Reni segera memelukku dan aku membalas pelukannya.. Oohh.. Indahnya.
Malam itu aku menginap dirumah Reni, kita makan malam bersama keluarga Reni.. Dan aku dipinjamkan daster oleh Reni. Dan malamnya sebelum tidur.. Kami meneruskan permainan sex kami, bahkan kami meniru beberapa adegan dalam film bokep yang kami tonton bersama.. Nikmat sekali.. Hingga akhirnya kami mencapai kepuasaan lagi, kelelahan dan tertidur sama-sama telanjang.. Dan saling berpelukan dibawah selimut.
Sejak kejadian itu.. Kami semakin akrab.. Di sekolah kami selalu bersama-sama.. Dan kami sering tidur bersama.. Entah dirumah Reni atau dirumahku.
Cowokku..? Ah.. Dia tidak mengetahui hubunganku dengan Reni.. Sampai sekarang.
Akhirnya akupun harus berpisah dengan Reni.. Dia disekolahkan oleh orang tuanya ke Jerman.. Sementara aku meneruskan kuliah disini.. Sampai saat aku menulis cerita ini.. Kami masih saling berhubungan surat.. Bukan itu saja.. Seminggu minimal 2x kami berkomunikasi via chating.. Tentu saja dengan voice dan webcam.. Sehingga kami bisa saling melepas rindu.. Oh.. Reniku.. Renitaku..
Apakah aku seorang lesbian??
Tamat
Read More
Posted in Uncategorized | No Comments »